BeyondTrust Soroti Ancaman AI dan Identity Security di Healthcare
- Rita Puspita Sari
- •
- 9 jam yang lalu
Imelda Abdi Country Sales Manager BeyondTrust dalam Acara CIO Healthcare Summit 2026
Transformasi digital telah mengubah wajah industri kesehatan. Rumah sakit kini mengandalkan rekam medis elektronik, layanan telemedicine, perangkat medis yang terhubung ke jaringan, hingga kecerdasan buatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah besar, yakni menjaga keamanan identitas digital dan hak akses terhadap sistem yang semakin kompleks.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam CIO Healthcare Summit 2026. Dalam kesempatan itu, Country Sales Manager BeyondTrust, Imelda Abdi, menjelaskan bahwa ancaman siber terhadap sektor kesehatan kini tidak lagi sekadar berupaya membobol sistem, tetapi mengejar sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yakni hak akses istimewa (privileged access).
Menurut Imelda, pelaku kejahatan siber saat ini tidak hanya ingin memperoleh akses masuk ke jaringan organisasi.
"Penyerang tidak lagi sekadar mencari akses. Mereka menginginkan kekuasaan. Ketika hak akses istimewa berhasil dikuasai, risiko keamanan langsung berubah menjadi risiko bisnis," ujar Imelda Abdi.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan pola serangan siber yang kini lebih berorientasi pada penguasaan identitas digital. Begitu akun dengan hak akses tinggi berhasil diambil alih, penyerang dapat bergerak bebas di dalam jaringan, mencuri data, melumpuhkan layanan, hingga menjalankan ransomware yang berdampak besar terhadap operasional rumah sakit.
Industri Kesehatan Masuk Daftar Target Utama Serangan Siber
Berdasarkan berbagai laporan keamanan siber global sepanjang 2025, seperti IBM X-Force Threat Intelligence Index, CloudSEK Cyber Threat Report, KELA Ransomware Intelligence Report, serta Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR), sektor kesehatan menempati posisi kedua sebagai industri yang paling sering menjadi sasaran serangan siber.
Daftar lima sektor yang paling banyak menjadi target meliputi industri manufaktur, layanan kesehatan, sektor keuangan, pemerintahan, serta energi dan infrastruktur kritis.
Tingginya posisi sektor kesehatan bukan tanpa alasan. Rumah sakit menyimpan informasi yang sangat bernilai sekaligus memiliki lingkungan TI yang sangat kompleks sehingga memberikan banyak peluang bagi pelaku serangan.
Rekam Medis Menjadi "Emas" bagi Penjahat Siber
Imelda menjelaskan bahwa data pasien memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan informasi pribadi biasa. Satu rekam medis tidak hanya berisi nama dan alamat pasien, tetapi juga identitas lengkap, riwayat penyakit, informasi asuransi, hingga berbagai data sensitif lainnya. Berbeda dengan kata sandi yang dapat diganti, data kesehatan tidak bisa diubah ketika telah bocor.
"Medical record adalah aset yang sangat berharga. Ketika informasi tersebut dicuri, korbannya tidak bisa sekadar mengganti data seperti mengganti password," kata Imelda.
Nilai tinggi inilah yang membuat rumah sakit menjadi sasaran empuk bagi kelompok ransomware maupun pelaku pencurian identitas digital.
Ledakan Identitas Digital Memperluas Permukaan Serangan
Selain meningkatnya jumlah pengguna manusia, organisasi kini juga menghadapi pertumbuhan identitas non-manusia (non-human identities).
Menurut BeyondTrust, saat ini satu identitas manusia dapat berhubungan dengan puluhan identitas non-manusia, mulai dari akun layanan (service account), aplikasi otomatis, perangkat IoT, sistem cloud, API, hingga agen AI yang bekerja secara mandiri.
Perkembangan AI semakin memperbesar tantangan tersebut karena agen AI kini mampu menjalankan berbagai tugas secara otomatis dengan menggunakan kredensial tertentu.
Imelda menggambarkan kondisi tersebut sebagai ledakan permukaan serangan terbesar yang pernah terjadi.
"Dulu menjaga identitas manusia saja sudah menjadi tantangan besar. Kini organisasi juga harus mengelola identitas mesin dan AI agent yang jumlahnya terus bertambah. Karena itu, identitas menjadi satu-satunya perimeter keamanan yang benar-benar harus dijaga," jelasnya.
Artinya, keamanan siber tidak lagi hanya bergantung pada firewall atau perlindungan jaringan, melainkan pada kemampuan organisasi mengendalikan siapa yang memiliki akses terhadap sistem serta sejauh mana hak akses tersebut digunakan.

Kompleksitas Sistem Rumah Sakit Menjadi Celah Keamanan
Rumah sakit memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan industri lainnya. Berbagai perangkat medis harus beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Banyak sistem masih menggunakan aplikasi lama (legacy system) yang sulit diperbarui karena berpotensi mengganggu layanan medis.
Di sisi lain, rumah sakit juga bergantung pada banyak vendor eksternal untuk pemeliharaan alat kesehatan maupun aplikasi klinis. Vendor-vendor tersebut umumnya membutuhkan akses jarak jauh ke sistem rumah sakit.
Selain itu, masih banyak organisasi yang menggunakan akun bersama (shared credentials), hak administrator lokal yang berlebihan, serta jaringan yang belum tersegmentasi dengan baik.
Kondisi tersebut membuka banyak pintu masuk bagi penyerang.
Menurut Imelda, satu akun vendor yang berhasil diretas dapat menjadi titik awal penyusupan ke seluruh lingkungan rumah sakit apabila tidak disertai pengawasan dan pencatatan aktivitas yang memadai.
Dampak Serangan Tidak Hanya Soal Data
Serangan siber terhadap rumah sakit memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius dibandingkan organisasi biasa. Jika ransomware berhasil mengenkripsi sistem rumah sakit, dampaknya tidak hanya berupa hilangnya data.
Operasi dapat tertunda, layanan gawat darurat dialihkan ke rumah sakit lain, laboratorium berhenti beroperasi, hingga pelayanan pasien menjadi terganggu selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
"Kerusakan terbesar bukan hanya soal uang tebusan. Keselamatan pasien dapat terdampak ketika sistem kritis tidak dapat diakses," ungkap Imelda.
Selain itu, rumah sakit juga harus menghadapi biaya pemulihan sistem, investigasi forensik digital, pemberitahuan kebocoran data kepada pasien, potensi sanksi regulator, hingga gugatan hukum akibat pelanggaran privasi. Dalam jangka panjang, insiden keamanan juga berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi layanan kesehatan tersebut.
Minim Visibilitas Membuat Dampak Serangan Semakin Besar
Salah satu persoalan yang paling sering ditemukan adalah kurangnya visibilitas terhadap seluruh identitas digital yang dimiliki organisasi. Akun administrator, akun layanan, hingga akun yang sudah tidak digunakan sering kali tersebar di berbagai lingkungan, mulai dari pusat data lokal, cloud, hingga layanan Software-as-a-Service (SaaS).
Apabila akun-akun tersebut tidak dipantau, organisasi akan kesulitan mengetahui sejauh mana penyerang telah bergerak di dalam jaringan.
"Tanpa visibilitas dan kontrol, organisasi tidak akan mengetahui seberapa jauh penyerang telah masuk ke dalam sistem. Akibatnya, insiden kecil dapat berkembang menjadi gangguan yang melumpuhkan seluruh operasional rumah sakit," jelas Imelda.
Karena itulah, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk memantau seluruh identitas digital secara menyeluruh, termasuk akun-akun yang selama ini tidak terlihat.
Hak Administrator Lokal Masih Menjadi Pintu Masuk Ransomware
BeyondTrust juga menyoroti masih banyaknya komputer kerja di rumah sakit yang menggunakan hak administrator lokal secara penuh. Perangkat yang digunakan oleh perawat, laboratorium, maupun bagian radiologi sering kali memiliki hak akses yang terlalu tinggi.
Apabila salah satu pengguna menjadi korban phishing, malware dapat dengan mudah memperoleh hak administrator dan menyebar ke berbagai sistem penting. Risiko tersebut dapat menyebabkan ransomware mengunci sistem klinis utama, mengganggu layanan operasi, hingga memperlambat penanganan pasien darurat.
Pengelolaan Hak Akses Menjadi Fondasi Keamanan
Untuk mengurangi risiko tersebut, BeyondTrust menekankan pentingnya penerapan prinsip least privilege, yaitu memberikan hak akses seminimal mungkin sesuai kebutuhan pekerjaan.
Selain itu, akses vendor pihak ketiga perlu diawasi secara ketat melalui mekanisme pencatatan sesi, autentikasi yang lebih kuat, serta pembatasan akses berdasarkan waktu dan kebutuhan. Imelda menegaskan bahwa pengelolaan identitas harus menjadi bagian utama dari strategi keamanan siber rumah sakit.
"Mengendalikan endpoint, mengontrol hak akses istimewa, dan melihat seluruh identitas dalam organisasi merupakan fondasi untuk menutup celah privileged access. Ketika ketiga kemampuan ini berjalan bersama, organisasi kesehatan memiliki pertahanan yang jauh lebih kuat terhadap ancaman siber modern," tutup Imelda.
Di tengah semakin luasnya adopsi AI, cloud computing, dan layanan kesehatan digital, keamanan identitas diperkirakan akan menjadi prioritas utama organisasi kesehatan. Rumah sakit tidak lagi cukup hanya memperkuat jaringan, tetapi juga harus memastikan setiap identitas, baik manusia, mesin, maupun agen AI, berada dalam pengawasan yang ketat agar transformasi digital dapat berjalan secara aman, berkelanjutan, dan tetap menjaga keselamatan pasien.
