BSI Ungkap Kunci Bangun Kepercayaan Lewat Keamanan Data


Andri Purnomo Chief Information Security Officer BSI

Andri Purnomo Chief Information Security Officer PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk dalam Acara Data Security Summit 2026

Transformasi digital telah mengubah cara organisasi membangun hubungan dengan pelanggan. Jika dahulu kepercayaan lahir dari interaksi tatap muka dan pelayanan langsung di kantor cabang, kini kepercayaan dibangun melalui bagaimana organisasi mengelola, melindungi, dan menghormati data yang dipercayakan oleh masyarakat.

Perubahan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Chief Information Security Officer (CISO) PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), Andri Purnomo, dalam ajang Data Security Summit 2026. Dalam paparannya bertajuk Andri membagikan pengalaman BSI membangun tata kelola keamanan, privasi, dan kepatuhan data sebagai fondasi utama transformasi digital.

Menurut Andri, keamanan data saat ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknologi informasi. Di era ekonomi digital, keamanan telah berkembang menjadi bagian dari tata kelola perusahaan, manajemen risiko, kepatuhan regulasi, hingga faktor yang menentukan kepercayaan publik terhadap sebuah organisasi.

"Keamanan bukan sekadar melindungi sistem atau memenuhi regulasi. Keamanan adalah wujud menjaga amanah. Setiap data yang dipercayakan kepada kami adalah kepercayaan yang harus kami jaga hari ini, besok, dan di masa depan," ujar Andri.

 

Kepercayaan Berubah dari Tatap Muka Menjadi Data

Andri menjelaskan bahwa perjalanan transformasi digital sesungguhnya adalah perjalanan perubahan cara organisasi membangun kepercayaan.

Pada masa lalu, hubungan antara bank dan nasabah dibangun melalui interaksi langsung. Kantor cabang menjadi simbol kepercayaan, sementara hubungan personal antara petugas bank dan nasabah menjadi aset utama. Namun lanskap itu berubah drastis ketika layanan digital berkembang.

Kini hampir seluruh aktivitas perbankan dilakukan melalui aplikasi, mulai dari pembukaan rekening, transfer dana, investasi, pembayaran, hingga pengajuan pembiayaan. Menurut Andri, perubahan tersebut melahirkan tiga fase evolusi kepercayaan.

Fase pertama adalah Physical Trust, ketika kepercayaan lahir dari interaksi fisik. Kemudian berkembang menjadi Digital Trust, saat pengalaman menggunakan aplikasi menjadi penentu loyalitas pelanggan.

Kini dunia memasuki fase Data Trust, yaitu kondisi ketika kepercayaan masyarakat sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan organisasi melindungi, mengelola, serta menghormati data pribadi pelanggan.

"Transformasi digital tidak akan pernah berhasil tanpa kepercayaan. Dan kepercayaan hari ini dibangun dari bagaimana organisasi memperlakukan data yang dipercayakan kepadanya," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa digitalisasi telah mengubah hampir seluruh proses bisnis. Setiap layanan kini berawal dari data. Setiap inovasi juga lahir dari data. Karena itu, data telah berkembang menjadi aset paling strategis yang dimiliki organisasi.

 

Data Menjadi Aset Strategis

Dalam era digital, data bukan lagi sekadar hasil transaksi, melainkan aset strategis yang menjadi fondasi pengambilan keputusan, inovasi produk, hingga peningkatan kualitas layanan.

Andri menjelaskan bahwa hampir seluruh layanan digital modern bergantung pada data, mulai dari proses pembukaan rekening, verifikasi identitas, transaksi keuangan, hingga personalisasi layanan kepada nasabah.

Karena itu, organisasi tidak hanya dituntut menghadirkan layanan yang cepat dan inovatif, tetapi juga mampu menjamin keamanan serta privasi data pelanggan.

"Fitur bisa disamakan, harga bisa ditiru, tetapi kepercayaan tidak bisa dikloning. Itulah yang menjadi pembeda utama sebuah organisasi di era digital," ujarnya.

Ia juga mengutip hasil studi McKinsey Global Digital Banking Conference 2025 yang menunjukkan bahwa bank yang memperoleh tingkat kepercayaan tinggi mampu tumbuh sekitar 7,8 kali lebih cepat, sementara hanya sekitar 18 persen nasabah yang bersedia berpindah dari bank yang benar-benar mereka percaya.

 

Mengapa Perbankan Menjadi Target Favorit Penjahat Siber?

Di sisi lain, meningkatnya digitalisasi juga membuat industri keuangan menjadi sasaran utama serangan siber. Menurut Andri, alasan utamanya bukan semata-mata karena uang. Yang jauh lebih berharga justru adalah data.

Informasi rekening, histori transaksi, portofolio investasi, hingga data identitas pelanggan memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar gelap digital. Selain itu  data KYC dapat dimanfaatkan untuk berbagai modus pencurian identitas maupun penipuan lintas platform.

Belum lagi jutaan transaksi yang berlangsung setiap hari menciptakan titik serangan yang semakin luas.

"Yang sedang diperebutkan bukan sekadar sistem teknologi, yang sedang dipertaruhkan adalah seluruh rantai nilai kepercayaan. Ketika serangan berhasil, yang rusak bukan hanya sistem, tetapi reputasi organisasi yang dibangun selama bertahun-tahun." katanya.

Di tengah ketatnya regulasi seperti Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), ketentuan OJK, hingga standar internasional, kegagalan melindungi data juga dapat berujung pada sanksi hukum dan hilangnya kepercayaan publik.

 

Modernisasi Core Banking Harus Dimulai dari Keamanan

Pengalaman BSI dalam melakukan modernisasi sistem inti perbankan menjadi salah satu contoh bahwa inovasi digital tidak boleh berjalan sendiri tanpa penguatan aspek keamanan.

Andri menjelaskan bahwa perjalanan transformasi BSI dilakukan melalui lima tahapan utama, yakni transformasi digital, modernisasi core banking, security assurance, peningkatan operational resilience, hingga akhirnya membangun kepercayaan pelanggan.

Menurutnya, keamanan harus dibangun sejak tahap perancangan sistem, bukan menjadi tambahan setelah layanan selesai dikembangkan.

"Modernisasi core banking hanya memiliki makna apabila dilakukan tanpa mengorbankan keamanan. Keamanan harus menjadi bagian dari desain sejak hari pertama," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman siber terhadap Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data BSSN selama tujuh bulan pertama 2025 menunjukkan sekitar 83,68 persen serangan siber di Indonesia masih didominasi malware. Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya mengenali aset digital paling berharga sebelum menentukan strategi perlindungan.

 

Semua Orang Bertanggung Jawab Menjaga Data

Salah satu perubahan paradigma yang ditekankan Andri adalah bahwa keamanan data tidak lagi menjadi tanggung jawab eksklusif divisi teknologi informasi. Menurutnya, hampir seluruh unit bisnis menggunakan data dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pemasaran, operasional, keuangan, hingga layanan pelanggan. 

Karena itu, seluruh fungsi organisasi memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keamanan data.

"Semua menggunakan data, maka semua bertanggung jawab menjaga data. Data ownership melekat pada fungsi bisnis, bukan hanya pada CISO atau CIO," katanya.

Ia menambahkan bahwa pengelolaan data bukan lagi sekadar pusat biaya (cost center), melainkan disiplin lintas fungsi yang menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap organisasi.

Andri Purnomo Chief Information Security Officer PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk dalam Acara  Data Security Summit 2026

Amanah Menjadi Fondasi Digital Trust BSI

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI membangun kerangka Digital Trust Framework yang bertumpu pada satu nilai utama, yakni amanah. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam empat pilar utama, yaitu Security, Privacy, Compliance, dan Amanah.

Framework itu tidak berhenti sebagai dokumen kebijakan.

BSI menerapkannya melalui tata kelola keamanan, pemetaan aset paling kritikal, penerapan arsitektur Zero Trust, operasional Security Operations Center (SOC) selama 24 jam, hingga evaluasi berkelanjutan terhadap setiap insiden keamanan.

"Framework tanpa implementasi hanyalah kertas. Yang membuatnya hidup adalah bagaimana seluruh organisasi menjalankannya secara konsisten setiap hari," ujar Andri.

 

Bersiap Menghadapi Era AI dan Quantum

Selain menghadapi ancaman saat ini, BSI juga mulai menyiapkan fondasi menghadapi era AI dan komputasi kuantum. Roadmap keamanan siber yang disusun perusahaan mencakup penguatan AI Governance, Identity Security, Data-centric Security, Cryptographic Agility, hingga Quantum Readiness.

Dalam tata kelola AI, BSI mengacu pada NIST AI Risk Management Framework dan EU AI Act, sementara pada aspek kriptografi perusahaan mulai mempersiapkan adopsi standar Post-Quantum Cryptography (PQC) yang telah ditetapkan NIST.

Menurut Andri, organisasi tidak boleh menunggu hingga ancaman benar-benar datang.

"Quantum mungkin belum hadir hari ini, tetapi persiapannya harus dimulai sekarang. Organisasi yang siap lebih awal akan memiliki daya tahan dan daya saing yang lebih kuat di masa depan," ujarnya.

 

Menjaga Amanah, Menjaga Kepercayaan

Menutup paparannya, Andri mengingatkan bahwa membangun organisasi berbasis data yang dipercaya bukanlah proyek yang selesai dalam satu atau dua tahun. 

Perjalanan tersebut merupakan proses berkelanjutan yang dimulai dari keamanan, berkembang menjadi privasi, kepatuhan, ketahanan siber, kemudian melahirkan kepercayaan dan pertumbuhan bisnis. Seluruh proses berpijak pada satu prinsip sederhana yang menjadi identitas BSI sebagai bank syariah, yaitu amanah.

"Di Bank Syariah Indonesia, kami percaya keamanan bukan sekadar melindungi sistem atau memenuhi regulasi. Keamanan adalah wujud menjaga amanah. Karena setiap data yang dipercayakan kepada kami adalah amanah yang harus kami jaga, hari ini, besok, dan di masa depan," pungkas Andri.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait