5 Tren Keamanan Siber 2026 yang Wajib Diwaspadai Perusahaan


Ilustrasi Cyber Security 15

Ilustrasi Cyber Security

Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa dampak besar bagi dunia bisnis global. Di satu sisi, inovasi seperti Artificial Intelligence (AI) menghadirkan efisiensi dan peluang baru. Namun di sisi lain, kemajuan tersebut juga membuka celah risiko yang semakin kompleks. Memasuki tahun 2026, perusahaan di seluruh dunia dihadapkan pada tantangan keamanan siber yang kian dinamis, mulai dari serangan berbasis AI hingga ancaman terhadap kelangsungan operasional bisnis.

Sepanjang tahun 2025, sektor keamanan siber berada di bawah tekanan berat. Munculnya berbagai teknologi baru mempercepat transformasi digital, tetapi juga memunculkan risiko baru yang belum sepenuhnya dipahami. Kelompok kejahatan siber terus mengembangkan metode serangan, sementara organisasi dipaksa menyesuaikan diri dengan cepat demi menjaga kelangsungan operasional dan kepercayaan pelanggan.

Berikut lima tren utama yang diperkirakan akan membentuk wajah keamanan siber pada tahun 2026.

  1. Tata Kelola dan Pengamanan AI Jadi Fokus Utama
    Adopsi kecerdasan buatan meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok berlomba menjadi pemimpin global dalam pengembangan AI. Di tingkat perusahaan, teknologi ini dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memperkuat layanan kepada pelanggan.

    Namun, di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran besar terkait keamanan. Banyak organisasi mengadopsi AI tanpa disertai sistem pengawasan yang matang. Akibatnya, AI berpotensi disalahgunakan untuk mencuri data, memanipulasi informasi, hingga merusak rantai pasok digital.

    Morgan Adamski dari PwC menyebutkan bahwa terdapat kesenjangan besar antara cepatnya adopsi AI dan kesiapan sistem keamanannya. Banyak perusahaan bereksperimen dengan AI generatif dan agentic AI, namun belum memiliki kebijakan perlindungan yang memadai.

    Laporan Allianz Commercial juga memperkuat kekhawatiran ini. Risiko AI melonjak dari peringkat ke-10 menjadi risiko bisnis terbesar kedua secara global. Oleh karena itu, pada 2026 perusahaan diperkirakan akan lebih fokus membangun tata kelola AI, mulai dari pengawasan penggunaan data, keamanan model, hingga pembatasan akses sistem.

  2. Perubahan Regulasi Siber Mempengaruhi Kewajiban Pelaporan
    Perubahan besar juga terjadi dalam ranah regulasi keamanan siber. Pemerintah Amerika Serikat mulai mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dibandingkan sebelumnya. Alih-alih memperketat aturan secara menyeluruh, pemerintah kini lebih fokus pada area strategis yang benar-benar berisiko tinggi, seperti infrastruktur kritis.

    Haiman Wong dari R Street Institute menjelaskan bahwa pendekatan baru ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara pengawasan dan inovasi. Pemerintah tidak ingin menghambat perkembangan teknologi, tetapi tetap memastikan keamanan nasional terjaga.Salah satu momen penting adalah keputusan SEC pada November 2025 yang membatalkan gugatan terhadap SolarWinds. Kasus ini sebelumnya menimbulkan kekhawatiran luas karena perusahaan dianggap bisa disalahkan meski menjadi korban serangan siber.

    Ke depan, regulator diperkirakan akan lebih menekankan transparansi pasca-insiden, terutama dalam hal pelaporan kejadian siber yang berdampak material. Perusahaan diharapkan lebih terbuka dalam menyampaikan risiko dan dampak insiden kepada publik dan investor.

  3. Asuransi Siber Memasuki Fase Baru
    Industri asuransi siber juga mengalami transformasi besar. Selama beberapa tahun terakhir, meningkatnya serangan ransomware dan aksi peretas negara membuat perusahaan asuransi lebih berhati-hati dalam memberikan perlindungan.

    Kini, meskipun cakupan asuransi mulai diperluas kembali, persyaratannya jauh lebih ketat. Perusahaan yang ingin mendapatkan perlindungan diwajibkan memiliki sistem keamanan berlapis, seperti autentikasi multi-faktor, sistem deteksi ancaman canggih (XDR), serta cadangan data yang tidak dapat diubah.

    Menurut Monica Shokrai dari Google Cloud, perusahaan yang tidak memenuhi standar ini tidak hanya akan dikenakan premi tinggi, tetapi bahkan bisa ditolak perlindungannya. Hal ini mendorong perusahaan untuk lebih serius berinvestasi dalam keamanan siber sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban teknis.

  4. Krisis CVE Mereda, Namun Tantangan Patch Masih Besar
    Pengelolaan celah keamanan atau vulnerabilities masih menjadi tantangan utama. Celah inilah yang sering dimanfaatkan peretas untuk masuk ke sistem perusahaan.Pada 2025, dunia keamanan siber sempat diguncang oleh ancaman berhentinya pendanaan program CVE (Common Vulnerabilities and Exposures). Program ini sangat vital karena menjadi basis data global untuk mendata dan mengklasifikasikan kerentanan perangkat lunak.

    Beruntung, CISA dan MITRE berhasil menyelamatkan program tersebut dan merancang pembaruan jangka panjang. Meski begitu, para ahli menilai bahwa organisasi tidak bisa hanya bergantung pada daftar CVE. Mereka harus mampu menganalisis risiko secara kontekstual, mempertimbangkan tingkat eksploitasi, dampak bisnis, dan kecepatan perbaikan.

    Pendekatan “Secure by Design” kini semakin ditekankan agar keamanan sudah menjadi bagian dari proses pengembangan sistem sejak awal.

  5. Ketahanan Operasional Jadi Kunci Menghadapi Serangan Siber
    Tren paling mencolok dalam beberapa tahun terakhir adalah perubahan tujuan serangan siber. Jika sebelumnya peretas berfokus mencuri data, kini mereka menargetkan kelangsungan operasional perusahaan.

    Serangan terhadap Marks & Spencer, United Natural Foods, hingga Jaguar Land Rover membuktikan bahwa gangguan sistem dapat melumpuhkan produksi dan rantai pasok dalam waktu singkat. Strategi ini terbukti efektif untuk menekan korban agar membayar tebusan.Menurut Sam Rubin dari Palo Alto Networks, kelompok peretas kini memanfaatkan teknik rekayasa sosial tingkat lanjut, termasuk vishing dan manipulasi help desk, untuk menembus sistem internal.

    Situasi ini memaksa jajaran direksi dan manajemen puncak menjadikan keamanan siber sebagai bagian inti dari strategi bisnis. Ketahanan operasional, rencana pemulihan bencana, dan simulasi insiden kini menjadi kebutuhan utama agar perusahaan tetap mampu bertahan di tengah ancaman yang terus berkembang.

Tahun 2026 akan menjadi periode krusial bagi dunia keamanan siber. Perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus membangun tata kelola yang kuat, meningkatkan kesadaran karyawan, serta menyiapkan strategi respons yang matang.

Di era digital yang semakin kompleks, keamanan siber bukan lagi urusan teknis semata, melainkan fondasi utama keberlangsungan bisnis.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait