Kerja Remote Tanpa Cemas, Ini Strategi Keamanan Data Perusahaan
- Rita Puspita Sari
- •
- 17 jam yang lalu
Remote Working
Perkembangan teknologi digital dan perubahan budaya kerja mendorong semakin banyak perusahaan menerapkan sistem kerja jarak jauh. Bekerja dari rumah, kafe, atau lokasi lain di luar kantor kini bukan lagi hal asing. Model kerja ini menawarkan fleksibilitas tinggi, meningkatkan efisiensi operasional, serta membantu perusahaan beradaptasi dengan kondisi bisnis yang dinamis. Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, kerja jarak jauh juga membawa tantangan serius, terutama dalam hal keamanan data dan sistem perusahaan.
Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan perlu menerapkan kebijakan keamanan yang tepat. Salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan adalah Identity and Access Management (IAM), yaitu sistem yang berfokus pada pengelolaan identitas digital dan hak akses pengguna. IAM berperan penting dalam memastikan bahwa hanya orang yang berwenang yang dapat mengakses data dan sistem perusahaan, meskipun mereka bekerja dari luar kantor.
Tantangan Keamanan pada Sistem Kerja Jarak Jauh
Dalam lingkungan kerja on-premise atau berbasis kantor, tim teknologi informasi (TI) biasanya memiliki kendali penuh atas infrastruktur jaringan, server, dan perangkat kerja karyawan. Selain itu, keamanan fisik juga dapat diterapkan, misalnya melalui kartu akses, petugas keamanan, atau sistem pengawasan, sehingga risiko akses ilegal relatif lebih mudah dikendalikan.
Namun, situasi ini berubah ketika perusahaan mulai mengadopsi cloud computing dan sistem kerja jarak jauh. Cloud memungkinkan aplikasi dan data diakses melalui internet, tanpa bergantung pada jaringan internal kantor. Artinya, karyawan dapat bekerja dari mana saja selama memiliki koneksi internet.
Bahkan perusahaan yang belum sepenuhnya beralih ke cloud pun kini banyak yang mengizinkan karyawan mengakses desktop kantor dari jarak jauh menggunakan internet atau VPN. Fleksibilitas ini memang menguntungkan, tetapi sekaligus membuka celah keamanan baru yang perlu diantisipasi.
Beberapa tantangan utama keamanan kerja jarak jauh antara lain:
-
Perangkat kerja karyawan rentan terhadap serangan.
Tim TI tidak selalu dapat mengelola secara langsung laptop, PC, atau perangkat lain yang digunakan karyawan saat bekerja dari rumah. Tidak sedikit karyawan yang menggunakan perangkat pribadi, yang mungkin belum dilengkapi sistem keamanan memadai atau jarang diperbarui. -
Akses data sangat bergantung pada verifikasi identitas.
Dalam sistem kerja jarak jauh, identitas digital menjadi kunci utama. Sayangnya, identitas ini dapat dipalsukan melalui berbagai teknik serangan siber seperti phishing, credential stuffing, atau serangan brute force. Jika akun karyawan berhasil diretas, penyerang berpotensi mendapatkan akses ke data dan sistem penting perusahaan. -
Data melewati jaringan yang tidak aman.
Penggunaan internet publik atau jaringan WiFi rumah dengan kata sandi lemah meningkatkan risiko penyadapan data. Misalnya, saat karyawan bekerja dari kafe dengan WiFi gratis, data yang dikirim dan diterima bisa saja diintip atau dimanipulasi oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Peran Kebijakan Keamanan Kerja Jarak Jauh
Untuk mengatasi tantangan tersebut, perusahaan perlu menyusun kebijakan keamanan kerja jarak jauh yang komprehensif. Kebijakan ini harus didukung oleh teknologi yang tepat agar keamanan tetap terjaga tanpa menghambat produktivitas karyawan.
Berbagai solusi berbasis IAM dapat digunakan untuk memperkuat keamanan, di antaranya:
-
Secure Web Gateway
Secure web gateway berfungsi sebagai penghubung aman antara karyawan dan internet. Teknologi ini menyaring lalu lintas web untuk mencegah akses ke situs berbahaya dan mengurangi risiko kebocoran data.Secure web gateway dapat memblokir situs yang tidak terenkripsi, membatasi perilaku pengguna yang berisiko, serta melindungi perangkat dari ancaman malware. Dengan solusi ini, karyawan tetap dapat bekerja dengan aman, baik dari kantor maupun dari lokasi jarak jauh. -
Kontrol Akses
Kontrol akses membantu perusahaan mengatur siapa saja yang boleh mengakses sistem dan data tertentu. Setiap karyawan hanya diberikan akses sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga meminimalkan dampak jika suatu akun berhasil diretas. -
Single Sign-On (SSO)
Dalam sistem kerja jarak jauh, karyawan sering menggunakan berbagai aplikasi berbasis Software as a Service (SaaS). Jika setiap aplikasi membutuhkan login terpisah, karyawan cenderung menggunakan kata sandi yang lemah dan berulang.SSO memungkinkan karyawan mengakses berbagai aplikasi hanya dengan satu kali login. Selain lebih praktis bagi pengguna, SSO juga memudahkan tim TI dalam mengelola hak akses dari satu pusat kontrol. -
Multi-Factor Authentication (MFA)
MFA menambahkan lapisan keamanan tambahan di luar kata sandi. Pengguna harus membuktikan identitasnya melalui lebih dari satu metode, misalnya kombinasi kata sandi dan kode OTP. Dengan MFA, risiko pembajakan akun dapat ditekan secara signifikan.Sebagai contoh, meskipun penyerang berhasil mencuri kata sandi, mereka tetap tidak dapat masuk tanpa faktor autentikasi tambahan yang dimiliki pengguna.
Kerja jarak jauh telah menjadi bagian dari transformasi dunia kerja modern. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengadopsi pendekatan keamanan yang lebih adaptif dan berfokus pada identitas. Dengan penerapan kebijakan keamanan yang tepat, didukung oleh teknologi IAM, secure web gateway, SSO, dan MFA, perusahaan dapat menjaga keamanan data dan sistemnya tanpa mengorbankan fleksibilitas dan produktivitas karyawan.
