Kaspersky: AI dan Geopolitik Ubah Lanskap Ancaman Siber


Defi Nofitra Country Manager Kaspersky

Defi Nofitra Country Manager Kaspersky dalam Acara Data Security Summit 2026

Keamanan data kini tidak lagi dapat dipandang sebatas persoalan teknologi informasi. Di tengah meningkatnya transformasi digital, organisasi dituntut menempatkan keamanan siber sebagai bagian dari tata kelola perusahaan, manajemen risiko, kepatuhan regulasi, hingga fondasi dalam membangun kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah yang mengemuka dalam Data Security Summit 2026, ketika berbagai pelaku industri berbagi pandangan mengenai lanskap ancaman siber yang semakin kompleks. Salah satu narasumber yang hadir adalah Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, yang memaparkan perkembangan ancaman siber global sekaligus strategi perusahaan dalam membantu organisasi menghadapi era baru serangan digital yang semakin canggih.

Menurut Defi, dunia kini memasuki fase baru keamanan siber. Ancaman tidak lagi datang dari kelompok kriminal biasa, tetapi dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, perkembangan kecerdasan buatan, hingga meningkatnya praktik penipuan digital yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.

"Keamanan data saat ini bukan lagi sekadar persoalan perangkat keamanan atau teknologi. Organisasi harus memandang keamanan siber sebagai bagian dari tata kelola bisnis, manajemen risiko, kepatuhan, sekaligus upaya membangun kepercayaan. Ancaman berkembang sangat cepat sehingga pendekatan keamanan juga harus semakin adaptif dan berbasis intelijen ancaman," ujar Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia.

 

Tiga Tren Besar yang Mengubah Lanskap Keamanan Siber

Dalam paparannya, Defi menyoroti tiga perkembangan utama yang saat ini menjadi perhatian dunia keamanan siber.

Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak langsung terhadap pola serangan siber. Konflik antarnegara maupun kepentingan politik internasional membuat aktivitas kelompok peretas semakin terorganisasi dengan target yang lebih strategis, termasuk sektor pemerintahan, energi, keuangan, hingga infrastruktur kritikal.

Kedua, perkembangan AI yang turut mempercepat perlombaan senjata di dunia maya. Jika sebelumnya AI banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, kini teknologi tersebut juga digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk mengotomatisasi serangan, membuat phishing lebih meyakinkan, hingga menciptakan malware yang lebih sulit dideteksi.

Sementara tren ketiga adalah meningkatnya cyber fraud atau penipuan digital yang kini tidak hanya menjadi persoalan perusahaan besar, tetapi juga masyarakat umum. Berbagai modus penipuan berbasis media sosial, pesan singkat, email, maupun aplikasi perbankan terus berkembang dengan memanfaatkan rekayasa sosial dan kecerdasan buatan.

"AI membawa manfaat yang sangat besar bagi dunia keamanan siber, tetapi di sisi lain teknologi yang sama juga dimanfaatkan oleh pelaku ancaman. Karena itu organisasi harus mampu memanfaatkan AI secara bertanggung jawab sekaligus memperkuat kemampuan deteksi agar tidak tertinggal dari para penyerang," kata Defi.

 

Indonesia Masuk Daftar Negara yang Paling Sering Diserang

Dalam presentasinya, Kaspersky juga mengungkapkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-13 sebagai negara yang paling banyak menerima serangan siber. Fakta tersebut menunjukkan bahwa tingkat risiko terhadap organisasi maupun pengguna individu di Indonesia masih tergolong tinggi.

Selain itu, serangan melalui perangkat mobile juga mengalami peningkatan signifikan. Smartphone yang kini menjadi pusat aktivitas digital masyarakat, mulai dari komunikasi hingga transaksi keuangan, menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber.

Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperluas perlindungan keamanan, tidak hanya pada komputer dan server, tetapi juga perangkat seluler yang digunakan karyawan untuk mengakses sistem perusahaan.

 

Threat Intelligence Jadi Kunci Pertahanan Modern

Menghadapi ancaman yang semakin kompleks, Kaspersky menekankan pentingnya pemanfaatan Cyber Threat Intelligence (CTI) sebagai bagian dari strategi pertahanan modern. Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah Kaspersky Threat Data Feed, yang dirancang untuk memperkaya kemampuan firewall dan sistem keamanan yang sudah dimiliki organisasi.

Berdasarkan pemaparan perusahaan, integrasi data intelijen ancaman tersebut mampu meningkatkan kemampuan deteksi ancaman hingga sekitar 50 persen tanpa harus melakukan investasi besar untuk penggantian perangkat keras.

Pendekatan ini dinilai lebih efisien karena organisasi dapat meningkatkan efektivitas sistem keamanan yang telah ada melalui pembaruan informasi mengenai indikator ancaman terbaru, alamat IP berbahaya, domain berisiko, hingga karakteristik malware yang terus berkembang.

Defi Nofitra Country Manager Kaspersky dalam Acara Data Security Summit 2026

AI Menjadi Inti Solusi Keamanan Kaspersky

Defi menjelaskan bahwa AI bukan teknologi baru bagi Kaspersky. Selama lebih dari dua dekade, perusahaan telah memanfaatkan machine learning dan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi ancaman yang terus berevolusi.

Saat ini, inovasi tersebut dikembangkan melalui AI Technology Research Center yang berfokus pada pemanfaatan AI secara aman, bertanggung jawab, dan etis.

Riset yang dilakukan meliputi integrasi AI ke dalam berbagai solusi keamanan siber, pemantauan ancaman berbasis AI, penyusunan pedoman penerapan AI yang aman, pengembangan metode perlindungan AI, hingga penelitian Generative AI menggunakan infrastruktur Large Language Model (LLM) milik Kaspersky.

Pemanfaatan AI juga diterapkan untuk memberikan konteks keamanan yang lebih komprehensif terhadap perlindungan endpoint maupun cloud workload security sehingga organisasi dapat mengidentifikasi ancaman lebih cepat dan mengambil tindakan secara otomatis.

 

Faktor Manusia Masih Menjadi Celah Terbesar

Meski teknologi keamanan terus berkembang, Defi menegaskan bahwa manusia masih menjadi faktor paling dominan dalam berbagai insiden keamanan siber.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kaspersky, sekitar 68 hingga 90 persen pelanggaran keamanan melibatkan unsur manusia. Penyebabnya beragam, mulai dari korban phishing, penggunaan kata sandi yang lemah, hingga kesalahan dalam mengelola atau membagikan data sensitif.

Karena itu, peningkatan kesadaran keamanan siber menjadi langkah yang tidak kalah penting dibanding investasi teknologi.

"Teknologi terbaik sekalipun tidak akan memberikan perlindungan maksimal apabila pengguna belum memiliki kesadaran keamanan yang memadai. Edukasi dan pelatihan harus menjadi bagian dari budaya organisasi agar setiap karyawan mampu mengenali ancaman serta mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi risiko keamanan," ujar Defi.

Ia menambahkan bahwa membangun budaya keamanan siber akan membantu organisasi melindungi data pribadi, menjaga privasi pelanggan, mempertahankan kepercayaan publik, melindungi infrastruktur kritikal, serta mengurangi risiko kerugian akibat kejahatan siber.

 

Platform Pelatihan untuk Membangun Budaya Keamanan

Untuk membantu organisasi meningkatkan kesadaran keamanan, Kaspersky menghadirkan Kaspersky Automated Security Awareness Platform (KASAP). Platform pembelajaran daring tersebut dirancang agar perusahaan dapat menjalankan program edukasi keamanan siber secara mudah, terstruktur, dan efisien.

Melalui platform ini, organisasi dapat melatih karyawan mengenali berbagai ancaman yang paling relevan, termasuk phishing, rekayasa sosial, malware, hingga praktik keamanan digital sehari-hari.

Selain memudahkan administrasi pelatihan bagi perusahaan, sistem tersebut juga memungkinkan proses belajar yang lebih sederhana sehingga dapat diterapkan oleh organisasi dari berbagai ukuran.

 

Diakui Lewat Berbagai Pengujian Independen

Dalam kesempatan tersebut, Kaspersky juga memaparkan berbagai pencapaian produknya di tingkat global. Sepanjang 2025, produk-produk Kaspersky mengikuti 100 pengujian independen dan memperoleh 90 penghargaan sebagai peringkat pertama serta 94 kali masuk tiga besar.

Secara keseluruhan, solusi keamanan perusahaan telah mengikuti lebih dari 1.100 pengujian independen dengan ratusan penghargaan dari berbagai lembaga pengujian internasional. Selain itu, Kaspersky juga memperoleh berbagai pengakuan dari lembaga riset industri seperti IDC, Frost & Sullivan, Canalys, ISG, hingga QKS Group.

Pada 2024, perusahaan dinobatkan sebagai Major Player dalam penilaian IDC MarketScape untuk solusi Modern Endpoint Security bagi perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Sementara Frost Radar menempatkan Kaspersky sebagai salah satu pemimpin dalam pasar Cyber Threat Intelligence berkat inovasi dan kemampuan intelijen ancaman yang dimiliki.

 

Cyber Threat Intelligence Jadi Pilar Menghadapi Perang Siber

Menutup paparannya, Defi menekankan bahwa transformasi digital yang semakin cepat harus diimbangi dengan kesiapan organisasi dalam menghadapi ancaman siber yang juga berkembang semakin kompleks.

Menurutnya, investasi pada teknologi keamanan, pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, intelijen ancaman, serta peningkatan kesadaran seluruh karyawan harus berjalan beriringan agar organisasi mampu membangun ketahanan digital yang berkelanjutan.

"Ke depan, keberhasilan organisasi bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat mereka bertransformasi secara digital, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keamanan data, membangun budaya keamanan siber, serta memanfaatkan teknologi seperti AI secara bertanggung jawab untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang," pungkas Defi.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait