Apa Itu DAST? Pengertian dan Cara Kerjanya
- Rita Puspita Sari
- •
- 3 jam yang lalu
Ilustrasi Dynamic Application Security Testing
Di era transformasi digital yang serba cepat, aplikasi web dan API menjadi tulang punggung berbagai layanan—mulai dari perbankan, e-commerce, layanan pemerintah, hingga platform media. Namun, semakin kompleks sebuah aplikasi, semakin besar pula risiko celah keamanan yang bisa dimanfaatkan oleh penyerang siber. Di sinilah Dynamic Application Security Testing (DAST) memainkan peran penting sebagai salah satu metode pengujian keamanan aplikasi yang efektif dan relevan.
Apa itu Dynamic Application Security Testing (DAST)?
Dynamic Application Security Testing atau DAST adalah metode pengujian keamanan siber yang digunakan untuk mengidentifikasi celah keamanan (vulnerability) dan kesalahan konfigurasi pada aplikasi web, API, serta aplikasi mobile. Berbeda dengan metode pengujian lain yang menganalisis kode sumber, DAST menguji aplikasi dalam kondisi berjalan (runtime).
Keunikan utama DAST terletak pada pendekatannya yang disebut outside-in atau black box testing. Artinya, DAST menguji aplikasi dari sudut pandang pengguna atau bahkan peretas, tanpa mengetahui bagaimana struktur internal atau kode aplikasi tersebut. Pendekatan ini membuat DAST sangat realistis karena meniru cara penyerang sungguhan mencari dan mengeksploitasi celah keamanan.
Mengapa DAST Sangat Penting?
Pengembang perangkat lunak saat ini dituntut untuk bergerak cepat. Pembaruan kode bisa terjadi berkali-kali dalam sehari, sering kali hanya pada bagian tertentu tanpa pemahaman menyeluruh terhadap keseluruhan sistem. Di sisi lain, aplikasi modern juga sangat bergantung pada komponen pihak ketiga dan open source, yang masing-masing berpotensi membawa risiko keamanan tersendiri.
Kompleksitas ini diperparah dengan semakin luasnya attack surface—yakni semua titik yang berpotensi menjadi pintu masuk serangan. Tanpa pengujian keamanan yang tepat, celah kecil dapat berujung pada kebocoran data besar.
DAST hadir sebagai solusi dengan mengotomatiskan pengujian keamanan tanpa mengganggu alur kerja pengembang. Dengan mensimulasikan serangan dari luar, DAST membantu tim pengembang melihat bagaimana perubahan kode berdampak langsung terhadap keamanan aplikasi sebelum dirilis ke publik.
Metode ini sangat efektif untuk mendeteksi masalah nyata seperti kesalahan autentikasi, validasi input yang lemah, hingga celah yang sering terlewat oleh metode lain seperti Software Composition Analysis (SCA).
Peran DAST dalam DevOps dan CI/CD
Seiring meningkatnya kompleksitas aplikasi digital, pengujian keamanan tidak lagi bisa dilakukan di tahap akhir pengembangan. DAST modern dirancang agar dapat terintegrasi langsung ke dalam proses DevOps dan pipeline CI/CD, sehingga pengujian keamanan dapat berjalan otomatis seiring dengan proses build, testing, dan deployment aplikasi.
Integrasi ini membuat DAST sangat relevan dengan pendekatan “shift left”, yaitu strategi pengembangan perangkat lunak yang menempatkan pengujian keamanan sejak tahap awal Software Development Life Cycle (SDLC). Dengan mendeteksi celah keamanan lebih dini, tim pengembang dapat melakukan perbaikan sebelum aplikasi dirilis ke lingkungan produksi.
Keuntungan utama dari pendekatan ini adalah efisiensi biaya dan waktu. Memperbaiki celah keamanan pada tahap pengembangan jauh lebih murah dibandingkan ketika aplikasi sudah berjalan di produksi dan berpotensi menimbulkan kebocoran data atau gangguan layanan. Selain itu, pengujian otomatis menggunakan DAST tidak menghambat produktivitas pengembang karena berjalan di latar belakang tanpa perlu intervensi manual yang intensif.
DAST juga mendukung prinsip utama DevOps, seperti:
- Otomatisasi, karena pengujian keamanan dapat dijalankan secara berkala atau dipicu otomatis setiap kali ada perubahan kode.
- Kolaborasi lintas tim, dengan hasil pengujian yang dapat langsung dibagikan kepada tim pengembang dan keamanan.
- Umpan balik berkelanjutan, di mana temuan keamanan segera diketahui dan ditindaklanjuti tanpa menunggu proses audit terpisah.
Dengan pendekatan ini, organisasi dapat menjaga keseimbangan antara kecepatan pengembangan dan keamanan aplikasi.
Bagaimana Cara Kerja DAST?
DAST menggunakan pendekatan black box testing, yaitu menguji aplikasi dari sisi luar tanpa mengetahui struktur internal atau kode sumbernya. Metode ini meniru cara kerja peretas dalam mencari celah keamanan pada aplikasi yang sedang berjalan. Secara umum, proses DAST terdiri dari lima tahap utama berikut:
-
Pemindaian (Scanning)
Pada tahap awal, DAST mengirimkan berbagai permintaan HTTP untuk mensimulasikan interaksi pengguna dengan aplikasi. Proses ini bertujuan memetakan seluruh komponen aplikasi, seperti halaman web, fitur, fungsi, endpoint API, serta titik masuk lain yang berpotensi menjadi celah keamanan. -
Analisis
Setelah permintaan dikirim, respons dari aplikasi dianalisis secara mendalam. DAST mencari tanda-tanda kejanggalan, seperti pesan kesalahan yang tidak semestinya, respons yang tidak konsisten, atau perilaku aplikasi yang menyimpang. Indikasi-indikasi ini dapat menunjukkan adanya celah keamanan. -
Simulasi Serangan
Pada tahap ini, DAST mulai meniru serangan umum yang sering digunakan peretas, seperti SQL Injection, Cross-Site Scripting (XSS), dan Cross-Site Request Forgery (CSRF). Tujuannya adalah menguji apakah aplikasi dapat menahan serangan tersebut atau justru rentan untuk dieksploitasi. -
Pelaporan
Hasil pemindaian dan simulasi serangan kemudian dirangkum dalam laporan yang mudah dipahami. Laporan ini biasanya berisi daftar celah keamanan, tingkat keparahan masing-masing masalah, serta gambaran potensi dampak jika celah tersebut dimanfaatkan. Perlu dipahami bahwa DAST hanya berfokus pada identifikasi masalah, sementara proses perbaikan tetap menjadi tanggung jawab tim pengembang. -
Penanganan False Positive
Dalam beberapa kasus, DAST dapat mendeteksi sesuatu sebagai celah keamanan yang sebenarnya tidak berbahaya, yang dikenal sebagai false positive. Oleh karena itu, diperlukan validasi manual untuk memastikan temuan tersebut benar-benar perlu ditangani dan menentukan prioritas perbaikannya.
Dengan proses yang sistematis dan terintegrasi ke dalam DevOps serta CI/CD, DAST menjadi alat penting untuk memastikan aplikasi tetap aman tanpa menghambat kecepatan pengembangan. Pendekatan ini memungkinkan organisasi merespons ancaman keamanan secara lebih cepat, terukur, dan berkelanjutan.
Jenis Alat DAST: Legacy vs Modern
Dalam praktiknya, alat Dynamic Application Security Testing (DAST) tidak memiliki pembagian resmi berdasarkan standar tertentu. Namun, para praktisi dan pakar keamanan siber umumnya mengelompokkan alat DAST ke dalam dua kategori tidak resmi, yaitu DAST legacy dan DAST modern. Pengelompokan ini membantu organisasi memahami perbedaan kemampuan, tingkat otomatisasi, serta kecocokan alat dengan kebutuhan pengembangan aplikasi saat ini.
-
DAST Legacy (Generasi Lama)
DAST legacy merupakan alat pengujian keamanan generasi awal yang umumnya memiliki fitur terbatas. Meskipun proses pemindaian dilakukan secara otomatis, hasil yang diberikan biasanya hanya berupa daftar potensi celah keamanan tanpa analisis atau validasi mendalam.Alat jenis ini sering kali:
- Tidak terintegrasi dengan pipeline CI/CD
- Minim dukungan otomatisasi lanjutan
- Membutuhkan banyak verifikasi manual oleh tim keamanan
- Kurang kontekstual terhadap dampak bisnis dari celah yang ditemukan
Akibatnya, DAST legacy cenderung menghasilkan lebih banyak false positive, sehingga tim pengembang harus menghabiskan waktu ekstra untuk memilah temuan yang benar-benar penting.
