Microsoft Teams Gunakan AI untuk Deteksi Phishing dari Chat


Ilustrasi Microsoft Teams

Ilustrasi Microsoft Teams

Microsoft menyiapkan fitur keamanan berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi serangan phishing di Microsoft Teams. Berbeda dari sistem keamanan konvensional yang mengandalkan pemeriksaan tautan atau lampiran berbahaya, fitur ini akan menganalisis konteks percakapan untuk mengenali upaya penipuan, termasuk pesan yang tampak normal tetapi bertujuan mencuri informasi sensitif.

Fitur tersebut terutama dirancang untuk melindungi pengguna saat pertama kali berkomunikasi dengan kontak eksternal. Dalam skenario serangan ini, pelaku dapat menyamar sebagai staf dukungan teknologi informasi (TI), administrator, atau pihak tepercaya lainnya untuk meyakinkan korban agar menyerahkan kata sandi maupun memberikan akses ke perangkat mereka.

Informasi mengenai fitur baru ini disampaikan Microsoft melalui pemberitahuan Message Center bernomor MC1519866 yang diterbitkan pada 21 Oktober 2026. Peluncuran awal bagi pengguna yang tergabung dalam program Targeted Release dijadwalkan berlangsung pada awal hingga pertengahan November 2026.

Sementara itu, ketersediaan umum secara global diperkirakan dimulai pada awal Desember dan rampung pada pertengahan Desember 2026. Dengan jadwal tersebut, perlindungan ini tidak akan langsung tersedia bagi seluruh pelanggan pada November.

 

AI Deteksi Phishing dari Konteks Percakapan

Serangan phishing tidak selalu dilakukan dengan mengirimkan tautan berbahaya atau file yang mengandung malware. Pelaku juga dapat memanfaatkan social engineering, yakni teknik manipulasi psikologis untuk membuat korban percaya dan mengikuti instruksi tertentu.

Sebagai contoh, penyerang dapat mengaku sebagai petugas dukungan TI yang sedang membantu menyelesaikan masalah akun. Dengan alasan mendesak, pelaku kemudian meminta korban memberikan kata sandi, kode verifikasi, atau persetujuan untuk mengakses perangkat dari jarak jauh.

Dalam situasi seperti ini, pesan yang dikirimkan mungkin tidak mengandung tautan mencurigakan maupun lampiran berbahaya. Karena itu, pemeriksaan terhadap tautan dan file saja belum tentu cukup untuk mengidentifikasi ancaman.

Microsoft mengembangkan fitur baru ini untuk menganalisis konteks percakapan dan mengenali indikasi phishing, penyamaran identitas, rekayasa sosial, serta pesan yang mengandung maksud menipu. Dengan pendekatan tersebut, sistem dapat mempertimbangkan isi dan tujuan komunikasi, bukan hanya keberadaan elemen teknis yang mencurigakan.

Berdasarkan panduan dukungan Microsoft, perlindungan ini mencakup percakapan pribadi maupun grup dengan kontak eksternal baru. Fitur tersebut dirancang untuk tersedia melalui Microsoft Teams di perangkat seluler, komputer desktop, dan web.

Entri peta jalan Microsoft bernomor 575288 turut mencantumkan dukungan untuk Android, iOS, Mac, desktop, dan web pada layanan cloud standar yang tersedia secara global.

Salah satu contoh yang ditampilkan Microsoft memperlihatkan akun eksternal bernama "MOD Administrator" yang memulai percakapan dengan membahas masalah izin akses. Setelah itu, akun tersebut meminta kredensial pengguna dengan kalimat, "Can you share your credential first?" atau "Bisakah Anda memberikan kredensial terlebih dahulu?"

Microsoft Teams kemudian menampilkan peringatan bahwa pesan tersebut mungkin merupakan upaya phishing.

Contoh ini menggambarkan bagaimana permintaan yang terlihat seperti komunikasi dukungan teknis dapat menjadi indikasi penipuan. Sistem diharapkan mampu mengenali pola tersebut meskipun pesan tidak menyertakan URL berbahaya.

 

Antisipasi Modus Penyamaran Staf Dukungan TI

Pengembangan fitur ini juga berkaitan dengan pola serangan yang memanfaatkan kepercayaan pengguna terhadap staf dukungan teknis. Penyerang dapat menggunakan akun eksternal untuk menghubungi karyawan, kemudian menawarkan bantuan palsu yang berujung pada pemasangan malware atau pemberian akses jarak jauh.

Laporan sebelumnya dari Cybersecurity News mengungkapkan bahwa pelaku menyamar sebagai staf help desk TI melalui Microsoft Teams untuk mengarahkan pengguna melakukan tindakan yang berisiko terhadap keamanan perangkat dan organisasi.

Modus serupa juga ditemukan dalam penyalahgunaan Quick Assist. Dalam skenario tersebut, pelaku menghubungi karyawan melalui akun eksternal di Teams, lalu memanfaatkan layanan bantuan jarak jauh untuk membujuk korban memberikan akses ke perangkatnya.

Melalui deteksi berbasis konteks, Microsoft berupaya menambahkan lapisan perlindungan terhadap serangan yang mengandalkan manipulasi dan penyamaran identitas tersebut.

Meski demikian, sistem deteksi tidak selalu langsung menampilkan peringatan sejak awal peluncuran. Microsoft menyebutkan bahwa fitur tersebut mungkin berjalan tanpa memberikan pemberitahuan kepada pengguna selama tahap awal untuk menguji dan memvalidasi kualitas deteksinya.

Peringatan yang terlihat oleh pengguna dapat ditampilkan setelah proses validasi tersebut dilakukan. Artinya, selama masa peluncuran, pengguna tidak boleh menganggap setiap pesan mencurigakan pasti akan langsung ditandai oleh Microsoft Teams.

 

Perlindungan Utamanya untuk Kontak Eksternal Baru

Microsoft menjelaskan bahwa sasaran utama perlindungan ini adalah percakapan pertama dengan kontak eksternal. Namun, terdapat pengecualian khusus bagi pengguna Microsoft Teams di perangkat seluler di China, yang berpotensi mendapatkan perlindungan untuk percakapan di dalam organisasi mereka sendiri.

Perluasan tersebut berkaitan dengan pola penipuan yang ditemukan di wilayah itu. Namun, hal ini tidak berarti Microsoft akan menerapkan pemindaian terhadap seluruh percakapan internal di semua organisasi secara universal.

Dari sisi privasi, Microsoft menegaskan bahwa fitur tersebut digunakan khusus untuk kepentingan keamanan. Sistem tidak dirancang untuk menampilkan iklan, memantau aktivitas karyawan, mengukur produktivitas, ataupun menghasilkan ringkasan percakapan.

Microsoft juga menyatakan bahwa konten pesan pelanggan tidak disimpan oleh sistem deteksi untuk melatih model AI atau digunakan untuk tujuan sekunder lainnya.

Kendati demikian, pernyataan tersebut tidak serta-merta mengubah seluruh kebijakan penyimpanan data yang berlaku di Microsoft Teams. Organisasi tetap perlu memperhatikan kebijakan retensi data dan pengelolaan informasi yang diterapkan pada layanan mereka.

 

Pengguna Tetap Harus Waspada terhadap Phishing

Microsoft menyatakan administrator tidak perlu melakukan konfigurasi tambahan untuk mengaktifkan perlindungan baru ini. Meski begitu, organisasi tetap disarankan memperkuat edukasi keamanan, khususnya terkait komunikasi dari kontak eksternal yang belum dikenal.

Karyawan perlu memeriksa identitas pengirim dan alamat emailnya melalui saluran komunikasi tepercaya sebelum menuruti permintaan yang berkaitan dengan akun, perangkat, atau informasi perusahaan.

Jika sebuah pesan dipastikan merupakan phishing, pengguna disarankan memblokir dan melaporkan pengirimnya. Sebaliknya, jika peringatan yang muncul ternyata keliru, pengguna dapat melaporkannya sebagai pesan yang tidak berbahaya.

Organisasi juga perlu mengingatkan karyawan agar tidak membagikan kata sandi, kode verifikasi, informasi keuangan, maupun data sensitif lainnya melalui percakapan dukungan teknis yang tidak terduga.

Kehadiran AI di Microsoft Teams diharapkan membantu pengguna mengenali ancaman yang sulit dideteksi melalui pemeriksaan tautan dan lampiran semata. Namun, teknologi ini tetap menjadi lapisan pertahanan tambahan, bukan pengganti kewaspadaan pengguna.

Tidak adanya peringatan phishing bukan jaminan bahwa sebuah pesan aman. Verifikasi identitas pengirim, pemeriksaan terhadap permintaan yang tidak biasa, dan pelaporan aktivitas mencurigakan tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko serangan siber di lingkungan kerja.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait