Apa Itu Serangan DoS? Kenali Cara Kerja dan Bahayanya di Internet
- Rita Puspita Sari
- •
- 20 jam yang lalu
Ilustrasi DoS Attack
Di tengah semakin bergantungnya aktivitas masyarakat pada layanan digital, ketersediaan situs web, aplikasi, dan server menjadi hal yang sangat penting. Gangguan selama beberapa menit saja dapat berdampak besar, terutama bagi layanan yang digunakan untuk transaksi, komunikasi, bisnis, maupun pelayanan publik.
Salah satu ancaman yang dapat membuat sebuah layanan digital tidak bisa diakses adalah Denial-of-Service (DoS). Serangan ini dirancang untuk mengganggu kinerja komputer, server, jaringan, atau situs web dengan cara membanjirinya menggunakan permintaan atau lalu lintas yang berlebihan.
Ketika sistem tidak lagi mampu menangani permintaan yang masuk, pengguna yang sebenarnya berhak mengakses layanan tersebut justru tidak dapat terhubung. Situs menjadi sangat lambat, aplikasi sulit digunakan, bahkan server bisa berhenti merespons.
Lantas, apa sebenarnya serangan DoS, bagaimana cara kerjanya, dan apa perbedaannya dengan DDoS?
Pengertian Serangan Denial-of-Service
Denial-of-Service (DoS) adalah serangan siber yang bertujuan membuat sebuah komputer, server, jaringan, situs web, atau layanan digital tidak tersedia bagi pengguna yang seharusnya dapat mengaksesnya.
Secara sederhana, pelaku berusaha membuat sistem target kewalahan. Caranya dapat dilakukan dengan mengirimkan permintaan atau paket data dalam jumlah besar sehingga sumber daya sistem terkuras dan tidak mampu melayani permintaan normal.
Sumber daya yang dimaksud dapat berupa kapasitas jaringan, memori, kemampuan pemrosesan CPU, hingga kapasitas aplikasi dalam menangani koneksi.
Bayangkan sebuah restoran yang hanya memiliki beberapa meja dan pelayan. Dalam kondisi normal, restoran mampu melayani pelanggan yang datang secara bergantian. Namun, jika tiba-tiba ribuan orang datang bersamaan dan semuanya meminta dilayani, kapasitas restoran akan kewalahan.
Pelanggan yang benar-benar ingin makan pun akhirnya harus menunggu lama atau bahkan tidak mendapatkan layanan. Prinsip sederhananya kurang lebih seperti itulah cara serangan DoS mengganggu sebuah sistem.
Dalam serangan DoS tradisional, serangan biasanya berasal dari satu komputer atau satu sumber. Karena hanya menggunakan satu sumber, kemampuan serangan sangat bergantung pada kapasitas perangkat dan koneksi yang dimiliki pelaku.
Bagaimana Serangan DoS Bekerja?
Tujuan utama serangan DoS adalah membuat kapasitas sistem target mencapai batas maksimal sehingga tidak dapat memproses permintaan tambahan. Pelaku dapat mengeksploitasi berbagai bagian dari sistem. Ada serangan yang memanfaatkan kelemahan perangkat lunak, sementara jenis lainnya mencoba menghabiskan kapasitas jaringan dengan mengirimkan lalu lintas dalam jumlah besar.
Ketika permintaan berbahaya terus berdatangan, server harus menggunakan sumber dayanya untuk memproses permintaan tersebut. Jika beban melebihi kemampuan server, kinerja sistem akan menurun.
Pada tahap awal, pengguna mungkin hanya merasakan situs yang menjadi lambat. Jika serangan semakin berat, halaman bisa gagal dimuat, koneksi terputus, aplikasi tidak merespons, dan dalam kondisi tertentu server dapat mengalami crash.
Yang menjadi masalah adalah lalu lintas berbahaya tersebut dapat bercampur dengan lalu lintas pengguna normal. Server tidak selalu dapat langsung membedakan mana permintaan yang sah dan mana yang merupakan bagian dari serangan.
