Ancaman Siber Meningkat, Ini Peran Security Service Edge
- Rita Puspita Sari
- •
- 18 jam yang lalu
Ilustrasi cyber security
Transformasi digital yang semakin masif telah mengubah cara organisasi menjalankan bisnis dan mengelola sistem teknologi informasinya. Aplikasi tidak lagi terpusat di satu data center, melainkan tersebar di environment cloud, Software as a Service (SaaS), hingga aplikasi privat yang diakses dari berbagai lokasi. Di sisi lain, pola kerja hybrid dan remote membuat karyawan, mitra, serta kontraktor mengakses sistem perusahaan dari mana saja dan menggunakan berbagai perangkat. Kondisi ini memunculkan tantangan besar dalam menjaga keamanan siber secara konsisten.
Untuk menjawab tantangan tersebut, lahirlah konsep Security Service Edge (SSE). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Gartner pada tahun 2021 sebagai pendekatan keamanan modern yang dirancang khusus untuk lingkungan digital yang semakin terdistribusi.
Apa Itu Security Service Edge (SSE)?
Security Service Edge (SSE) adalah kumpulan teknologi keamanan yang berfungsi melindungi akses ke web, layanan cloud, dan aplikasi privat tanpa bergantung pada lokasi pengguna, perangkat yang digunakan, maupun tempat aplikasi dihosting. Dengan kata lain, SSE memastikan keamanan tetap terjaga meskipun pengguna bekerja dari kantor, rumah, atau lokasi lain dengan koneksi internet.
Kemampuan utama SSE mencakup perlindungan dari ancaman siber, keamanan data, kontrol akses berbasis identitas, pemantauan aktivitas keamanan, serta pengaturan penggunaan yang sesuai dengan kebijakan organisasi. Seluruh fungsi ini dijalankan melalui integrasi berbasis jaringan dan Application Programming Interface (API), sehingga lebih fleksibel dan mudah diadopsi dibandingkan pendekatan keamanan tradisional.
Bagaimana Cara Kerja SSE?
Dalam implementasinya, SSE menggabungkan berbagai fungsi keamanan yang sebelumnya berdiri sendiri dan menyediakannya sebagai layanan berbasis cloud. Pendekatan ini membuat organisasi tidak lagi bergantung pada perangkat keras keamanan di kantor atau data center.
Kapabilitas inti dalam SSE meliputi Secure Web Gateway (SWG) untuk melindungi akses internet dari malware dan situs berbahaya, Zero Trust Network Access (ZTNA) untuk memberikan akses aman ke aplikasi, Firewall-as-a-Service (FWaaS) sebagai perlindungan jaringan berbasis cloud, serta Cloud Access Security Broker (CASB) untuk mengontrol dan mengamankan penggunaan aplikasi cloud.
Selain komponen utama tersebut, SSE juga dapat diperkuat dengan fitur tambahan seperti Data Loss Prevention (DLP) untuk mencegah kebocoran data sensitif, Digital Experience Monitoring (DEM) untuk memantau kualitas pengalaman pengguna, keamanan DNS, Remote Browser Isolation (RBI), sandboxing, hingga threat intelligence. Kombinasi ini menjadikan SSE sebagai solusi keamanan yang komprehensif dan adaptif.
Prinsip Zero Trust sebagai Fondasi SSE
Salah satu pilar utama SSE adalah penerapan prinsip zero trust. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa tidak ada pengguna, perangkat, atau aplikasi yang dapat dipercaya secara otomatis, meskipun berasal dari jaringan internal. Setiap permintaan akses harus diverifikasi secara terus-menerus berdasarkan identitas pengguna, kondisi perangkat, lokasi, serta tingkat risiko.
Melalui pendekatan ini, pengguna hanya diberikan akses minimum yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya. Strategi tersebut terbukti efektif dalam menurunkan risiko penyalahgunaan akses dan memperkecil dampak jika terjadi insiden keamanan, sekaligus meningkatkan pengalaman pengguna karena akses menjadi lebih terkontrol dan konsisten.
Peran SSE dalam Mendukung Tenaga Kerja Hybrid
Model kerja hybrid telah menjadi standar baru di banyak organisasi. Namun, kondisi ini membuat tim TI dan keamanan menghadapi tantangan dalam melindungi pengguna yang tersebar di berbagai lokasi. Mayoritas akses kini langsung menuju aplikasi SaaS, layanan cloud, dan aplikasi privat melalui internet, tanpa melewati perimeter keamanan tradisional.
Akibatnya, permukaan serangan menjadi semakin luas, sementara ancaman siber terus berkembang baik dari sisi jumlah maupun kompleksitas. Arsitektur keamanan lama yang berfokus pada data center tidak lagi memadai untuk menghadapi situasi ini.
SSE hadir sebagai solusi dengan menyediakan perlindungan keamanan yang konsisten di mana pun pengguna berada. Selain itu, SSE juga menyederhanakan proses akses bagi pekerja hybrid dan mengurangi kompleksitas pengelolaan sistem keamanan, sehingga tim TI dapat lebih fokus pada strategi dan inovasi.
Manfaat Utama Penerapan SSE
Penerapan SSE memberikan berbagai manfaat strategis bagi organisasi. Pertama, SSE membantu meminimalkan risiko melalui perlindungan keamanan siber canggih yang didukung kebijakan granular berbasis zero trust. Kedua, pengalaman pengguna menjadi lebih sederhana karena hanya menggunakan satu pendekatan akses untuk seluruh aplikasi, baik cloud maupun privat.
Dari sisi operasional, SSE memudahkan tim TI dengan satu konsol manajemen, satu klien, kebijakan yang terpusat, serta laporan yang terintegrasi. SSE juga berperan penting dalam menjaga kelangsungan bisnis dengan mengurangi potensi gangguan operasional, kerusakan reputasi, dan kerugian finansial akibat insiden keamanan.
Selain itu, SSE mampu mengamankan seluruh aplikasi privat, termasuk aplikasi khusus yang menggunakan port atau protokol non-standar. Organisasi juga memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap penggunaan aplikasi cloud, tingkat risikonya, serta aktivitas shadow IT yang sebelumnya sulit terdeteksi.
Perbedaan SSE dan SASE
Sebelum SSE diperkenalkan, Gartner lebih dahulu memperkenalkan konsep Secure Access Service Edge (SASE) pada tahun 2019. SASE merupakan pendekatan yang menggabungkan kemampuan keamanan dan jaringan dalam satu layanan berbasis cloud. Dalam konteks ini, SSE dapat dipandang sebagai bagian keamanan dari arsitektur SASE.
Keduanya sama-sama dibangun di atas prinsip zero trust. Perbedaannya, SSE berfokus pada aspek keamanan akses dan perlindungan aplikasi, sedangkan SASE memperluasnya dengan integrasi manajemen jaringan berbasis cloud seperti SD-WAN.
SSE atau SASE: Mana yang Tepat?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua organisasi. Keputusan untuk mengadopsi SSE atau SASE sangat bergantung pada kebutuhan, kondisi infrastruktur, serta strategi TI masing-masing organisasi. Faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain keberadaan jaringan SD-WAN, struktur tim TI dan keamanan, kontrak layanan yang sedang berjalan, siklus pembaruan perangkat keras, serta prioritas antara peningkatan keamanan dan jaringan.
Banyak organisasi, khususnya perusahaan besar, memilih pendekatan bertahap. Mereka memulai dengan mengadopsi SSE untuk memperkuat sisi keamanan, sambil tetap mempertahankan infrastruktur jaringan yang ada. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas dan memungkinkan transisi yang lebih mulus menuju arsitektur keamanan dan jaringan yang lebih modern di masa depan.
Dengan dinamika ancaman dan kebutuhan bisnis yang terus berubah, fleksibilitas dalam mengombinasikan SSE dan elemen SASE menjadi kunci utama bagi organisasi dalam membangun fondasi keamanan digital yang tangguh dan berkelanjutan.
