BeyondTrust Ungkap Bahaya Privileged Access bagi Perusahaan


Raymondus Solutions Engineer Beyondtrust

Raymondus Solutions Engineer Beyondtrust dalam Acara Data Security Summit 2026

Di tengah meningkatnya ancaman siber yang menyasar berbagai sektor industri, keamanan data kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai persoalan teknologi informasi. Perlindungan data telah berkembang menjadi bagian penting dari tata kelola perusahaan, manajemen risiko, kepatuhan terhadap regulasi, hingga faktor utama dalam membangun kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis.

Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Data Security Summit 2026, ketika Solutions Engineer BeyondTrust, Raymondus, memaparkan bahwa serangan siber modern tidak lagi hanya berupaya menembus sistem, tetapi berusaha memperoleh hak akses dengan tingkat privilese tinggi agar dapat mengendalikan seluruh lingkungan digital organisasi.

Menurut Raymondus, akses istimewa (privileged access) telah menjadi sasaran utama para pelaku kejahatan siber karena mampu membuka jalan menuju aset digital paling bernilai dalam sebuah perusahaan.

"Penyerang saat ini tidak hanya menginginkan akses ke sistem. Mereka menginginkan kekuasaan atas infrastruktur digital perusahaan. Ketika hak akses dengan privilese tinggi jatuh ke tangan yang salah, risiko keamanan akan langsung berubah menjadi risiko bisnis yang dapat memengaruhi operasional, reputasi, hingga keberlangsungan organisasi," ujar Raymondus.

 

Identitas Digital Menjadi Garis Pertahanan Terakhir

Raymondus menjelaskan bahwa lanskap identitas digital telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya organisasi hanya perlu mengelola identitas pengguna manusia, kini jumlah identitas non-manusia berkembang sangat pesat.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini perbandingan identitas non-manusia terhadap pengguna manusia telah mencapai sekitar 45 banding 1. Identitas tersebut mencakup akun layanan (service account), aplikasi, API, mesin virtual, perangkat otomatis, hingga agen berbasis kecerdasan buatan (AI Agents) yang mulai digunakan secara luas dalam proses bisnis.

Pertumbuhan identitas digital tersebut secara langsung memperluas permukaan serangan (attack surface) yang harus diamankan perusahaan.

"Selama bertahun-tahun kita sudah menghadapi tantangan besar dalam mengamankan identitas manusia. Kini tantangannya semakin kompleks karena pertumbuhan mesin otomatis dan AI Agent menciptakan jutaan identitas baru yang juga memiliki hak akses terhadap sistem. Pada kondisi seperti ini, identitas menjadi perimeter keamanan yang paling penting," kata Raymondus.

Ia menambahkan bahwa semakin banyak identitas yang memiliki akses ke sistem, semakin besar pula peluang bagi pelaku kejahatan siber menemukan celah untuk melakukan kompromi.

 

Mengapa Data Menjadi Target Utama Penjahat Siber?

Dalam paparannya, Raymondus menegaskan bahwa data merupakan tujuan utama hampir seluruh serangan siber modern. Berbeda dengan kata sandi yang masih dapat diganti setelah mengalami kebocoran, data pelanggan, informasi keuangan, maupun kekayaan intelektual memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan tidak dapat dipulihkan begitu saja setelah dicuri.

Menurutnya, pelaku serangan memahami bahwa perusahaan akan berada dalam tekanan besar ketika sistem berhenti beroperasi akibat ransomware maupun serangan lainnya. Kondisi tersebut sering kali memaksa organisasi mengambil keputusan secara cepat, termasuk membayar tebusan atau melakukan penyelesaian tertentu demi memulihkan layanan.

Selain itu, insiden kebocoran data juga memunculkan konsekuensi yang jauh lebih luas, mulai dari kewajiban pelaporan kepada regulator, sanksi hukum, denda administratif, hingga menurunnya kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis.

"Data adalah aset yang paling bernilai. Ketika data pelanggan atau informasi penting perusahaan dicuri, dampaknya tidak berhenti pada insiden teknis saja, tetapi bisa berkembang menjadi persoalan hukum, finansial, dan reputasi yang berlangsung dalam jangka panjang," jelas Raymondus.

Raymondus Solutions Engineer Beyondtrust dalam Acara Data Security Summit 2026

Permukaan Serangan Semakin Luas

Raymondus menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa organisasi semakin mudah menjadi target adalah meningkatnya kompleksitas infrastruktur TI.

Saat ini perusahaan harus mengelola berbagai endpoint, layanan cloud, aplikasi Software as a Service (SaaS), hingga sistem lama (legacy system) yang masih digunakan secara bersamaan. Kompleksitas tersebut membuat banyak organisasi kesulitan mengetahui seluruh aset digital yang dimiliki.

Di sisi lain, akses dari vendor, mitra bisnis, pekerja jarak jauh, serta penggunaan kredensial bersama turut memperbanyak pintu masuk yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku serangan.

Tidak hanya itu, masih banyak organisasi yang memiliki akun dengan hak akses berlebihan (over-privileged account) maupun akun yang sudah tidak digunakan tetapi belum dinonaktifkan. Kondisi tersebut memungkinkan penyerang memperluas serangan dengan cepat setelah berhasil memperoleh satu titik akses awal.

Raymondus juga menyoroti masih banyaknya blind spot atau area yang tidak terpantau dalam lingkungan TI perusahaan. Kurangnya visibilitas membuat aktivitas mencurigakan, kesalahan konfigurasi, maupun penyalahgunaan hak akses sering kali baru diketahui setelah terjadi eksploitasi.

 

Dampak Serangan Tidak Berhenti pada Gangguan Operasional

Dalam paparannya, Raymondus mengingatkan bahwa dampak serangan siber jauh melampaui kerusakan teknis. Ketika serangan berhasil terjadi, perusahaan berpotensi mengalami penghentian operasional karena sistem harus dimatikan sementara. Aktivitas bisnis terpaksa dilakukan secara manual dengan biaya pemulihan yang tidak sedikit, sementara operasional perusahaan tetap harus berjalan.

Kebocoran data juga dapat memicu berbagai konsekuensi lain seperti kewajiban pemberitahuan kepada pelanggan, sanksi regulator, tuntutan hukum, hingga hilangnya kepercayaan publik.

Di sisi finansial, organisasi harus menanggung berbagai biaya sekaligus, mulai dari pembayaran tebusan ransomware, proses pemulihan sistem, investigasi forensik digital, pendampingan hukum, hingga kehilangan pendapatan akibat terganggunya layanan.

Menurut Raymondus, kerusakan reputasi bahkan sering kali bertahan jauh lebih lama dibanding proses pemulihan teknologi.

 

Visibilitas Menjadi Kunci Pertahanan

Sebagai penutup, Raymondus menekankan bahwa organisasi tidak akan mampu menghentikan serangan secara efektif apabila tidak memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh identitas digital dan hak akses yang beroperasi di dalam sistem.

Tanpa kemampuan memantau siapa yang memiliki akses, bagaimana akses tersebut digunakan, dan sejauh mana penyerang telah bergerak di dalam jaringan, sebuah insiden kecil dapat berkembang menjadi gangguan berskala perusahaan.

"Tanpa visibilitas dan kontrol terhadap identitas serta hak akses, organisasi tidak akan mengetahui seberapa jauh penyerang telah bergerak. Akibatnya, kerusakan yang terjadi hampir selalu lebih besar dari perkiraan. Karena itu, perusahaan harus mampu mengendalikan endpoint, mengontrol hak akses istimewa, dan memiliki visibilitas terhadap setiap identitas yang terhubung ke sistem. Ketiga kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk menutup celah privileged access dan memperkuat ketahanan siber organisasi," pungkas Raymondus.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait