Ransomware Meningkat, Pakar Telkom Minta Zero Trust Diperkuat
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Supriyanto Security Expert PT Telkom Indonesia dalam Acara Data Security Summit 2026
Ancaman ransomware di Indonesia memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Serangan tidak lagi menyasar individu atau perusahaan besar semata, tetapi juga pemerintahan, sektor keuangan, layanan publik, hingga infrastruktur vital yang menopang aktivitas masyarakat.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa keamanan data kini bukan lagi sekadar persoalan teknologi informasi. Perlindungan data telah menjadi bagian penting dari tata kelola organisasi, manajemen risiko, kepatuhan terhadap regulasi, serta fondasi untuk membangun kepercayaan publik di era digital.
Pesan itu disampaikan Security Expert PT Telkom Indonesia, Supriyanto, saat menjadi pembicara dalam Data Security Summit 2026. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa pola serangan siber saat ini semakin terorganisasi, cepat, dan sulit dideteksi apabila organisasi tidak memiliki strategi pertahanan yang memadai.
"Keamanan data saat ini tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai isu teknologi. Ini adalah bagian dari tata kelola organisasi, pengelolaan risiko, kepatuhan terhadap regulasi, sekaligus faktor utama dalam membangun kepercayaan terhadap organisasi berbasis data. Ketika salah satu aspek tersebut gagal, dampaknya bisa meluas ke operasional, reputasi, hingga pelayanan kepada masyarakat," ujar Supriyanto.
Serangan Siber Melonjak Lebih dari Tujuh Kali Lipat
Ancaman siber di Indonesia menunjukkan tren yang semakin meningkat sepanjang 2026. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, tercatat sekitar 1,52 miliar serangan siber terjadi sepanjang periode 1 Januari hingga 15 April 2026.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan selama periode 2020-2024. Ancaman siber kini tidak hanya menyerang pengguna individu, tetapi juga telah berkembang menjadi ancaman terhadap pemerintahan, sektor ekonomi, layanan publik, bahkan keamanan nasional.
Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa transformasi digital yang berlangsung masif di Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan kesiapan keamanan siber di seluruh sektor.
Indonesia Masih Menjadi Sasaran Empuk Ransomware
Supriyanto menjelaskan, Indonesia masih menjadi salah satu target utama kelompok ransomware internasional. Berdasarkan data agregat hasil pemantauan leak site selama periode Januari hingga Juli 2026, sedikitnya terdapat 31 insiden ransomware yang menyerang organisasi di Indonesia.
Beberapa kelompok ransomware yang paling aktif antara lain Nova Ransomware, Everest, dan LockBit 5.0. Target utama mereka adalah instansi pemerintah dan sektor jasa keuangan karena memiliki data bernilai tinggi dan kebutuhan operasional yang tidak boleh berhenti.
"Pemerintahan dan sektor keuangan masih menjadi target favorit kelompok ransomware. Bahkan satu kelompok saja dapat bertanggung jawab terhadap sekitar seperempat dari total serangan yang terjadi. Jangan menunggu sampai organisasi Anda menjadi korban berikutnya," kata Supriyanto.

Tragedi PDNS 2 Menjadi Pelajaran Besar
Salah satu peristiwa yang menjadi titik balik kesadaran keamanan siber nasional adalah insiden Pusat Data Nasional Sementara (PDNS 2) Surabaya pada Juni 2024. Menurut Supriyanto, peristiwa tersebut menghancurkan anggapan bahwa sistem pusat data pemerintah telah sepenuhnya aman.
Serangan yang dilakukan kelompok Brain Cipher, yang merupakan varian dari LockBit 3.0, disertai tuntutan tebusan mencapai USD 8 juta. Dampaknya sangat besar karena lebih dari 210 lembaga pemerintah pusat maupun daerah mengalami gangguan layanan.
Berbagai layanan publik seperti sistem imigrasi, Kartu Indonesia Pintar (KIP), hingga layanan sertifikasi halal ikut terdampak akibat lumpuhnya infrastruktur digital tersebut.
Lebih jauh, hasil investigasi menunjukkan sejumlah kelemahan mendasar, mulai dari tata kelola keamanan yang belum matang, tidak tersedianya cadangan data yang benar-benar terisolasi, hingga arsitektur sistem yang masih memiliki banyak celah.
Dalam pemaparannya, Supriyanto juga mengulas kronologi bagaimana sistem PDNS 2 berhasil ditembus. Penyerang diketahui memperoleh akses awal ke jaringan pada 17 Juni 2024 pukul 23.15 WIB. Setelah berhasil masuk, salah satu langkah pertama yang dilakukan adalah menonaktifkan Windows Defender secara manual, sebuah teknik yang dalam kerangka MITRE ATT&CK dikenal sebagai Impair Defenses.
Dengan mekanisme pertahanan yang telah dilumpuhkan, pelaku dapat menjalankan berbagai aktivitas tanpa terdeteksi. Selanjutnya pada 20 Juni pukul 00.54 WIB, pelaku mulai mengeksekusi payload berbahaya dengan memasang berbagai file berbahaya sekaligus menghapus file sistem penting sebelum akhirnya melakukan proses enkripsi data.
Ransomware Kini Menjadi Industri Kejahatan Siber
Supriyanto menjelaskan bahwa lanskap ancaman pada 2025 hingga 2026 semakin didominasi model Ransomware-as-a-Service (RaaS). Dalam model ini, pengembang ransomware menyediakan platform kepada afiliasi untuk melancarkan serangan sehingga pelaku tidak lagi harus memiliki kemampuan teknis yang tinggi.
Selain itu, sekitar 3,8 persen anomali lalu lintas jaringan di Indonesia berasal dari aktivitas malware. Di tingkat regional, lebih dari 135 ribu serangan ransomware terdeteksi di Asia Tenggara sepanjang 2024.
Yang menjadi perhatian, pola serangan juga telah berubah. Jika sebelumnya pelaku lebih banyak melakukan serangan cepat atau smash and grab, kini mereka memilih bertahan lama di dalam jaringan korban layaknya kelompok Advanced Persistent Threat (APT) untuk mengumpulkan informasi sebelum melancarkan serangan utama.
Malware Pencuri Data Menjadi Pintu Masuk
Rantai serangan ransomware modern biasanya diawali oleh malware pencuri informasi atau Infostealer. Pelaku memanfaatkan berbagai metode seperti perangkat lunak bajakan maupun email phishing agar korban tanpa sadar mengunduh malware.
Setelah aktif, malware akan mencuri kata sandi, cookie, token autentikasi, hingga akses VPN perusahaan. Data tersebut kemudian diperjualbelikan di forum-forum dark web sebelum akhirnya dibeli oleh afiliasi ransomware yang langsung menggunakannya untuk masuk ke jaringan perusahaan tanpa perlu melakukan pembobolan dari awal.
"Deteksi dini pada fase pencurian identitas menjadi kesempatan terbaik untuk menghentikan serangan. Ketika ransomware sudah mulai mengenkripsi data, pilihan organisasi biasanya menjadi jauh lebih terbatas," jelas Supriyanto.
AI Membuat Serangan Semakin Sulit Dideteksi
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Supriyanto menjelaskan bahwa teknik Agentic AI memungkinkan penyerang membuat email phishing yang jauh lebih meyakinkan menggunakan bahasa lokal sehingga tingkat keberhasilannya dapat mencapai 54 hingga 60 persen.
Selain itu, pelaku mulai memanfaatkan deepfake audio atau vishing untuk meniru suara pimpinan perusahaan maupun pejabat sehingga korban percaya sedang menerima instruksi resmi untuk melakukan transfer dana atau membocorkan informasi penting.
Di sisi lain, infrastruktur kritis juga menghadapi ancaman baru. Kelompok yang diduga didukung negara mulai mengincar kementerian, sektor energi, hingga fasilitas strategis nasional. Perangkat Internet of Things (IoT) juga menjadi sasaran melalui varian botnet Mirai seperti Nexcorium dan Tuxnokill yang mengeksploitasi perangkat dengan keamanan lemah untuk membangun jaringan serangan berskala besar.
Saatnya Beralih ke Zero Trust
Menghadapi ancaman tersebut, Supriyanto menilai pendekatan keamanan berbasis perimeter sudah tidak lagi memadai. Menurutnya, organisasi perlu beralih menuju arsitektur Zero Trust, yaitu pendekatan yang tidak secara otomatis mempercayai pengguna maupun perangkat meskipun berada di dalam jaringan internal.
Strategi tersebut harus diperkuat melalui sistem Early Warning System (EWS), pemantauan berbasis perilaku, integrasi dengan kerangka MITRE ATT&CK, serta pelaksanaan audit keamanan dan simulasi serangan secara berkala.
"Pendekatan keamanan berbasis perimeter sudah tidak cukup menghadapi ancaman saat ini. Organisasi harus memvalidasi setiap identitas, memantau perilaku secara terus-menerus, dan memiliki kemampuan mendeteksi penyerang sebelum proses enkripsi berlangsung," ujar Supriyanto.
Cadangan Data yang Tidak Bisa Disentuh Ransomware
Selain itu, pelajaran paling penting dari insiden PDNS 2, menurut Supriyanto, adalah pentingnya memiliki sistem pemulihan bencana yang benar-benar tangguh. Ia menekankan bahwa cadangan data tidak boleh berada pada jaringan yang sama dengan sistem produksi.
Cadangan data ideal harus menggunakan konsep air-gapped backup, yakni benar-benar terpisah dari jaringan utama, serta immutable backup, yaitu data tidak dapat diubah ataupun dihapus selama periode tertentu, bahkan oleh administrator.
Selain itu, organisasi perlu secara rutin menguji proses pemulihan agar sistem benar-benar dapat kembali beroperasi dalam hitungan menit ketika insiden terjadi.
"Investasi terbaik bukan hanya membeli teknologi keamanan terbaru, tetapi memastikan organisasi memiliki tata kelola yang kuat, sistem deteksi dini yang efektif, serta cadangan data yang benar-benar aman. Ketika serangan terjadi, kemampuan memulihkan layanan dengan cepat akan menjadi penentu keberlangsungan bisnis maupun pelayanan publik," tutup Supriyanto.
