Kerberoasting, Teknik Hacker Bobol Akun Tanpa Malware


Ilustrasi Network Security

Ilustrasi Network Security

Serangan siber tidak selalu dilakukan dengan menyebarkan malware atau mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak. Penyerang juga dapat memanfaatkan mekanisme autentikasi yang sebenarnya dirancang untuk melindungi jaringan perusahaan. Salah satu teknik yang perlu diwaspadai adalah Kerberoasting, sebuah metode pencurian kredensial yang menargetkan akun layanan dalam lingkungan Active Directory.

Teknik ini memungkinkan penyerang mendapatkan tiket autentikasi Kerberos, kemudian mencoba membobol kata sandi akun layanan secara offline. Jika berhasil, mereka dapat menyamar sebagai akun yang sah untuk mengakses berbagai sistem, layanan, hingga data penting milik organisasi.

Ancaman Kerberoasting menjadi perhatian karena serangan ini tidak selalu membutuhkan hak akses administrator. Bahkan, akun pengguna domain biasa yang telah terautentikasi dapat dimanfaatkan untuk memulai serangan. Kondisi tersebut membuat organisasi perlu memperhatikan keamanan identitas, pengelolaan kata sandi, serta aktivitas autentikasi di dalam jaringan.

Lantas, apa sebenarnya Kerberoasting, bagaimana cara kerjanya, dan langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan tersebut?

 

Mengenal Serangan Kerberoasting

Kerberoasting merupakan teknik serangan siber yang menargetkan protokol autentikasi Kerberos untuk memperoleh kredensial akun layanan atau service account di lingkungan Active Directory.

Kerberos sendiri merupakan protokol autentikasi jaringan yang digunakan untuk memverifikasi identitas pengguna maupun layanan sebelum memberikan akses ke sumber daya tertentu. Protokol ini banyak digunakan dalam lingkungan Windows dan jaringan perusahaan yang mengandalkan Active Directory.

Sementara itu, Active Directory merupakan layanan direktori yang membantu organisasi mengelola pengguna, komputer, akun, serta hak akses dalam jaringan. Melalui sistem ini, administrator dapat mengatur siapa saja yang berhak mengakses aplikasi, server, dan berbagai sumber daya perusahaan.

Dalam lingkungan Active Directory, terdapat komponen bernama Service Principal Name (SPN). SPN merupakan identitas unik yang digunakan untuk menghubungkan suatu layanan dengan akun yang menjalankannya. Ketika pengguna ingin mengakses layanan tertentu, sistem Kerberos akan menyediakan tiket autentikasi sebagai bukti bahwa pengguna tersebut telah berhasil diverifikasi.

Mekanisme inilah yang kemudian dimanfaatkan dalam serangan Kerberoasting.

Penyerang yang sudah memiliki akses ke akun domain dapat meminta tiket Kerberos untuk layanan yang memiliki SPN. Tiket tersebut dienkripsi menggunakan kunci yang berasal dari kata sandi akun layanan. Alih-alih mencoba membobol sistem secara langsung, penyerang mengambil tiket tersebut dan melakukan proses pembobolan kata sandi di luar jaringan korban atau secara offline.

Proses pembobolan biasanya menggunakan teknik brute force, yakni mencoba berbagai kombinasi kata sandi hingga menemukan kombinasi yang sesuai dengan hash kredensial yang diperoleh. Apabila berhasil mendapatkan kata sandi asli dalam bentuk teks biasa (plaintext), penyerang dapat menggunakannya untuk menyamar sebagai akun layanan yang bersangkutan.

Dengan identitas tersebut, penyerang berpotensi memperoleh akses ke berbagai sistem, layanan, maupun jaringan yang memang diizinkan untuk akun tersebut.

Hal yang membuat Kerberoasting berbahaya adalah aktivitas awalnya memanfaatkan mekanisme autentikasi yang sah. Permintaan tiket Kerberos bukanlah aktivitas ilegal dengan sendirinya sehingga tidak selalu langsung dianggap sebagai ancaman oleh sistem keamanan.

Selain itu, Kerberoasting tidak bergantung pada penggunaan malware. Akibatnya, perangkat antivirus tradisional mungkin tidak mampu mengenali serangan ini. Solusi keamanan berbasis identitas dan Endpoint Detection and Response (EDR) dapat membantu mengidentifikasi aktivitas mencurigakan, seperti permintaan tiket yang tidak wajar dan penyalahgunaan kredensial.

 

Mengapa Serangan Kerberoasting Berbahaya?

Salah satu alasan penyerang menggunakan Kerberoasting adalah kemampuannya memanfaatkan identitas pengguna yang sah untuk menghindari deteksi.

Ketika penyerang berhasil mendapatkan kredensial akun layanan, mereka tidak lagi harus selalu menggunakan metode eksploitasi yang dapat memicu peringatan keamanan. Mereka dapat masuk menggunakan identitas yang secara teknis memang memiliki izin untuk mengakses layanan tertentu.

Situasi ini membuat aktivitas penyerang berpotensi terlihat seperti kegiatan pengguna atau layanan normal.

Risikonya semakin besar apabila akun layanan yang berhasil dibobol memiliki hak akses tinggi. Penyerang dapat memanfaatkan akun tersebut untuk menjangkau sistem lain, mengakses informasi sensitif, atau bahkan mengambil alih bagian tertentu dari infrastruktur perusahaan.

Dalam serangan yang lebih kompleks, penyerang juga dapat melakukan dua teknik lanjutan, yaitu privilege escalation dan lateral movement.

Privilege escalation merupakan upaya meningkatkan hak akses agar penyerang memperoleh kewenangan yang lebih besar daripada sebelumnya. Sebagai contoh, akun dengan hak akses terbatas dapat diupayakan untuk memperoleh hak administrator.

Sementara itu, lateral movement merupakan teknik berpindah dari satu perangkat atau sistem ke perangkat lain di dalam jaringan yang sama.

Melalui kedua teknik tersebut, penyerang dapat memperluas jangkauan serangan. Mereka juga berpotensi mengumpulkan kredensial akun lain, memasang backdoor untuk mempertahankan akses, hingga mencuri data penting organisasi.

Dengan demikian, dampak Kerberoasting tidak hanya terbatas pada satu akun layanan. Jika akun yang berhasil dibobol memiliki hubungan dengan berbagai sistem penting, serangan dapat berkembang menjadi kompromi jaringan yang lebih luas.

 

Bagaimana Cara Kerja Serangan Kerberoasting?

Kerberoasting memanfaatkan kelemahan pengelolaan kata sandi akun layanan, khususnya kata sandi yang lemah, mudah ditebak, atau sudah lama tidak diperbarui. Risiko tersebut dapat meningkat ketika organisasi masih menggunakan standar enkripsi lama seperti RC4. Secara umum, serangan Kerberoasting berlangsung melalui tujuh tahapan berikut.

  1. Penyerang Mengidentifikasi Akun Active Directory
    Tahap pertama dimulai ketika penyerang menggunakan kredensial akun domain yang valid untuk mengidentifikasi akun Active Directory yang memiliki Service Principal Name (SPN). SPN menjadi target karena berfungsi sebagai identitas layanan yang terhubung dengan akun tertentu.

    Pada tahap ini, penyerang dapat memanfaatkan berbagai perangkat untuk mengumpulkan informasi mengenai akun layanan yang tersedia di lingkungan Active Directory. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan akun mana yang berpotensi menjadi sasaran.

  2. Meminta Tiket Layanan Kerberos
    Setelah menemukan akun yang memiliki SPN, penyerang mengajukan permintaan tiket layanan Kerberos atau Ticket Granting Service (TGS). Permintaan dapat dilakukan untuk satu atau beberapa akun layanan sekaligus. Beberapa perangkat yang dapat digunakan dalam aktivitas ini antara lain Rubeus dari GhostPack dan GetUserSPNs.py dari SecureAuth Corporation.

    Pada dasarnya, permintaan tiket TGS merupakan bagian normal dari mekanisme autentikasi Kerberos. Namun, dalam konteks Kerberoasting, tiket tersebut dimanfaatkan sebagai bahan untuk mencoba mendapatkan kata sandi akun layanan.

  3. Menerima Tiket dari Kerberos Key Distribution Center
    Setelah permintaan diproses, penyerang menerima tiket dari Kerberos Key Distribution Center (KDC). KDC merupakan komponen yang bertanggung jawab menangani proses autentikasi dan penerbitan tiket Kerberos dalam jaringan.