Dua Jenis Utama Serangan DoS
Secara umum, serangan DoS dapat dikelompokkan berdasarkan cara pelaku membuat sistem target kehilangan kemampuannya untuk memberikan layanan. Dua kelompok yang sering dibahas adalah buffer overflow dan flood attack.
-
Buffer Overflow
Buffer overflow terjadi ketika data yang diberikan kepada sebuah program melebihi kapasitas ruang memori yang telah disediakan. Dalam kondisi normal, sistem memiliki batas tertentu untuk menyimpan dan memproses data. Namun, apabila program tidak menangani data secara tepat, kelebihan data dapat menimbulkan masalah pada penggunaan memori dan sumber daya lainnya.Serangan yang memanfaatkan kondisi tersebut dapat menyebabkan komputer atau server menggunakan sumber daya secara berlebihan. Dampaknya bisa berupa kinerja sistem yang sangat lambat, aplikasi berhenti bekerja, hingga sistem mengalami crash.
Buffer overflow juga dikenal sebagai salah satu bentuk kerentanan keamanan perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Dalam konteks DoS, tujuannya adalah membuat sistem tidak mampu memberikan layanan secara normal.
-
Flood Attack
Jenis berikutnya adalah flood attack, yaitu serangan yang dilakukan dengan membanjiri target menggunakan lalu lintas atau paket data dalam jumlah sangat besar. Server memiliki kemampuan terbatas dalam menerima dan memproses lalu lintas. Jika jumlah permintaan yang datang jauh melebihi kapasitas tersebut, sumber daya server dapat terkuras.Akibatnya, permintaan dari pengguna normal tidak memperoleh sumber daya yang cukup untuk diproses. Situs web pun dapat menjadi lambat atau tidak dapat diakses sama sekali. Keberhasilan serangan flood sangat dipengaruhi oleh kapasitas lalu lintas yang dapat dikirimkan pelaku dibandingkan dengan kemampuan target dalam menerimanya.
Contoh Serangan DoS yang Pernah Dikenal
Serangan DoS bukanlah ancaman baru dalam dunia keamanan siber. Berbagai metode telah digunakan sejak perkembangan internet dan jaringan komputer masih berada pada tahap awal.
Beberapa jenis serangan DoS yang dikenal secara historis antara lain Smurf Attack, Ping Flood, dan Ping of Death.
-
Smurf Attack
Smurf Attack merupakan serangan DoS yang memanfaatkan mekanisme broadcast pada jaringan tertentu. Dalam serangan ini, pelaku dapat mengirim paket dengan alamat sumber yang dipalsukan. Paket tersebut kemudian dapat diteruskan kepada sejumlah perangkat dalam jaringan.Jika banyak perangkat memberikan respons terhadap paket tersebut, lalu lintas yang dihasilkan dapat mengarah kepada target dan membuatnya kewalahan. Metode ini memanfaatkan kelemahan dalam konfigurasi dan mekanisme jaringan. Seiring berkembangnya teknologi jaringan serta penerapan pengamanan yang lebih baik, teknik seperti ini menjadi lebih sulit dilakukan dibandingkan sebelumnya.
-
Ping Flood
Ping flood menggunakan paket ICMP, yang biasanya digunakan untuk melakukan ping atau menguji keterhubungan sebuah perangkat dalam jaringan. Dalam kondisi normal, ping merupakan alat diagnostik yang berguna bagi administrator jaringan. Namun, jika target dibanjiri permintaan ping dalam jumlah berlebihan, perangkat dapat menghabiskan sumber dayanya untuk menangani permintaan tersebut.Jika jumlah permintaan melebihi kemampuan sistem dalam memprosesnya, kinerja perangkat dapat menurun dan layanan menjadi terganggu. Konsep serupa juga dapat digunakan dalam serangan DDoS dengan melibatkan banyak sumber secara bersamaan.
-
Ping of Death
Meskipun namanya mirip dengan ping flood, Ping of Death memiliki mekanisme yang berbeda. Serangan ini melibatkan pengiriman paket data yang dibuat secara tidak normal kepada sistem target. Pada sistem yang memiliki kerentanan tertentu, paket tersebut dapat menyebabkan gangguan serius, termasuk membuat sistem menjadi tidak stabil atau mengalami crash.Serangan seperti Ping of Death menjadi contoh bagaimana kelemahan dalam cara sebuah sistem menangani paket jaringan dapat dimanfaatkan untuk mengganggu ketersediaan layanan.
Apa Tanda-Tanda Serangan DoS?
Salah satu tantangan dalam mendeteksi serangan DoS adalah gejalanya dapat terlihat seperti gangguan jaringan biasa. Situs web yang lambat, misalnya, belum tentu disebabkan oleh serangan siber. Penyebabnya bisa saja karena jumlah pengunjung sedang meningkat, koneksi internet bermasalah, server mengalami gangguan teknis, atau terdapat masalah pada penyedia layanan.
Namun, beberapa kondisi patut dicurigai jika terjadi secara tiba-tiba dan tidak biasa. Salah satu tanda yang umum adalah kinerja jaringan menjadi sangat lambat. Pengguna mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka situs, mengunduh file, atau menggunakan aplikasi.
Tanda lainnya adalah situs web atau layanan tertentu tiba-tiba tidak dapat diakses. Dalam beberapa kasus, halaman terus mencoba dimuat tetapi tidak pernah berhasil terbuka. Gangguan juga dapat terjadi pada beberapa perangkat yang berada dalam jaringan yang sama. Koneksi yang tiba-tiba terputus atau menjadi sangat lambat dapat menjadi indikator adanya masalah pada jaringan.
Administrator jaringan biasanya perlu melihat pola lalu lintas, penggunaan sumber daya server, jumlah koneksi, serta log sistem untuk memastikan apakah gangguan tersebut benar-benar disebabkan oleh serangan DoS.
DoS dan DDoS, Apa Bedanya?
Istilah DoS dan DDoS sering digunakan secara bergantian karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mengganggu ketersediaan layanan. Namun, terdapat perbedaan penting di antara keduanya. Perbedaan utamanya adalah jumlah sumber yang digunakan untuk melakukan serangan.
Pada serangan DoS, lalu lintas serangan umumnya berasal dari satu sumber. Sementara itu, DDoS merupakan singkatan dari Distributed Denial-of-Service, yaitu serangan yang berasal dari banyak sumber yang tersebar. Dengan menggunakan banyak sumber, serangan DDoS dapat menghasilkan lalu lintas yang jauh lebih besar dan membuat pertahanan terhadap serangan menjadi lebih kompleks.
Sumber tersebut dapat berupa banyak komputer atau perangkat yang telah terinfeksi malware dan dikendalikan oleh pelaku. Kumpulan perangkat semacam ini disebut botnet. Karena lalu lintas berasal dari banyak perangkat dan lokasi, memblokir satu alamat sumber saja tidak cukup untuk menghentikan serangan DDoS.
Botnet merupakan jaringan perangkat yang telah terinfeksi atau berhasil dikendalikan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Perangkat yang menjadi bagian dari botnet dapat berupa komputer, server, perangkat IoT, router, kamera keamanan, atau perangkat lain yang terhubung ke internet.
Setelah berhasil dikendalikan, perangkat tersebut dapat diperintahkan untuk mengirimkan lalu lintas ke target tertentu. Inilah yang membuat DDoS menjadi lebih berbahaya dibandingkan DoS biasa. Pelaku tidak harus mengandalkan kemampuan satu komputer untuk menghasilkan seluruh lalu lintas serangan.