-
DAST Modern (Generasi Terkini)
Berbeda dengan versi lama, DAST modern dirancang untuk menjawab kebutuhan pengembangan aplikasi yang cepat dan dinamis. Alat ini menawarkan tingkat otomatisasi yang jauh lebih tinggi serta integrasi menyeluruh dengan Software Development Life Cycle (SDLC).Keunggulan utama DAST modern antara lain:
- Terintegrasi langsung dengan DevOps dan pipeline CI/CD
- Dapat berjalan otomatis di setiap tahap build atau deployment
- Menyediakan laporan yang lebih kontekstual dan mudah dipahami
- Mampu menghasilkan bukti eksploitasi (proof of exploit)
Bahkan, hasil pemindaian DAST modern dapat langsung diubah menjadi tiket di sistem manajemen bug atau issue tracker pengembang. Dengan demikian, proses perbaikan menjadi lebih cepat, terstruktur, dan mudah dipantau.
Kelebihan dan Keterbatasan DAST
Sebagai metode pengujian keamanan yang populer, DAST memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya pilihan penting dalam strategi keamanan aplikasi.
Kelebihan DAST
Salah satu keunggulan utama DAST adalah fleksibilitasnya. DAST dapat digunakan pada berbagai tahap SDLC dan sangat cocok untuk menguji aplikasi lama (legacy system) tanpa perlu perubahan kode. Karena bekerja dari luar, DAST juga tidak bergantung pada bahasa pemrograman atau framework tertentu.
Selain itu, DAST:
- Meniru perilaku peretas nyata, sehingga hasil pengujian lebih realistis
- Efektif mendeteksi berbagai jenis celah seperti SQL Injection, XSS, dan kesalahan konfigurasi
- Dapat digunakan sebagai acuan kepatuhan standar industri seperti OWASP Top 10 dan PCI DSS
- Mendukung otomatisasi dan pengujian berulang seiring perkembangan aplikasi
Keterbatasan DAST
Meski memiliki banyak keunggulan, DAST bukan solusi yang sempurna. Karena hanya menguji aplikasi yang sudah berjalan, DAST berpotensi melewatkan bagian kode yang masih dalam tahap pengembangan.
Selain itu, jika tidak dikonfigurasi dengan tepat, pengujian DAST pada lingkungan produksi dapat:
- Mengganggu performa aplikasi
- Menyebabkan data uji masuk ke sistem
- Memicu alarm keamanan palsu
Oleh karena itu, banyak organisasi menjalankan DAST di lingkungan staging atau production clone untuk meminimalkan risiko operasional.
DAST vs SAST: Bukan Pilih Salah Satu
Perdebatan antara DAST dan Static Application Security Testing (SAST) sering muncul, namun pada dasarnya kedua metode ini bukanlah pesaing, melainkan saling melengkapi.
SAST berfokus pada analisis kode sumber untuk menemukan celah keamanan sejak tahap awal pengembangan. Metode ini sangat efektif dalam mendeteksi masalah struktural seperti kesalahan logika, buffer overflow, dan celah keamanan tersembunyi di dalam kode.
Sementara itu, DAST menunjukkan bagaimana celah tersebut berdampak pada aplikasi yang berjalan, termasuk risiko nyata yang dapat dieksploitasi oleh penyerang.
Dengan mengombinasikan DAST dan SAST—serta metode lain seperti Interactive Application Security Testing (IAST), Software Composition Analysis (SCA), dan pengujian penetrasi manual—organisasi dapat membangun strategi keamanan aplikasi yang lebih kuat, menyeluruh, dan berkelanjutan.
Penutup
Di tengah meningkatnya ancaman siber dan kompleksitas aplikasi modern, DAST telah menjadi salah satu pilar utama dalam keamanan aplikasi. Pendekatannya yang realistis, otomatis, dan mudah diintegrasikan ke dalam DevOps membuat DAST mampu menjaga keseimbangan antara keamanan dan kecepatan inovasi.
Dengan memanfaatkan DAST secara tepat dan mengombinasikannya dengan metode pengujian lain, organisasi dapat melindungi aplikasi mereka secara lebih efektif sekaligus mendukung pengembangan perangkat lunak yang aman dan berkelanjutan.
