Thales: AI dan Quantum Ubah Standar Keamanan Data Global
- Rita Puspita Sari
- •
- 12 jam yang lalu
Mahesa Dwi Putra Senior Sales Engineer Thales dalam Acara Data Security Summit 2026
Transformasi digital yang semakin masif membawa konsekuensi baru bagi keamanan data perusahaan. Di tengah pesatnya adopsi layanan cloud, kecerdasan buatan, serta mulai berkembangnya teknologi komputasi kuantum, organisasi dituntut untuk tidak lagi memandang perlindungan data hanya sebagai urusan departemen teknologi informasi.
Keamanan data kini telah menjadi bagian penting dari tata kelola perusahaan, manajemen risiko, kepatuhan terhadap regulasi, hingga menjaga kepercayaan pelanggan. Tanpa strategi perlindungan data yang matang, investasi digital yang dilakukan perusahaan justru berpotensi membuka celah baru bagi serangan siber.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Data Security Summit 2026 yang digelar di Jakarta. Senior Sales Engineer Thales, Mahesa Dwi Putra, memaparkan bagaimana organisasi perlu mengubah pendekatan dalam melindungi data agar tetap relevan menghadapi ancaman keamanan siber yang terus berkembang.
Menurut Mahesa, perubahan lanskap teknologi membuat pendekatan keamanan konvensional tidak lagi cukup. Organisasi harus mulai membangun fondasi keamanan yang mampu beradaptasi terhadap berbagai ancaman baru, mulai dari ledakan penggunaan AI hingga kemunculan komputer kuantum.
"Saat ini keamanan data bukan hanya persoalan teknologi. Data protection sudah menjadi bagian dari governance, risk management, compliance, dan bagaimana organisasi membangun digital trust kepada pelanggan maupun mitra bisnis," ujar Mahesa Dwi Putra.
Tantangan Terbesar Bukan Serangan, Melainkan Kompleksitas
Dalam paparannya, Mahesa menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan saat ini justru berasal dari kompleksitas lingkungan teknologi yang mereka bangun sendiri. Transformasi digital membuat organisasi menggunakan berbagai layanan cloud, aplikasi Software as a Service (SaaS), platform data, hingga solusi keamanan dari banyak vendor. Akibatnya, pengelolaan keamanan menjadi terfragmentasi.
Thales mencatat, sebanyak 57 persen organisasi menggunakan lima atau lebih sistem enterprise key manager. Kemudian 61 persen perusahaan mengoperasikan lima atau lebih solusi untuk menemukan dan mengklasifikasikan data, sementara 64 persen menggunakan sedikitnya 26 penyedia layanan SaaS.
Tidak hanya itu, 76 persen organisasi juga telah mengadopsi dua atau lebih penyedia layanan cloud.
Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan kehilangan visibilitas terhadap keberadaan data sensitif mereka. Padahal, tanpa mengetahui lokasi maupun status perlindungan data, perusahaan akan kesulitan menerapkan kebijakan keamanan secara konsisten.
Mahesa menilai kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa banyak organisasi masih kesulitan melindungi data secara efektif.
"Ketika infrastruktur semakin kompleks, tantangan utamanya bukan lagi sekadar memiliki banyak solusi keamanan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh sistem itu dapat bekerja secara terpadu sehingga organisasi memiliki kontrol penuh terhadap data yang dimiliki," jelasnya.
Ia juga menyinggung kasus yang menimpa platform decentralized finance (DeFi) Balancer, yang mengalami kerugian hingga sekitar 100 juta dolar AS akibat serangan siber. Berdasarkan hasil investigasi, proses keamanan yang terfragmentasi dan kurangnya integrasi pengelolaan kerentanan menjadi faktor yang memperbesar dampak insiden tersebut.
AI dan Quantum Computing Mempercepat Perubahan Ancaman
Selain kompleksitas infrastruktur, Mahesa menyoroti perubahan lanskap ancaman yang dipicu oleh perkembangan Artificial Intelligence dan Quantum Computing. Menurutnya, AI kini mampu mempercepat proses pencarian celah keamanan, otomatisasi eksploitasi, hingga analisis data dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Di saat yang sama, perkembangan komputer kuantum diperkirakan akan mampu memecahkan algoritma kriptografi yang saat ini masih digunakan secara luas.
Mahesa mengutip prediksi Gartner yang menyatakan bahwa algoritma kriptografi tradisional diperkirakan tidak lagi aman pada 2029. Karena itu, organisasi disarankan mulai mempersiapkan transisi menuju Post-Quantum Cryptography (PQC) sejak sekarang.
"Migrasi menuju Post-Quantum Cryptography bukan pekerjaan yang selesai dalam hitungan bulan. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, sehingga perusahaan perlu mulai merancang roadmap transisinya sejak dini," katanya.
Ancaman "Harvest Now, Decrypt Later"
Mahesa juga mengingatkan mengenai ancaman Harvest Now, Decrypt Later (HNDL) yang kini semakin mendapat perhatian dunia keamanan siber. Dalam skenario tersebut, pelaku kejahatan siber mencuri data yang masih terenkripsi saat ini. Data tersebut tidak langsung dibuka, melainkan disimpan hingga teknologi komputer kuantum cukup matang untuk memecahkan algoritma enkripsi yang digunakan saat ini.
Artinya, data dengan nilai jangka panjang seperti rekam medis, data finansial, rahasia dagang, maupun dokumen pemerintahan tetap berpotensi bocor di masa depan meskipun saat ini masih terlihat aman.
"Yang menjadi pertanyaan bukan apakah data berhasil dicuri hari ini, tetapi apakah data tersebut masih bernilai ketika komputer kuantum nantinya mampu membukanya," ujar Mahesa.
Karena itu, menurutnya, organisasi perlu mulai menerapkan strategi keamanan yang memiliki kemampuan cryptographic agility, yaitu kemampuan untuk mengganti algoritma kriptografi tanpa harus membangun ulang seluruh sistem keamanan.

Generative AI Membuka Risiko Baru
Tidak hanya komputer kuantum, perkembangan Generative AI juga membawa tantangan baru bagi perusahaan. Data Thales menunjukkan 69 persen organisasi menganggap perkembangan ekosistem GenAI sebagai risiko keamanan utama, sedangkan 64 persen mengkhawatirkan serangan terhadap integritas data yang digunakan untuk melatih model AI.
Mahesa mengatakan banyak perangkat keamanan lama belum mampu mendeteksi kebocoran data yang terjadi melalui penggunaan AI generatif maupun memberikan perlindungan secara real-time terhadap keluaran Large Language Model (LLM).
Ia mencontohkan insiden yang sempat dialami Samsung, ketika sejumlah karyawan tanpa sengaja memasukkan source code dan dokumen internal perusahaan ke ChatGPT. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman keamanan tidak hanya berasal dari peretas, tetapi juga dari penggunaan AI yang tidak memiliki tata kelola yang baik.
"AI memberikan produktivitas yang luar biasa. Namun tanpa kebijakan perlindungan data yang tepat, AI juga dapat menjadi pintu keluarnya informasi sensitif perusahaan," kata Mahesa.
Kepatuhan Saja Belum Menjamin Aman
Dalam kesempatan itu, Mahesa juga menyoroti meningkatnya tuntutan kepatuhan terhadap berbagai regulasi perlindungan data. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kepatuhan tidak selalu identik dengan keamanan.
Thales mencatat 45 persen organisasi masih gagal menjalani audit kepatuhan pada 2025. Di sisi lain, 21 persen perusahaan yang berhasil lolos audit ternyata tetap pernah mengalami kebocoran data. Artinya, memenuhi persyaratan regulasi belum tentu cukup apabila perusahaan belum memiliki pengelolaan keamanan yang matang.
Mahesa mencontohkan kasus konfigurasi cloud yang tidak aman sehingga mengekspos sekitar 110 juta data pelanggan selama dua tahun. Insiden tersebut berujung pada denda sebesar 13 juta dolar AS serta kewajiban meningkatkan sistem keamanan.
"Compliance merupakan fondasi penting, tetapi tujuan akhirnya tetap melindungi data. Jangan sampai organisasi hanya fokus mengejar kelulusan audit tanpa benar-benar memahami risiko yang dimiliki," ujarnya.
Membangun Fondasi Perlindungan Data Modern
Untuk membantu organisasi menghadapi tantangan tersebut, Thales menghadirkan berbagai solusi keamanan data yang mengedepankan pendekatan terpadu. Melalui CipherTrust Data Security Platform, perusahaan dapat menemukan, mengklasifikasikan, memantau, sekaligus melindungi data sensitif yang tersebar di berbagai lingkungan TI.
Platform tersebut menyediakan kemampuan discovery dan classification secara otomatis terhadap data terstruktur maupun tidak terstruktur, sehingga organisasi memperoleh visibilitas menyeluruh mengenai aset digital yang dimiliki.
Selain itu, platform ini juga mendukung enkripsi, tokenisasi, data masking, hingga pemantauan aktivitas data secara berkelanjutan. Seluruh kunci enkripsi dan kredensial keamanan dikelola secara terpusat melalui CipherTrust Manager, sehingga perusahaan dapat mengendalikan akses terhadap data, aplikasi, layanan cloud, maupun sistem penyimpanan dari satu platform.
Menurut Mahesa, pendekatan tersebut membantu organisasi menyederhanakan operasional keamanan sekaligus mempercepat proses audit dan respons terhadap insiden.
Siap Menghadapi Era Post-Quantum
Di sisi infrastruktur kriptografi, Thales juga mengembangkan Luna Hardware Security Module (HSM) yang telah mendukung algoritma siap Post-Quantum, quantum-safe protocol, serta Quantum Random Number Generator (QRNG).
Sementara itu, solusi High Speed Encryptors (HSE) dirancang untuk melindungi data yang bergerak di jaringan dengan kemampuan crypto-agile sehingga organisasi dapat beradaptasi terhadap perubahan standar kriptografi di masa mendatang tanpa mengorbankan performa.
Mahesa mengatakan perjalanan menuju era post-quantum tidak dapat dilakukan secara instan. Namun, organisasi dapat mulai mengurangi risiko sejak sekarang dengan membangun fondasi keamanan yang fleksibel.
"Perusahaan tidak perlu menunggu komputer kuantum hadir untuk mulai berbenah. Justru sekarang adalah waktu yang tepat membangun fondasi keamanan yang siap menghadapi perubahan di masa depan," tuturnya.
Menutup paparannya, Mahesa menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan organisasi mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga oleh kesiapan mereka menjaga keamanan data yang menjadi aset paling berharga.
"Visibilitas, kontrol terhadap kunci enkripsi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan kriptografi akan menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan digital. Dengan strategi perlindungan data yang tepat, organisasi tidak hanya siap menghadapi ancaman hari ini, tetapi juga tantangan keamanan di era AI dan komputasi kuantum," pungkas Mahesa.