    Tiket layanan yang diterbitkan dienkripsi menggunakan kunci yang berasal dari kata sandi akun layanan terkait. Informasi terenkripsi inilah yang kemudian menjadi sasaran proses pembobolan.

  4. Mengambil Tiket untuk Dibobol Secara Offline
    Tahap berikutnya adalah mengambil tiket TGS yang telah diterima. Penyerang kemudian memindahkan tiket tersebut ke lingkungan terpisah untuk melakukan analisis dan pembobolan kata sandi. Disebut serangan offline karena proses menebak kata sandi tidak mengharuskan penyerang terus-menerus berkomunikasi dengan sistem autentikasi milik korban.

    Hal ini menjadi salah satu alasan Kerberoasting cukup sulit dideteksi. Aktivitas pembobolan kata sandi dapat berlangsung di luar jaringan perusahaan sehingga tidak selalu terlihat melalui pemantauan aktivitas jaringan secara langsung.

  5. Membobol Hash Kata Sandi
    Setelah mendapatkan tiket, penyerang mencoba menemukan kata sandi asli akun layanan dengan memecahkan hash kredensial. Teknik yang dapat digunakan antara lain brute force, yaitu mencoba berbagai kombinasi kata sandi sampai menemukan kecocokan.

    Penyerang juga dapat menggunakan perangkat seperti Hashcat dan John the Ripper untuk membantu proses tersebut. Keberhasilan tahap ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan kata sandi yang digunakan akun layanan serta metode enkripsi yang melindungi tiket. Kata sandi yang pendek, umum, dan mudah ditebak tentu lebih berisiko dibandingkan kata sandi panjang yang dibuat secara acak.

  6. Mengakses Akun Layanan
    Jika proses pembobolan berhasil, penyerang memperoleh kata sandi akun layanan dalam bentuk teks biasa. Kredensial tersebut kemudian dapat digunakan untuk mencoba melakukan autentikasi sebagai akun layanan yang telah disusupi. Apabila berhasil, penyerang bisa mendapatkan akses ke layanan, sistem, atau jaringan yang sebelumnya memang dapat diakses oleh akun tersebut.

    Pada tahap ini, serangan telah berkembang dari sekadar pencurian kredensial menjadi penyalahgunaan identitas untuk mengakses sumber daya organisasi.

  7. Melanjutkan Serangan di Dalam Jaringan
    Setelah memperoleh akses, penyerang dapat melanjutkan aksinya dengan berbagai cara. Mereka bisa mencuri data, meningkatkan hak akses, berpindah ke sistem lain, atau memasang backdoor agar tetap dapat masuk ke jaringan pada masa mendatang.

    Jika akun yang berhasil dibobol memiliki kewenangan besar, dampak serangan dapat menjadi lebih serius karena penyerang berpotensi menjangkau lebih banyak sumber daya perusahaan.

 

Siapa yang Bisa Menjadi Target Kerberoasting?

Ada beberapa karakteristik Kerberoasting yang perlu dipahami organisasi agar dapat mengenali potensi risikonya.

  • Pertama, serangan ini tidak membutuhkan akun Domain Admin. Penyerang cukup memiliki akun Domain User biasa yang sudah berhasil terautentikasi. Hal ini dimungkinkan karena setiap pengguna domain yang telah terautentikasi dapat mengajukan permintaan tiket layanan kepada TGS. Artinya, penyerang tidak harus terlebih dahulu menguasai akun administrator untuk memulai Kerberoasting.

  • Kedua, penyerang tetap membutuhkan akses awal ke akun pengguna yang valid. Akses tersebut bisa diperoleh melalui rekayasa sosial (social engineering), infeksi malware, maupun pembelian kredensial pengguna melalui dark web.

  • Ketiga, tingkat kerentanan akun juga dipengaruhi oleh jenis akun yang terhubung dengan SPN. SPN dapat dikaitkan dengan akun berbasis host maupun akun pengguna domain. Akun berbasis host umumnya menggunakan kata sandi berupa kunci panjang dan kompleks yang diperbarui secara otomatis setiap 30 hari atau lebih cepat. Kata sandi yang dihasilkan secara acak dan memiliki kompleksitas tinggi membuat proses pembobolan jauh lebih sulit.

    Sebaliknya, akun pengguna yang memiliki SPN sering kali menggunakan kata sandi yang dibuat secara manual oleh manusia. Kondisi ini meningkatkan risiko penggunaan kata sandi yang lemah, mudah ditebak, sudah usang, atau digunakan kembali pada beberapa akun. Dengan perangkat pembobol kata sandi yang canggih, kata sandi yang lemah bahkan dapat dibobol dalam hitungan jam.

Selain itu, Kerberoasting juga berkaitan dengan mekanisme autentikasi Active Directory. Pengguna domain yang telah terautentikasi dapat mengajukan permintaan TGS untuk berbagai layanan di jaringan.

Domain controller yang menerima permintaan tersebut umumnya tidak memeriksa apakah pengguna memiliki izin untuk mengakses layanan yang diminta sebelum menerbitkan tiket. Kondisi ini memungkinkan penyerang memperoleh tiket dari akun layanan dan mencoba membobolnya secara offline.

 

Cara Mendeteksi dan Mencegah Serangan Kerberoasting

Mencegah Kerberoasting tidak cukup hanya dengan mengandalkan antivirus atau sistem keamanan jaringan tradisional. Organisasi perlu memperkuat perlindungan identitas, mengelola akun layanan dengan benar, serta memantau aktivitas autentikasi secara berkelanjutan.

Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan.

1. Membangun Sistem Keamanan Identitas yang Menyeluruh
Keamanan identitas atau identity security menjadi salah satu pendekatan penting untuk menghadapi Kerberoasting. Pendekatan ini bertujuan melindungi seluruh identitas yang digunakan dalam lingkungan organisasi, baik identitas manusia maupun mesin, sistem lokal (on-premises) maupun hybrid, serta akun biasa maupun akun dengan hak akses istimewa.

Perlindungan tersebut diperlukan untuk mendeteksi dan mencegah serangan yang memanfaatkan identitas, terutama ketika penyerang berhasil melewati sistem keamanan endpoint. 

Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapannya.

  • Memperkuat kebijakan kata sandi
    Penggunaan kata sandi yang kuat merupakan langkah mendasar untuk mengurangi risiko Kerberoasting, khususnya pada akun layanan yang memiliki SPN. Kata sandi sebaiknya memiliki panjang minimal 14 karakter dan menggabungkan huruf besar, huruf kecil, angka, serta karakter khusus.Selain panjang dan kompleksitas, kata sandi juga harus dibuat secara acak. Hindari penggunaan kata, frasa, atau pola yang mudah dikenali.

    Organisasi juga perlu memperbarui kata sandi secara berkala untuk membatasi waktu yang dimiliki penyerang dalam mencoba membobol hash kredensial. Semakin panjang dan acak kata sandi, semakin sulit pula proses pembobolannya menggunakan teknik brute force.

  • Menggunakan enkripsi AES pada Kerberos
    Tim teknologi informasi (TI) perlu memastikan akun layanan mendukung pengaturan enkripsi Kerberos AES 128/256 bit. Penggunaan Advanced Encryption Standard (AES) untuk melindungi tiket layanan Kerberos memberikan perlindungan kriptografi yang lebih kuat dibandingkan standar enkripsi lama seperti RC4.Dengan demikian, proses pembobolan kredensial menjadi lebih sulit dilakukan.

  • Mengidentifikasi akun layanan dengan hak akses tinggi
    Organisasi perlu mengetahui akun layanan mana saja yang memiliki hak akses istimewa. Meskipun semua akun dapat menjadi target Kerberoasting, akun administrator memiliki risiko lebih besar karena memberikan kewenangan lebih luas terhadap sistem dan jaringan. Jika akun seperti ini berhasil dibobol, penyerang berpotensi mendapatkan akses yang jauh lebih besar.

  • Menghapus SPN dari akun pengguna biasa
    SPN sebaiknya tidak didaftarkan pada akun pengguna manusia apabila tidak benar-benar diperlukan. Dalam beberapa kasus, administrator atau pengembang secara manual maupun otomatis menghubungkan SPN dengan akun pengguna ketika memasang layanan atau perangkat lunak.

