Bahaya Botnet Mirai, Malware yang Bisa Bajak Jutaan Perangkat IoT


Ilustrasi Internet of Things

Ilustrasi Internet of Things

Perangkat pintar kini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kamera CCTV, router, televisi pintar, jam tangan pintar, hingga berbagai perangkat rumah tangga dapat terhubung ke internet. Kemudahan tersebut membuat aktivitas menjadi lebih praktis, tetapi di sisi lain juga membuka pintu bagi ancaman keamanan siber.

Salah satu ancaman yang pernah menunjukkan betapa berbahayanya perangkat IoT adalah Mirai. Malware ini mampu memanfaatkan perangkat IoT yang memiliki keamanan lemah untuk membentuk botnet, yaitu kumpulan perangkat yang telah terinfeksi dan dapat dikendalikan oleh penyerang.

Mirai menjadi perhatian besar dunia keamanan siber pada 2016 setelah digunakan dalam serangkaian serangan DDoS berskala besar. Yang membuatnya semakin berbahaya, kode sumber Mirai kemudian disebarkan ke internet dan dimanfaatkan oleh pelaku lain untuk membuat berbagai varian baru.

Lantas, apa sebenarnya Mirai, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa malware yang muncul hampir satu dekade lalu masih relevan untuk dipelajari?

 

Apa Itu Mirai?

Mirai adalah malware yang dirancang untuk mencari dan mengambil alih perangkat IoT yang memiliki keamanan lemah. Perangkat yang berhasil dikendalikan kemudian dijadikan bagian dari botnet.

Istilah malware merupakan kependekan dari malicious software, yaitu perangkat lunak yang dibuat untuk melakukan tindakan berbahaya. Malware mencakup berbagai jenis ancaman, seperti virus, worm, Trojan, rootkit, spyware, dan bentuk perangkat lunak berbahaya lainnya.

Sementara itu, botnet adalah jaringan perangkat yang telah terinfeksi malware dan berada di bawah kendali pihak lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Perangkat tersebut sering disebut sebagai bot atau zombie. Bayangkan ada ribuan atau bahkan jutaan perangkat yang tersebar di berbagai rumah, kantor, dan lokasi lain. Pemiliknya mungkin tetap menggunakan perangkat seperti biasa tanpa menyadari bahwa perangkat tersebut telah dikendalikan dari jarak jauh.

Ketika penyerang memberikan perintah, seluruh perangkat yang tergabung dalam botnet dapat melakukan tindakan secara bersamaan. Inilah yang membuat botnet sangat berbahaya.

 

Awal Kemunculan Mirai

Nama Mirai mulai dikenal luas pada September 2016. Pada periode tersebut, pembuat malware Mirai melancarkan serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS) terhadap situs web milik seorang pakar keamanan. Tidak lama setelah serangan tersebut, kode sumber Mirai dirilis ke publik. Langkah ini kemungkinan dilakukan untuk mengaburkan jejak dan membuat asal-usul serangan menjadi lebih sulit dilacak.

Namun, keputusan tersebut justru membawa konsekuensi yang lebih besar. Setelah kode sumber tersedia secara bebas, penjahat siber lain dapat mempelajarinya, menyalinnya, dan memodifikasinya. Dari sinilah muncul berbagai turunan dan varian malware yang mengadopsi teknik Mirai.

Pada Oktober 2016, serangan DDoS besar turut melumpuhkan layanan Dyn, perusahaan yang menyediakan layanan infrastruktur DNS. Serangan tersebut berdampak pada sejumlah layanan internet populer dan menunjukkan bagaimana perangkat IoT yang terlihat sederhana dapat digunakan untuk menghasilkan serangan siber dalam skala besar.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh penting bahwa keamanan perangkat IoT tidak boleh dianggap remeh.

 

Bagaimana Cara Kerja Mirai?

Cara kerja Mirai sebenarnya memanfaatkan kelemahan yang cukup sederhana. Malware ini melakukan pemindaian terhadap internet untuk mencari perangkat IoT yang dapat diakses dan menggunakan kredensial bawaan atau kombinasi nama pengguna dan kata sandi yang mudah ditebak.

Pada perangkat yang masih menggunakan kredensial bawaan, Mirai dapat mencoba masuk menggunakan kombinasi tersebut. Jika berhasil, perangkat kemudian dapat terinfeksi dan bergabung dengan jaringan botnet. Dengan kata lain, pengguna tidak harus mengeklik tautan phishing atau mengunduh file mencurigakan agar perangkatnya terinfeksi.

Dalam kasus Mirai, membiarkan pengaturan keamanan bawaan perangkat tetap aktif dapat menjadi masalah besar. Setelah berhasil mengambil alih perangkat, malware dapat menghubungkannya dengan infrastruktur pengendalian botnet. Perangkat tersebut kemudian dapat menerima perintah dari operator.

Mirai secara historis menargetkan perangkat berbasis arsitektur tertentu, termasuk perangkat yang menggunakan prosesor ARC dan sistem berbasis Linux yang sederhana. Namun, konsep serangannya yang lebih luas—memanfaatkan perangkat IoT dengan kredensial lemah dan keamanan buruk—menjadi pelajaran penting bagi keamanan perangkat pintar secara umum.

 

Apa Saja Contoh Perangkat IoT?

Internet of Things (IoT) adalah istilah yang digunakan untuk perangkat fisik yang dapat terhubung dan bertukar data melalui jaringan internet. Perangkat IoT tidak hanya berupa gadget. Teknologi ini telah digunakan di rumah, industri, fasilitas kesehatan, pertanian, transportasi, hingga lingkungan perkotaan. Contohnya antara lain:

  • Kamera CCTV
  • Router
  • DVR
  • Monitor bayi
  • Smart TV
  • Speaker pintar
  • Peralatan rumah tangga pintar
  • Kendaraan terhubung internet
  • Perangkat pertanian
  • Perangkat medis
  • Perangkat pemantauan lingkungan
  • Detektor asap
  • Berbagai sensor industri

Masalahnya, tidak semua perangkat tersebut dirancang dengan tingkat keamanan yang sama. Sebagian perangkat murah menggunakan konfigurasi bawaan yang tidak pernah diubah oleh pemilik. Ada pula perangkat yang jarang mendapatkan pembaruan firmware setelah dibeli.

Kondisi tersebut menciptakan peluang bagi malware seperti Mirai.

 

Mengapa Password Bawaan Sangat Berbahaya?

Salah satu pelajaran terbesar dari Mirai adalah pentingnya mengganti kredensial bawaan. Perangkat yang baru dibeli biasanya memiliki nama pengguna dan kata sandi yang telah ditentukan produsen. Pengaturan ini memang memudahkan proses instalasi, tetapi dapat menjadi celah jika dibiarkan. Jika banyak perangkat dari sebuah model menggunakan kredensial yang sama, penyerang dapat mencoba kombinasi tersebut terhadap perangkat lain di internet.

Karena itu, mengganti password bawaan merupakan langkah keamanan dasar yang seharusnya dilakukan segera setelah perangkat dipasang. Gunakan password yang panjang, unik, dan tidak digunakan pada akun atau perangkat lain.

 

Siapa Pembuat Mirai?

Mirai dikaitkan dengan Paras Jha dan Josiah White, yang saat itu masih berusia muda. Keduanya mendirikan perusahaan bernama Protraf Solutions yang menawarkan layanan mitigasi serangan DDoS. Kasus tersebut menarik perhatian karena terdapat konflik kepentingan yang jelas. Di satu sisi, bisnis mereka menawarkan perlindungan terhadap serangan DDoS, sedangkan botnet yang mereka bangun digunakan untuk melancarkan serangan.

Botnet tersebut juga dikaitkan dengan aktivitas seperti penyewaan infrastruktur untuk serangan DDoS dan penipuan klik. Kasus Mirai menunjukkan bahwa botnet tidak hanya dapat digunakan untuk tujuan politik atau spionase. Botnet juga dapat menjadi bagian dari model kejahatan siber yang bertujuan mendapatkan keuntungan finansial.

 

Mengapa Mirai Masih Berbahaya?

Meskipun pembuat awalnya telah ditangkap dan kasus hukumnya telah berjalan, ancaman Mirai tidak otomatis berakhir. Penyebab utamanya adalah kode sumber Mirai telah menyebar.

Ketika kode malware tersedia untuk dipelajari dan dimodifikasi, pelaku lain tidak perlu memulai dari nol. Mereka dapat mengambil konsep, teknik, atau bagian kode yang sudah ada dan mengembangkannya untuk menyerang perangkat atau kerentanan baru.

Sejumlah varian kemudian muncul, termasuk Okiru, Satori, Masuta, dan PureMasuta.

Ada pula varian OMG yang dapat memanfaatkan perangkat IoT sebagai proxy. Dalam konteks kejahatan siber, perangkat yang telah dikuasai dapat digunakan sebagai perantara sehingga aktivitas penyerang lebih sulit dikaitkan secara langsung dengan identitas aslinya.

Kemudian muncul keluarga botnet yang dikenal dengan nama IoTrooper atau Reaper. Ancaman tersebut menunjukkan bahwa teknik yang diperkenalkan Mirai dapat berkembang menjadi bentuk serangan yang lebih luas. Jadi, Mirai bukan hanya satu malware yang pernah menyerang internet pada 2016. Mirai juga menjadi semacam cetak biru bagi munculnya berbagai ancaman IoT setelahnya.

 

Mengenal Model Botnet

Untuk memahami bagaimana botnet dapat bekerja, kita perlu mengenal cara perangkat yang terinfeksi berkomunikasi dengan operatornya. Secara umum, terdapat beberapa model pengendalian botnet.

  1. Botnet Terpusat
    Model paling mudah dibayangkan adalah botnet terpusat. Bayangkan sebuah pertunjukan teater. Ada seorang sutradara yang memberikan instruksi kepada seluruh pemain. Dalam botnet, server Command and Control (C&C) atau Command and Control Server (C2) berperan sebagai sutradara.  Perangkat yang terinfeksi menjadi para pemain.

    Setelah terinfeksi, bot akan berkomunikasi dengan server C&C.Server tersebut kemudian dapat mengirimkan perintah untuk melakukan berbagai aktivitas, misalnya mengirim spam atau menjalankan serangan DDoS. Kelemahan model ini adalah keberadaan satu titik pusat. Jika server C&C berhasil ditemukan dan dimatikan, operator dapat kehilangan kendali terhadap banyak perangkat sekaligus.

  2. C&C Bertingkat
    Untuk mengatasi kelemahan tersebut, botnet dapat menggunakan struktur bertingkat. Dalam model ini, pengendalian dibagi ke dalam beberapa server atau lapisan. Server tertentu dapat mengatur kelompok bot, sementara server lain menangani tugas berbeda. Struktur seperti ini membuat botnet lebih sulit dihentikan karena tidak bergantung pada satu titik pusat saja.

  3. Botnet Terdesentralisasi
    Model yang lebih kompleks adalah botnet peer-to-peer (P2P). Dalam jaringan P2P, perangkat yang terinfeksi tidak harus bergantung pada satu server pusat. Bot dapat saling berkomunikasi dan meneruskan informasi. Model ini mengurangi risiko satu titik kegagalan.

    Jika satu perangkat atau server berhasil ditutup, jaringan botnet masih dapat bertahan melalui perangkat lainnya. Trojan.Peacomm dan Stormnet merupakan contoh malware yang pernah dikaitkan dengan botnet P2P.

 

Bagaimana Perangkat IoT Menjadi "Zombie"?

Istilah zombie digunakan untuk menggambarkan perangkat yang telah dikuasai penyerang tanpa sepengetahuan pemiliknya. 

Pada komputer pribadi, infeksi malware sering kali bermula dari phishing. Korban menerima email palsu, kemudian mengeklik tautan berbahaya atau membuka lampiran yang telah terinfeksi. Mirai menggunakan pendekatan yang berbeda. Korban tidak selalu harus melakukan kesalahan seperti mengeklik tautan mencurigakan. Perangkat dapat menjadi sasaran hanya karena memiliki konfigurasi keamanan yang lemah.

Misalnya, sebuah kamera CCTV dipasang dan langsung digunakan dengan password bawaan. Kamera tersebut mungkin tetap berfungsi normal selama berbulan-bulan. Pemilik dapat melihat rekaman, mengakses kamera, dan menggunakannya seperti biasa.

Namun, di balik layar, perangkat tersebut bisa saja telah menjadi bagian dari botnet. Inilah salah satu alasan mengapa malware IoT sulit diketahui.

 

Apa Hubungan Mirai dengan Click Fraud?

Selain serangan DDoS, botnet dapat digunakan untuk menghasilkan keuntungan secara ilegal melalui click fraud. Dalam sistem periklanan digital, pay-per-click (PPC) atau cost-per-click (CPC) memungkinkan pengiklan membayar berdasarkan jumlah klik pada iklan mereka.

Masalah muncul ketika klik tersebut bukan berasal dari pengguna asli, melainkan dibuat secara sengaja menggunakan bot. Praktik tersebut dikenal sebagai click fraud. Botnet dapat digunakan untuk menghasilkan klik dalam jumlah besar sehingga pengiklan membayar aktivitas yang sebenarnya tidak memberikan nilai bisnis.

Dengan demikian, perangkat yang telah menjadi zombie bukan hanya dapat digunakan untuk menyerang situs web, tetapi juga untuk menghasilkan keuntungan bagi operator botnet.

 

Mengapa Botnet Sangat Berbahaya?

Bahaya botnet tidak hanya dirasakan oleh pemilik perangkat yang terinfeksi. Sebuah perangkat IoT yang diretas mungkin menjadi bagian kecil dari jaringan besar. Namun, jika ribuan atau jutaan perangkat bekerja secara bersamaan, dampaknya dapat menjadi sangat besar. Botnet dapat digunakan untuk:

  • Melancarkan serangan DDoS.
  • Mengirim email spam.
  • Menghasilkan klik palsu pada iklan.
  • Mengganggu layanan internet.
  • Membantu aktivitas pencurian data.
  • Menjadi perantara aktivitas penyerang.
  • Mencoba membobol akun dengan kredensial yang lemah.
  • Memeras organisasi dengan ancaman serangan DDoS.

Serangan DDoS sendiri bekerja dengan membanjiri layanan menggunakan permintaan atau lalu lintas dalam jumlah besar. Akibatnya, server kesulitan melayani pengguna yang sebenarnya.

 

Mengapa Penyebaran Botnet Sulit Dihentikan?

Masalah botnet bukan hanya persoalan teknologi. Ada sejumlah faktor yang membuat penyebarannya sulit dikendalikan.

  • Pemilik Perangkat
    Banyak pemilik IoT tidak menyadari bahwa perangkat mereka berisiko menjadi sasaran. Selama kamera, router, atau perangkat pintar masih berfungsi, pengguna mungkin tidak melihat alasan untuk memeriksa keamanannya. Bahkan setelah perangkat direstart, masalah belum tentu selesai. Perangkat yang rentan dapat kembali diserang jika tetap menggunakan konfigurasi yang sama. Karena itu, restart bukan solusi permanen. Pengguna tetap perlu memperbarui firmware dan mengganti kredensial bawaan.

  • Produsen Perangkat
    Produsen juga menghadapi tantangan. Perangkat IoT murah sering dirancang dengan mempertimbangkan biaya produksi. Dukungan keamanan jangka panjang mungkin tidak menjadi prioritas. Ada perangkat yang mendapatkan pembaruan selama beberapa tahun, tetapi ada pula produk yang berhenti mendapatkan pembaruan setelah masa dukungan berakhir. Ketika perangkat tetap digunakan dan terhubung ke internet, kerentanan yang tidak diperbaiki dapat menjadi pintu masuk bagi penyerang.

  • Jumlah Perangkat yang Sangat Besar
    Jumlah perangkat IoT yang terus bertambah membuat permukaan serangan semakin luas. Setiap perangkat baru yang terhubung ke internet berpotensi menjadi target apabila tidak diamankan dengan baik. Satu perangkat mungkin tidak terlihat berbahaya. Namun, ribuan perangkat dengan kelemahan serupa dapat menjadi kekuatan besar ketika dikendalikan dalam satu botnet.

  • Botnet Semakin Mudah Diakses
    Kemunculan layanan kriminal siber juga membuat botnet lebih mudah dimanfaatkan. Pada masa tertentu, layanan botnet bahkan dapat disewa dengan harga relatif murah. Artinya, pelaku tidak selalu harus memiliki kemampuan teknis untuk membangun botnet dari awal. Model crime-as-a-service memungkinkan berbagai kemampuan kriminal dijual sebagai layanan.

  • Standar Keamanan IoT Belum Seragam
    Perangkat IoT berasal dari berbagai produsen, negara, sistem operasi, dan ekosistem. Tidak semua perangkat memiliki standar keamanan yang sama. Sebagian produsen menyediakan pembaruan rutin, sedangkan sebagian lainnya memberikan dukungan yang sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat keamanan IoT menjadi persoalan bersama yang melibatkan produsen, pengguna, penyedia layanan internet, regulator, dan penegak hukum.

 

Apakah Perangkat yang Terinfeksi Akan Menjadi Lambat?

Belum tentu.

Ini salah satu alasan mengapa botnet sulit dideteksi. Perangkat yang telah terinfeksi masih dapat menjalankan fungsi utamanya. Kamera tetap dapat merekam, router tetap dapat menyediakan koneksi internet, dan perangkat pintar tetap dapat dikendalikan melalui aplikasi.

Dalam beberapa kasus, perangkat mungkin mengalami penurunan performa atau menggunakan bandwidth lebih besar. Namun, tidak adanya gejala yang jelas bukan berarti perangkat aman.

 

Bagaimana Cara Melindungi Perangkat IoT dari Botnet?

Kabar baiknya, pengguna dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko.

  1. Ganti Password Bawaan
    Ini merupakan langkah paling penting. Segera ubah username dan password bawaan setelah perangkat dipasang. Gunakan password yang panjang, unik, dan tidak digunakan pada perangkat lain.

  2. Perbarui Firmware
    Periksa apakah produsen menyediakan pembaruan firmware. Pembaruan dapat memperbaiki kerentanan keamanan yang ditemukan setelah produk beredar. Jika tersedia fitur pembaruan otomatis, aktifkan fitur tersebut.

  3. Matikan Fitur yang Tidak Dibutuhkan
    Nonaktifkan layanan atau fitur yang tidak digunakan. Jika perangkat tidak membutuhkan akses jarak jauh, pertimbangkan untuk mematikannya. Begitu pula dengan layanan jaringan yang tidak diperlukan. Semakin sedikit fitur yang terbuka, semakin kecil pula permukaan serangan.

  4. Jangan Sembarangan Membuka Port ke Internet
    Hindari membuat perangkat seperti CCTV, DVR, atau perangkat IoT lain dapat diakses langsung dari internet melalui konfigurasi port forwarding yang tidak diperlukan. Jika membutuhkan akses jarak jauh, gunakan mekanisme yang lebih aman dan ikuti rekomendasi keamanan dari produsen.

  5. Pisahkan Jaringan IoT
    Jika router mendukung jaringan tamu atau jaringan IoT khusus, gunakan jaringan tersebut untuk perangkat pintar. Misalnya, laptop dan smartphone dapat berada di jaringan utama, sedangkan CCTV, smart TV, dan perangkat rumah pintar berada di jaringan IoT. Pemisahan jaringan dapat membantu membatasi dampak jika salah satu perangkat berhasil diretas.

  6. Gunakan Router yang Selalu Diperbarui
    Router merupakan salah satu perangkat paling penting dalam jaringan rumah. Pastikan firmware router diperbarui dan password administrator diganti. Gunakan fitur keamanan seperti firewall jika tersedia.

  7. Periksa Perangkat yang Sudah Tidak Mendapatkan Dukungan
    Jika sebuah perangkat tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan, pertimbangkan untuk menggantinya, terutama jika perangkat tersebut memiliki akses langsung ke internet. Perangkat lama dengan celah yang tidak lagi diperbaiki dapat menjadi sasaran empuk.

  8. Pantau Aktivitas yang Tidak Biasa
    Perhatikan apabila perangkat tiba-tiba menjadi lambat, sering restart, menggunakan bandwidth secara tidak wajar, atau menunjukkan aktivitas jaringan yang tidak dikenal. Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti perangkat telah diretas, tetapi layak diperiksa.

  9. Reset Perangkat Jika Terindikasi Terinfeksi
    Jika perangkat dicurigai telah menjadi bagian dari botnet, putuskan terlebih dahulu koneksinya dari internet. Selanjutnya, lakukan reset sesuai petunjuk produsen, perbarui firmware, dan ganti password. Jangan langsung menghubungkannya kembali ke internet dengan konfigurasi lama. Jika perangkat sudah tidak mendapatkan dukungan keamanan, menggantinya dapat menjadi pilihan yang lebih aman.

 

Pelajaran Penting dari Mirai

Mirai memberikan satu pelajaran penting: keamanan perangkat IoT tidak boleh dianggap sebagai masalah sepele. Sebuah kamera CCTV mungkin hanya digunakan untuk memantau rumah. Router mungkin hanya digunakan untuk menyediakan koneksi internet. Namun, jika perangkat tersebut memiliki celah keamanan, keduanya dapat berubah menjadi alat yang dimanfaatkan penyerang.

Ancaman Mirai juga menunjukkan bahwa keamanan siber bukan hanya soal melindungi komputer dan smartphone. Ketika semakin banyak benda terhubung ke internet, setiap perangkat tersebut menjadi bagian dari ekosistem digital yang harus dilindungi.

Mengganti password bawaan, memperbarui firmware, menggunakan jaringan terpisah, menonaktifkan fitur yang tidak diperlukan, dan mengganti perangkat yang sudah tidak mendapatkan dukungan keamanan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan pengguna.

Pada akhirnya, Mirai bukan sekadar cerita tentang malware yang pernah menggemparkan internet pada 2016. Mirai adalah contoh nyata bagaimana kelemahan kecil pada perangkat yang jumlahnya sangat banyak dapat berubah menjadi ancaman besar.

Semakin banyak perangkat yang terhubung ke internet, semakin penting pula memastikan perangkat tersebut tidak hanya pintar dan praktis, tetapi juga aman.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait