Apa Itu DMARC? Cara Kerja dan Perannya Lindungi Email
- Rita Puspita Sari
- •
- 23 jam yang lalu
Ilustrasi DMARC
Di era digital saat ini, email masih menjadi sarana komunikasi utama bagi perusahaan, lembaga pemerintah, hingga organisasi nirlaba. Namun di balik kemudahan tersebut, email juga menjadi pintu masuk paling sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melakukan phishing, penipuan, hingga penyebaran malware. Salah satu teknik yang kerap digunakan adalah pemalsuan alamat pengirim atau email spoofing, di mana penyerang menyamar seolah-olah email berasal dari domain resmi perusahaan. Untuk mengatasi ancaman ini, hadir sebuah protokol keamanan bernama DMARC.
DMARC atau Domain-based Message Authentication Reporting & Conformance adalah protokol keamanan email yang dirancang untuk memastikan bahwa email yang mengatasnamakan suatu domain benar-benar berasal dari sumber yang sah. DMARC bekerja dengan memvalidasi dua mekanisme autentikasi email yang sudah lebih dulu ada, yakni SPF (Sender Policy Framework) dan DKIM (Domain Keys Identified Mail), lalu menerapkan kebijakan khusus berdasarkan domain tersebut.
Dengan penerapan DMARC, pemilik domain dapat melindungi nama baik merek mereka, memblokir email palsu, serta memperoleh laporan detail tentang pihak-pihak yang mencoba mengirim email tanpa izin atas nama domain mereka.
Cara Kerja DMARC dalam Sistem Email
Secara sederhana, DMARC berfungsi sebagai lapisan pengaman tambahan di atas SPF dan DKIM. Ketika sebuah email masuk ke server penerima, DMARC akan memicu serangkaian proses verifikasi.
Pertama, server akan memeriksa apakah email dikirim dari alamat IP yang diizinkan oleh domain pengirim melalui mekanisme SPF. Selanjutnya, sistem akan memastikan bahwa pesan email tersebut tidak diubah selama proses pengiriman dengan memverifikasi tanda tangan digital DKIM.
Langkah berikutnya adalah validasi kesesuaian domain (alignment). Pada tahap ini, domain yang lolos SPF atau DKIM harus sesuai dengan domain yang tertera di kolom “From”. Proses ini penting untuk mencegah pelaku kejahatan menggunakan domain lain guna mengelabui sistem autentikasi.
Jika email gagal melewati satu atau beberapa tahapan tersebut, maka server penerima akan menerapkan kebijakan DMARC yang telah ditentukan oleh pemilik domain. Kebijakan ini dipublikasikan dalam bentuk DNS TXT record dan dapat berupa penolakan total, karantina, atau sekadar pemantauan.
Selain itu, DMARC juga menghasilkan laporan autentikasi berbasis XML yang memberikan gambaran lengkap tentang lalu lintas email suatu domain. Laporan ini sangat berguna bagi administrator untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan maupun kesalahan konfigurasi pada layanan email pihak ketiga.
Manfaat Utama Penerapan DMARC
Penerapan DMARC memberikan sejumlah manfaat strategis bagi organisasi. Salah satu yang paling penting adalah perlindungan reputasi. Ketika domain perusahaan dipalsukan untuk mengirim email berbahaya, kepercayaan pelanggan bisa runtuh dalam waktu singkat. DMARC mencegah skenario ini dengan memastikan hanya pengirim sah yang dapat menggunakan domain perusahaan.
Selain itu, DMARC berperan besar dalam meningkatkan keamanan siber. Email yang gagal autentikasi akan diblokir atau dikarantina sebelum mencapai kotak masuk karyawan, sehingga risiko phishing dan penipuan dapat ditekan secara signifikan.
DMARC juga memberikan visibilitas domain yang lebih baik. Banyak perusahaan menggunakan berbagai layanan eksternal untuk mengirim email, seperti platform pemasaran, sistem HR, atau layanan penagihan. Tanpa DMARC, sulit mengetahui apakah semua layanan tersebut telah dikonfigurasi dengan benar. Laporan DMARC membantu tim IT dan keamanan memetakan seluruh sumber pengirim email dan mengidentifikasi potensi masalah sejak dini.
Kebijakan DMARC yang Perlu Diketahui
Kebijakan DMARC yang Perlu Diketahui
Dalam penerapan DMARC, organisasi dapat memilih kebijakan yang paling sesuai dengan tingkat kesiapan dan kematangan sistem email mereka. Secara umum, terdapat tiga kebijakan utama DMARC yang menentukan bagaimana server penerima harus memperlakukan email yang gagal melewati proses autentikasi.
-
Kebijakan Reject (p=reject)
Kebijakan reject merupakan tingkat perlindungan tertinggi dalam DMARC. Dengan kebijakan ini, setiap email yang gagal melewati autentikasi SPF atau DKIM dan tidak sesuai dengan aturan DMARC akan langsung ditolak oleh server penerima. Artinya, email tersebut sama sekali tidak akan sampai ke kotak masuk maupun folder spam penerima.Kebijakan ini sangat efektif untuk menghentikan email palsu, phishing, dan upaya penipuan yang mengatasnamakan domain perusahaan. Namun, karena sifatnya yang sangat ketat, reject sebaiknya diterapkan setelah organisasi memastikan bahwa semua pengirim email resmi, termasuk layanan pihak ketiga seperti platform pemasaran atau sistem penagihan, telah dikonfigurasi dengan benar dan terdaftar sebagai pengirim sah.
-
Kebijakan Quarantine (p=quarantine)
Kebijakan quarantine berfungsi sebagai langkah pengamanan menengah. Email yang gagal autentikasi tidak langsung ditolak, tetapi dialihkan ke folder spam atau area karantina. Dengan demikian, email tersebut tidak langsung terlihat oleh penerima, namun masih dapat ditinjau jika diperlukan.Banyak organisasi menggunakan kebijakan quarantine sebagai tahap transisi sebelum beralih ke kebijakan reject. Melalui pendekatan ini, tim IT atau keamanan dapat menganalisis email yang gagal autentikasi, memahami penyebabnya, serta memperbaiki konfigurasi sistem email tanpa risiko memblokir email sah secara tidak sengaja.
-
Kebijakan None (p=none)
Berbeda dengan dua kebijakan sebelumnya, kebijakan none tidak memberikan tindakan pemblokiran sama sekali. Semua email tetap diterima seperti biasa, meskipun gagal autentikasi. Namun, DMARC tetap mengumpulkan dan mengirimkan laporan terkait hasil autentikasi email tersebut.Kebijakan none sangat cocok digunakan pada tahap awal implementasi DMARC, terutama bagi organisasi yang baru mulai memetakan sumber pengirim email mereka. Dengan memanfaatkan laporan DMARC, administrator dapat memantau lalu lintas email, mengidentifikasi pengirim tidak sah, serta menyusun strategi penerapan kebijakan yang lebih ketat di tahap berikutnya.
DMARC, Kepatuhan, dan Standar Global
Selain berperan sebagai solusi keamanan email, DMARC juga semakin diakui sebagai bagian penting dari kepatuhan terhadap regulasi dan standar keamanan global. Sejumlah negara telah mewajibkan lembaga pemerintahan untuk menerapkan mekanisme autentikasi email seperti SPF, DKIM, dan DMARC guna melindungi komunikasi resmi dari penyalahgunaan.
Di sektor industri, berbagai kerangka kepatuhan keamanan informasi, termasuk PCI DSS, mendorong penggunaan mekanisme otomatis untuk mencegah serangan phishing dan penipuan berbasis email. Meskipun tidak selalu menyebut DMARC secara eksplisit, prinsip yang dijelaskan dalam standar tersebut sejalan dengan fungsi DMARC.
Bahkan di Uni Eropa, DMARC telah menjadi bagian dari standar keamanan komunikasi email. Hal ini menunjukkan bahwa DMARC kini tidak lagi dianggap sebagai fitur tambahan, melainkan kebutuhan mendasar bagi organisasi yang ingin menjaga keamanan, kepercayaan, dan kepatuhan dalam komunikasi digital mereka.
Kesimpulan
DMARC bukan hanya solusi teknis, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga kepercayaan, reputasi, dan keamanan organisasi. Dengan mengombinasikan SPF, DKIM, kebijakan yang tepat, serta pemantauan berkelanjutan melalui laporan DMARC, perusahaan dapat mengambil kendali penuh atas domain email mereka dan meminimalkan risiko serangan siber yang semakin kompleks.
Di tengah maraknya ancaman phishing dan penipuan digital, penerapan DMARC menjadi langkah strategis yang tidak bisa lagi diabaikan.