Mengenal Serangan "Low and Slow"
Tidak semua serangan DoS membutuhkan lalu lintas dalam jumlah luar biasa besar. Ada pula serangan yang dikenal sebagai "low and slow", yaitu serangan yang mencoba menghabiskan sumber daya server secara perlahan dengan mempertahankan koneksi atau permintaan dalam waktu tertentu.
Salah satu contoh yang sering disebut adalah Slowloris.
Metode semacam ini menunjukkan bahwa serangan DoS tidak selalu identik dengan banjir data dalam jumlah sangat besar. Sistem dengan kapasitas besar sekalipun dapat terganggu apabila penyerang menemukan cara untuk menghabiskan sumber daya tertentu secara efisien.
Mengapa Serangan DoS Berbahaya?
Dampak serangan DoS terutama berkaitan dengan ketersediaan layanan. Bagi perusahaan, situs web yang tidak dapat diakses dapat menyebabkan pelanggan gagal melakukan transaksi atau mengakses informasi. Bagi layanan publik, gangguan dapat menghambat masyarakat memperoleh layanan digital.
Dampaknya juga dapat berupa kerugian finansial, terganggunya operasional, menurunnya produktivitas, hingga rusaknya kepercayaan pengguna. Serangan yang berlangsung lama atau dilakukan berulang kali juga dapat membuat tim keamanan harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk melakukan mitigasi dan memulihkan layanan.
Karena itu, ketersediaan layanan kini menjadi salah satu aspek penting dalam keamanan informasi, bersama dengan kerahasiaan dan integritas data.
Bagaimana Cara Menghadapi Serangan DoS?
Menghadapi serangan DoS membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan jenis serangan dan infrastruktur yang digunakan.
Administrator dapat memantau lalu lintas jaringan dan penggunaan sumber daya server untuk menemukan pola yang tidak normal. Sistem juga dapat dilengkapi dengan mekanisme pembatasan permintaan agar satu sumber tidak dapat menggunakan sumber daya secara berlebihan.
Untuk layanan yang memiliki risiko serangan tinggi, organisasi dapat menggunakan sistem mitigasi DoS dan DDoS yang dirancang untuk menyaring lalu lintas berbahaya sebelum mencapai server utama. Penggunaan Content Delivery Network (CDN), firewall aplikasi web, sistem pemantauan, serta konfigurasi jaringan yang tepat juga dapat membantu mengurangi dampak serangan.
Selain teknologi, pembaruan perangkat lunak dan sistem operasi juga penting. Kerentanan yang sudah diketahui sebaiknya segera diperbaiki agar tidak dapat dimanfaatkan untuk mengganggu sistem.
Kesimpulan
Serangan Denial-of-Service (DoS) pada dasarnya merupakan upaya untuk membuat sebuah layanan digital tidak dapat digunakan oleh pengguna yang sah. Caranya dapat dilakukan dengan membanjiri sistem menggunakan permintaan atau lalu lintas berlebihan maupun dengan mengeksploitasi kelemahan tertentu pada perangkat lunak atau sistem.
DoS biasanya menggunakan satu sumber serangan, sedangkan DDoS memanfaatkan banyak sumber. Salah satu sumber yang umum digunakan dalam DDoS adalah botnet, yakni kumpulan perangkat yang telah dikendalikan penyerang.
Gejala serangan dapat berupa jaringan yang tiba-tiba lambat, situs tidak dapat diakses, koneksi terganggu, hingga server berhenti merespons. Meski gejala tersebut tidak selalu berarti serangan siber, kondisi yang muncul secara tiba-tiba dan tidak wajar perlu diperiksa lebih lanjut.
Memahami DoS dan DDoS penting bagi pengguna maupun pengelola layanan digital. Semakin banyak aktivitas bergantung pada internet, semakin penting pula memastikan layanan tetap tersedia, stabil, dan mampu menghadapi berbagai bentuk gangguan keamanan siber.