    Praktik tersebut dapat meningkatkan risiko Kerberoasting karena akun pengguna sering menggunakan kata sandi yang dibuat secara manual. Sebagai alternatif, organisasi dapat menggunakan akun layanan khusus atau Group Managed Service Accounts (gMSA).

  • Menerapkan Group Managed Service Accounts
    Group Managed Service Accounts
    (gMSA) merupakan mekanisme akun layanan yang memungkinkan pengelolaan kata sandi secara otomatis. Penggunaan gMSA membantu mengurangi ketergantungan pada pengelolaan kata sandi manual sekaligus menyediakan kontrol keamanan tambahan.

    Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, organisasi dapat mengurangi risiko penggunaan kata sandi yang lemah atau tidak diperbarui.

  • Memantau permintaan tiket Kerberos
    Pemantauan permintaan tiket Kerberos secara rutin dapat membantu tim keamanan mengenali aktivitas yang mengarah pada Kerberoasting.Beberapa pola yang perlu diwaspadai meliputi:

    • Permintaan TGS dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
    • Permintaan tiket untuk akun yang memiliki hak akses tinggi.
    • Permintaan yang berasal dari perangkat atau host tidak biasa.
    • Lonjakan permintaan tiket layanan secara tiba-tiba.
    • Permintaan tiket layanan yang dilakukan berulang kali.

    Aktivitas tersebut tidak selalu berarti serangan sedang berlangsung. Namun, pola yang tidak biasa perlu dianalisis lebih lanjut untuk memastikan apakah terdapat aktivitas mencurigakan.

  • Menerapkan prinsip least privilege
    Prinsip least privilege mengharuskan organisasi memberikan hak akses seminimal mungkin kepada setiap pengguna maupun akun layanan. Sebagai contoh, akun layanan yang hanya bertugas menjalankan aplikasi tertentu tidak seharusnya memiliki hak administrator apabila kewenangan tersebut tidak dibutuhkan.

    Pembatasan hak akses dapat mengurangi dampak apabila akun berhasil disusupi. Selain itu, langkah ini juga membatasi kemampuan penyerang untuk berpindah ke sistem lain di dalam jaringan.

  • Menggunakan autentikasi multifaktor
    Multi-Factor Authentication
    (MFA) memberikan lapisan perlindungan tambahan dalam proses autentikasi. Melalui MFA, pengguna perlu melewati lebih dari satu faktor verifikasi untuk membuktikan identitasnya.

    Penerapan mekanisme ini dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan kredensial yang dicuri. Namun, MFA tetap perlu dikombinasikan dengan pengamanan akun layanan, karena tidak semua jenis autentikasi akun layanan mendukung mekanisme MFA secara langsung.

  • Mengidentifikasi akun administrator yang tidak terpantau
    Banyak organisasi belum memiliki gambaran lengkap mengenai seluruh akun dengan hak akses istimewa. Masalah ini terutama ditemukan pada akun lama yang jarang digunakan atau sudah tidak aktif.

    Untuk membantu mengidentifikasi risiko tersebut, organisasi dapat menggunakan perangkat seperti BloodHound. BloodHound dapat menganalisis hubungan antaridentitas di Active Directory dan membantu menemukan akun layanan yang memiliki hak akses tinggi. Informasi yang dikumpulkan disimpan dalam basis data Neo4j dan dapat dianalisis menggunakan bahasa kueri Cypher.

    Melalui kueri tersebut, organisasi dapat mengidentifikasi akun layanan yang memiliki hak administrator lokal, baik secara langsung maupun melalui pendelegasian grup. BloodHound juga dapat digunakan untuk menemukan akun layanan yang tergabung dalam kelompok Active Directory tertentu, seperti Domain Admins.

  • Mengintegrasikan keamanan identitas dengan IAM dan Zero Trust
    Solusi keamanan identitas sebaiknya terintegrasi dengan sistem Identity and Access Management (IAM) serta arsitektur Zero Trust yang telah diterapkan organisasi. Integrasi ini membantu memperkuat pengelolaan identitas dan kontrol akses di berbagai sistem.

    Salah satu contoh solusi yang disebutkan adalah CrowdStrike Falcon Identity Protection. Platform ini menyediakan kemampuan audit identitas untuk memahami akun, protokol, dan layanan yang diakses setiap identitas.

    Falcon juga dapat diintegrasikan dengan solusi MFA dan IAM dari mitra untuk memperkuat keamanan identitas serta menerapkan autentikasi berdasarkan tingkat risiko.

2. Melakukan Proactive Threat Hunting
Selain memperkuat sistem keamanan, organisasi perlu menerapkan proactive threat hunting atau pencarian ancaman secara proaktif. Berbeda dengan pendekatan keamanan yang hanya menunggu munculnya peringatan, threat hunting dilakukan dengan secara aktif mencari indikasi serangan yang mungkin belum terdeteksi oleh sistem keamanan.

Pendekatan ini penting untuk menghadapi serangan yang memanfaatkan kredensial curian dan menyamar sebagai aktivitas pengguna yang sah. Salah satu contoh solusi adalah CrowdStrike Falcon OverWatch, yang menyediakan kemampuan pencarian ancaman selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.

Tim OverWatch memanfaatkan pengalaman dalam menghadapi kelompok Advanced Persistent Threat (APT) untuk menganalisis berbagai indikasi ancaman. Mereka mengevaluasi jutaan petunjuk aktivitas setiap hari guna menentukan apakah suatu aktivitas merupakan tindakan normal atau berbahaya.

Jika ancaman berhasil dikonfirmasi, tim akan memberikan peringatan kepada pelanggan sehingga organisasi dapat mengambil tindakan lebih cepat. Pendekatan ini juga membantu mengurangi kemungkinan munculnya peringatan palsu atau false positive.

3. Menggunakan Perlindungan Endpoint Generasi Terbaru
Pencurian kredensial merupakan salah satu teknik yang banyak dimanfaatkan penyerang karena dapat memberikan akses langsung ke sistem korban.

Karena itu, organisasi perlu memperkuat perlindungan endpoint, yaitu perangkat yang digunakan untuk mengakses jaringan perusahaan, seperti komputer dan server. Penggunaan solusi keamanan endpoint generasi terbaru atau next-generation endpoint protection dapat membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan yang tidak selalu dapat dikenali antivirus tradisional.

Salah satu contoh adalah platform CrowdStrike Falcon.

Kemampuan deteksi ancaman berbasis identitas pada platform tersebut dapat membantu mengenali perilaku autentikasi yang tidak normal, mendeteksi permintaan tiket Kerberos yang mencurigakan, serta mengidentifikasi penyalahgunaan kredensial secara real-time.

Dengan kemampuan tersebut, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk mendeteksi dan menghentikan ancaman sebelum berkembang menjadi serangan yang lebih luas.

 

Kesimpulan

Kerberoasting merupakan salah satu teknik serangan siber yang memanfaatkan mekanisme autentikasi Kerberos untuk mencuri kredensial akun layanan dalam lingkungan Active Directory.

Serangan ini patut diwaspadai karena tidak membutuhkan akun administrator untuk memulainya. Penyerang cukup memiliki akun domain yang telah terautentikasi untuk meminta tiket layanan Kerberos, kemudian mencoba membobol hash kata sandinya secara offline.

Jika berhasil, kredensial yang diperoleh dapat digunakan untuk menyamar sebagai akun layanan dan mengakses berbagai sumber daya yang memiliki keterkaitan dengan akun tersebut. Risiko Kerberoasting semakin besar ketika organisasi menggunakan kata sandi akun layanan yang lemah, tidak mengelola SPN dengan baik, atau memberikan hak akses berlebihan kepada akun layanan.

Karena itu, pencegahan perlu dilakukan melalui kombinasi beberapa pendekatan, mulai dari penggunaan kata sandi yang kuat, penerapan enkripsi AES, pengelolaan akun layanan menggunakan gMSA, pemantauan tiket Kerberos, hingga penerapan prinsip least privilege.

Organisasi juga perlu memperkuat keamanan identitas, melakukan threat hunting secara proaktif, dan menggunakan perlindungan endpoint generasi terbaru.

Pada akhirnya, keamanan jaringan perusahaan tidak cukup hanya bergantung pada perlindungan perangkat dan sistem. Pengelolaan identitas serta kredensial juga harus menjadi prioritas karena akun yang terlihat sah sekalipun dapat menjadi pintu masuk bagi penyerang untuk mengambil alih sistem dan mencuri data penting.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait