Cisco Ungkap 3 Strategi Hadapi Serangan Siber Berbasis AI
- Rita Puspita Sari
- •
- 11 jam yang lalu
Ilustrasi Serangan Siber AI
Serangan siber berbasis artificial intelligence (AI) menjadi tantangan baru bagi perusahaan dalam menjaga keamanan sistem digital. Kemampuan AI membantu peretas menemukan celah keamanan dan mengembangkan metode serangan dengan lebih cepat. Untuk menghadapinya, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan pembaruan keamanan atau patching, tetapi juga perlu memperkuat pertahanan jaringan, membatasi pergerakan penyerang, serta mempercepat deteksi dan respons terhadap ancaman.
Director of Cybersecurity Cisco ASEAN, Juan Huat Koo, mengatakan perusahaan perlu mengubah pendekatan keamanan siber agar mampu menghadapi perkembangan ancaman yang semakin cepat. Menurut dia, menambal celah keamanan tetap penting, tetapi langkah tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya strategi untuk melindungi infrastruktur digital perusahaan. Ia menjelaskan bahwa perusahaan perlu memperkuat pertahanan secara bertahap, mengingat tidak semua sistem dapat diperbarui dalam waktu singkat.
"Terus terang, kami merasa mengejar ketertinggalan melalui patching bukanlah satu-satunya jawaban. Sebab, celah keamanan bisa ditemukan dengan sangat cepat, sementara proses menambalnya memiliki keterbatasan kecepatan," ujar Juan melansir dari KompasTekno (22/10/2026).
Patching merupakan proses memperbarui perangkat lunak atau sistem untuk memperbaiki kerentanan keamanan yang ditemukan. Meski menjadi salah satu langkah penting dalam keamanan siber, proses ini membutuhkan waktu, pengujian, serta perencanaan agar pembaruan tidak menimbulkan gangguan terhadap operasional perusahaan.
Di sisi lain, penyerang dapat memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat pencarian celah keamanan, menganalisis kelemahan sistem, hingga menggabungkan beberapa kerentanan menjadi rangkaian serangan yang lebih efektif. Kondisi ini membuat perusahaan berisiko tertinggal apabila hanya mengandalkan pembaruan keamanan secara berkala.
Risiko tersebut juga tergambar dalam Relentless Defense Report dari Cisco. Laporan itu mencatat bahwa 95 persen organisasi di Indonesia mengalami insiden siber berdampak signifikan yang mengganggu operasional bisnis dalam 12 bulan terakhir. Lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat AI.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman siber tidak hanya berpotensi menyebabkan kebocoran data, tetapi juga mengganggu kelangsungan bisnis. Karena itu, perusahaan perlu membangun sistem pertahanan yang mampu mengenali ancaman, membatasi dampak penyusupan, dan merespons serangan secara cepat.
Juan membagi upaya penguatan keamanan siber menjadi tiga tahap, yakni urgent, structural, dan strategic. Ketiganya mencakup tindakan mendesak untuk mengenali serta memperbaiki kerentanan, penguatan struktur pertahanan jaringan, hingga pemanfaatan AI untuk mempercepat deteksi dan respons terhadap serangan.
1. Kenali aset digital dan tutup celah keamanan mendesak
Langkah pertama adalah memastikan perusahaan mengetahui seluruh aset digital yang dimiliki dan digunakan. Aset tersebut mencakup perangkat yang terhubung ke jaringan, aplikasi, server, serta berbagai komponen infrastruktur teknologi informasi (TI).
Menurut Juan, perusahaan perlu mengetahui secara pasti perangkat apa saja yang terhubung ke jaringan, aplikasi apa yang digunakan, dan bagian mana dari infrastruktur TI yang berpotensi memiliki celah keamanan.
Inventarisasi ini menjadi fondasi penting karena perusahaan tidak dapat melindungi sistem yang keberadaannya tidak diketahui. Perangkat yang terlupakan, aplikasi lama, atau sistem yang tidak lagi dikelola dengan baik dapat menjadi pintu masuk bagi penyerang.
"Keamanan hanya sebaik kemampuan kita untuk melihat apa yang ada di dalam sistem. Jika tidak bisa melihatnya, kita tidak bisa melindunginya," kata Juan.
Setelah seluruh aset teridentifikasi, perusahaan perlu memetakan tingkat risiko dan menentukan sistem mana yang harus mendapatkan penanganan lebih dahulu. Salah satu caranya adalah memeriksa kerentanan yang telah diketahui dan tercatat dalam Common Vulnerabilities and Exposures (CVE).
CVE merupakan katalog publik yang memuat identitas kerentanan keamanan yang diketahui. Informasi tersebut dapat membantu tim keamanan mengidentifikasi sistem yang terdampak dan menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan.
Namun, perusahaan tidak cukup hanya mengumpulkan daftar kerentanan. Mereka juga perlu menetapkan prioritas berdasarkan tingkat keparahan, kemungkinan eksploitasi, serta dampaknya terhadap layanan bisnis. Sistem yang terhubung langsung ke internet atau menyimpan data penting, misalnya, dapat memerlukan perhatian lebih cepat dibandingkan aset dengan risiko lebih rendah.
Selanjutnya, perusahaan perlu menjalankan patching secara rutin dengan frekuensi yang sesuai dengan tingkat ancaman. Pembaruan keamanan sebaiknya tidak hanya dilakukan setiap beberapa bulan, terutama ketika kerentanan kritis telah diketahui dan berpotensi dieksploitasi.
Apabila perangkat sudah tidak lagi mendapatkan dukungan pembaruan keamanan dari produsennya, perusahaan perlu mempertimbangkan modernisasi atau menggantinya dengan sistem yang masih didukung. Sistem yang usang dapat meningkatkan risiko karena kerentanan baru mungkin tidak lagi mendapatkan perbaikan resmi.
Dengan demikian, tahap pertama berfokus pada pengurangan risiko yang paling mendesak. Perusahaan harus mengetahui apa yang perlu dilindungi, menemukan titik lemah, dan memastikan kerentanan prioritas mendapatkan penanganan secepat mungkin.
2. Perkuat pertahanan agar serangan tidak menyebar
Setelah menangani kerentanan yang mendesak, perusahaan perlu membangun pertahanan yang dapat mengurangi dampak serangan apabila peretas berhasil menembus jaringan.
Pendekatan ini disebut structural defense. Prinsip dasarnya adalah perusahaan tidak boleh berasumsi bahwa seluruh sistem akan selalu aman dari penyusupan. Sebaliknya, pertahanan harus dirancang agar keberhasilan penyerang menembus satu bagian sistem tidak otomatis memberinya akses ke seluruh infrastruktur.
Salah satu teknologi yang disebut Juan adalah Cisco Live Protect. Teknologi ini berfungsi sebagai compensating control, yakni mekanisme perlindungan tambahan untuk membantu menekan risiko dari kerentanan tertentu selama perusahaan menunggu penerapan pembaruan keamanan.
Pendekatan tersebut berguna ketika patch belum dapat langsung diterapkan karena membutuhkan pengujian kompatibilitas, penyesuaian konfigurasi, atau penjadwalan pemeliharaan. Dengan perlindungan tambahan, perusahaan dapat mengurangi paparan risiko sembari menyiapkan pembaruan yang sesuai.
Meski demikian, mekanisme perlindungan tambahan tidak menggantikan patching. Perusahaan tetap perlu menerapkan pembaruan yang tersedia untuk memperbaiki kerentanan secara permanen. Tanpa perbaikan tersebut, celah keamanan masih berpotensi dimanfaatkan apabila perlindungan tambahan gagal atau tidak mencakup seluruh skenario serangan.
Selain menggunakan perlindungan tambahan, perusahaan perlu menerapkan network segmentation atau segmentasi jaringan.
Teknik ini membagi jaringan menjadi beberapa bagian dengan pengaturan akses yang berbeda. Setiap bagian hanya dapat berkomunikasi dengan bagian lain sesuai kebutuhan dan kebijakan keamanan yang ditetapkan.
Sebagai contoh, jaringan komputer karyawan dapat dipisahkan dari jaringan yang digunakan untuk mengelola server penting, pusat data, atau sistem keuangan. Dengan pembatasan tersebut, peretas yang berhasil mengambil alih satu perangkat tidak serta-merta dapat mengakses seluruh sistem perusahaan.
Segmentasi juga membantu membatasi pergerakan lateral, yaitu aktivitas penyerang berpindah dari satu perangkat atau sistem ke perangkat lainnya setelah berhasil masuk ke jaringan. Pergerakan semacam ini kerap menjadi bagian penting dalam serangan yang bertujuan memperoleh akses lebih luas, mencuri data, atau melumpuhkan layanan.
Menurut Juan, penerapan segmentasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari jaringan kantor cabang dan kantor pusat hingga jaringan area luas, pusat data, serta lingkungan cloud.
Artinya, perusahaan tidak cukup hanya memperkuat keamanan di satu titik. Seluruh infrastruktur harus memiliki pengaturan akses yang konsisten agar risiko dari satu sistem tidak merembet ke sistem lainnya.
Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat membangun pertahanan berlapis. Jika satu mekanisme keamanan gagal mencegah penyusupan, mekanisme lainnya tetap dapat membatasi ruang gerak penyerang dan mengurangi potensi kerusakan.
3. Gunakan AI untuk melawan serangan dalam kecepatan mesin
Tahap ketiga berfokus pada peningkatan kemampuan deteksi dan respons melalui pemanfaatan AI. Juan menyebut pendekatan ini sebagai machine versus machine, atau mesin melawan mesin.
Pendekatan tersebut muncul karena tim keamanan siber menghadapi volume data dan peringatan keamanan yang semakin besar. Setiap hari, berbagai perangkat menghasilkan informasi mengenai aktivitas jaringan, koneksi, akses pengguna, serta kemungkinan perilaku mencurigakan.
Apabila seluruh informasi itu harus diperiksa secara manual, tim keamanan berisiko terlambat mengenali serangan. Sementara itu, penyerang yang memanfaatkan AI dapat mempercepat berbagai tahapan serangan, sehingga waktu yang tersedia untuk mendeteksi dan menghentikannya menjadi semakin terbatas.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Cisco mendorong penggunaan platform keamanan yang mampu menggabungkan data dari berbagai sumber, termasuk jaringan, firewall, perangkat pengguna, dan sistem keamanan lainnya.
Integrasi data memungkinkan tim keamanan memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai aktivitas di lingkungan TI. Informasi yang sebelumnya tersebar di sejumlah perangkat dapat dianalisis secara terpadu untuk menemukan hubungan antara berbagai kejadian yang tampak tidak berkaitan.
AI kemudian dapat membantu mengidentifikasi pola aktivitas mencurigakan, menghubungkan peringatan dari berbagai sistem, dan memprioritaskan ancaman yang membutuhkan penanganan segera. Dengan cara ini, tim keamanan tidak harus memeriksa setiap peringatan dengan tingkat perhatian yang sama.
Sebagai contoh, aktivitas login yang tidak biasa mungkin terlihat seperti kejadian biasa apabila diperiksa secara terpisah. Namun, ketika dikaitkan dengan perubahan konfigurasi firewall dan komunikasi jaringan yang mencurigakan, aktivitas tersebut dapat menunjukkan adanya upaya penyusupan.
Analisis terpadu membantu tim keamanan memahami konteks kejadian dan menentukan tindakan yang tepat. Dalam kondisi tertentu, otomatisasi juga dapat membantu mempercepat tindakan penanganan, seperti membatasi akses perangkat yang terindikasi terkompromi, sesuai kebijakan dan mekanisme pengawasan yang diterapkan perusahaan.
Juan menilai, kebutuhan terhadap pendekatan ini semakin besar karena perusahaan kerap menggunakan berbagai produk keamanan secara terpisah. Akibatnya, tim keamanan harus menggabungkan informasi dari banyak alat sebelum dapat memahami situasi yang sebenarnya.
Dengan platform terintegrasi, proses analisis dapat berjalan lebih efisien sehingga deteksi dan respons terhadap ancaman berpotensi dilakukan lebih cepat.
Meski demikian, pemanfaatan AI tetap perlu disertai pengawasan manusia, pengelolaan akses, dan evaluasi hasil analisis. Sistem otomatis dapat menghasilkan peringatan keliru atau melewatkan ancaman tertentu. Karena itu, perusahaan perlu memastikan keputusan yang berdampak besar terhadap operasional tetap mengikuti kebijakan keamanan dan prosedur penanganan insiden yang jelas.
Perkuat Pertahanan Sebelum Ancaman Berkembang
Juan memperkirakan kemampuan AI dalam menemukan kerentanan dan mengembangkan eksploitasi akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk tidak lagi mengandalkan satu lapisan perlindungan sebagai solusi utama.
Patching tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan sistem, tetapi efektivitasnya perlu didukung oleh visibilitas aset digital, perlindungan tambahan, segmentasi jaringan, serta kemampuan deteksi dan respons yang terintegrasi.
Ketiga strategi tersebut saling melengkapi. Tahap urgent membantu perusahaan mengenali aset dan menangani kerentanan prioritas. Tahap structural membangun pertahanan berlapis agar penyusupan tidak mudah meluas. Sementara itu, tahap strategic memperkuat kemampuan perusahaan menghadapi ancaman melalui analisis dan respons yang lebih cepat dengan bantuan AI.
Bagi perusahaan, tantangannya bukan sekadar menutup celah keamanan sebanyak mungkin, melainkan memastikan sistem tetap terlindungi ketika kerentanan baru ditemukan atau serangan berhasil menembus pertahanan awal.
Di tengah perkembangan serangan siber berbasis AI, perusahaan perlu membangun strategi keamanan yang adaptif, terukur, dan berkelanjutan. Dengan mengetahui aset yang dimiliki, membatasi pergerakan penyerang, serta mempercepat deteksi dan respons, perusahaan dapat mengurangi risiko gangguan operasional sekaligus meningkatkan ketahanan menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
