Lazarus Group: Ancaman Dunia Maya yang Membentuk Risiko Global


lazarus grup

lazarus grup

Lazarus Group bukan sekadar nama dalam dunia peretasan. Selama lebih dari satu dekade, kelompok ini dikenal sebagai aktor ancaman dunia maya yang paling aktif dan berdampak besar. Tidak seperti peretas generik, Lazarus beroperasi dengan ambisi strategis dan teknis yang terus berkembang — dari spionase, sabotase, hingga pencurian finansial berskala besar yang merugikan miliaran dolar di seluruh dunia.

 

Siapa Itu Lazarus Group

Lazarus Group, yang juga dikenal sebagai HIDDEN COBRA atau UNC3944, diyakini disponsori oleh pemerintah Korea Utara. Kelompok ini terlibat dalam berbagai kampanye siber mulai dari serangan perusahaan hingga operasi yang mendukung tujuan geopolitik dan finansial rezim tersebut.

Kelompok ini telah aktif sejak setidaknya 2009 dan menarik perhatian global setelah serangan besar terhadap Sony Pictures pada 2014. Serangan ini mencuri data dan rilis film internal, memicu kegemparan industri hiburan. Sejak itu, Lazarus terus melakukan kampanye siber yang lebih canggih dan luas.

 

Evolusi Serangan dan Jejak Sejarah

Seiring waktu, modus operandi Lazarus Group berkembang sesuai peluang dan objektif mereka:

  1. Serangan Tradisional dan Ransomware

    • Sony Pictures hack (2014) – mencuri dan mempublikasikan data internal serta film.
    • WannaCry ransomware (2017) – menyerang ratusan ribu sistem di seluruh dunia, mengakibatkan gangguan operasional besar.
  2. Spionase dan Kejahatan Finansial

    • Bangladesh Bank SWIFT hack (2016) – hampir $1 miliar berhasil ditransfer secara ilegal dari rekening bank sentral.

    Serangan terhadap sektor kripto dan platform keuangan modern, seperti Bybit, dengan kerugian lebih dari $1,4 miliar.

  3. Supply Chain & Kompromi Software
    Dalam kampanye “Operation Phantom Circuit”, Lazarus menyisipkan backdoor ke paket perangkat lunak sah di registri npm dan PyPI, yang diunduh ribuan pengembang. Strategi ini memungkinkan mereka memperoleh akses berkelanjutan dan mengompromikan data secara luas.

Tren terbaru menunjukkan bahwa Lazarus mulai menargetkan registri paket open-source, membuka jalur baru serangan yang memengaruhi lebih dari 36.000 korban global.

 

Bagaimana Lazarus Group Bekerja

Keunikan Lazarus terletak pada fleksibilitas taktik dan luasnya jangkauan operasi:

  • Teknik Rekayasa Sosial
    Kelompok ini menggunakan kampanye terstruktur untuk menipu pihak internal, seperti:

    • Tawaran kerja palsu (fake job offers) yang menjerat target dari HR atau pengembang software.
  • Malware & Backdoor Kustom
    Selain rekayasa sosial, Lazarus mengembangkan malware sendiri dan menyisipkan backdoor di software yang dimodifikasi, sehingga mereka dapat memperoleh akses mendalam dan bertahan lama di sistem korban.

  • Exploit Zero-Day & Serangan Supply Chain
    Dalam beberapa kampanye, kelompok ini memanfaatkan zero-day vulnerabilities di aplikasi yang banyak digunakan, seperti pemindai file atau tool transfer, untuk mendapatkan foothold awal tanpa terdeteksi.

 

Dampak dan Risiko Global

Kerugian yang dikaitkan dengan Lazarus sudah mencapai miliaran dolar AS, terutama di ranah kripto dan platform keuangan digital. Dampaknya bukan sekadar hilangnya data, tetapi juga mencakup:

  • Kerusakan reputasi perusahaan
  • Ketidakstabilan operasional dan finansial
  • Risiko sistemik dalam ekosistem digital yang saling terhubung

Intelijen global menunjukkan bahwa sebagian besar dana hasil pencurian digunakan untuk mendukung program rezim Korea Utara atau untuk menghindari sanksi internasional, menegaskan dimensi geopolitik dari serangan ini.

 

Mengapa Organisasi Perlu Waspada

Dalam menghadapi teknik yang terus berkembang, organisasi modern tidak bisa lagi mengandalkan kontrol keamanan tradisional semata. Ada beberapa pelajaran penting:

  1. Identitas & Kepercayaan Lebih Rentan daripada Sistem
    Lazarus mengeksploitasi jalur kepercayaan, seperti outsourcing, tawaran kerja palsu, dan repositori open-source, untuk masuk tanpa harus menembus firewall atau endpoint.

  2. Pergerakan Cepat dan Multi-Tahap
    Setelah mendapatkan akses, kelompok ini mampu bergerak lateral, menyusun persistence, dan mengekstraksi data melalui infrastruktur mereka dengan kecepatan tinggi.

  3. Mitigasi Harus Sistemik
    Selain teknologi, organisasi perlu memperkuat:

    • Threat intelligence real-time
    • Audit software supply chain
    • Deteksi perilaku dan anomaly, bukan hanya signature malware

 

Kesimpulan

Lazarus Group menunjukkan bagaimana ancaman siber modern merupakan gabungan antara cybercrime, spionase, dan strategi geopolitik. Mereka bukan sekadar peretas yang mengejar keuntungan finansial — operasi mereka memiliki dampak ekonomi besar dan konsekuensi strategis yang memengaruhi keputusan bisnis global.

Untuk organisasi yang serius terhadap risiko digital, memahami pola operasi kelompok seperti Lazarus bukan opsi, melainkan kebutuhan strategis. Cyber risk awareness dan mitigasi proaktif harus menjadi bagian dari strategi keamanan tingkat tinggi agar organisasi siap menghadapi ancaman yang semakin kompleks dan berlapis.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait