Teknologi Agentic AI Bikin Operasi TI Makin Efisien dan Mandiri
- Rita Puspita Sari
- •
- 06 Nov 2025 14.39 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence
Di tengah laju transformasi digital yang semakin cepat, muncul satu konsep baru yang mulai menarik perhatian dunia teknologi: Agentic AI. Berbeda dengan kecerdasan buatan tradisional yang hanya menjalankan perintah manusia, Agentic AI memiliki kemampuan untuk berpikir, merencanakan, dan mengambil keputusan secara mandiri. Ia bukan hanya alat bantu otomatisasi, melainkan “rekan kerja digital” yang mampu mengelola tugas-tugas kompleks tanpa banyak campur tangan manusia.
Bayangkan sistem TI yang mampu mendeteksi masalah, menganalisis akar penyebabnya, memperbaikinya, dan melaporkan hasilnya semua dilakukan secara otomatis. Inilah potensi revolusioner dari Agentic AI: mengubah cara tim TI bekerja, dari yang reaktif menjadi proaktif, adaptif, dan cerdas.
Dari Otomatisasi ke Kemandirian Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, otomatisasi telah menjadi tulang punggung efisiensi di dunia teknologi informasi (TI). Namun, sistem otomatisasi tradisional masih sangat bergantung pada manusia untuk membuat skrip, memantau hasil, dan mengambil keputusan lanjutan.
Dengan kemampuan reasoning (penalaran) dan planning (perencanaan), agen AI dapat mempelajari pola kerja, memahami konteks situasi, dan mengambil tindakan paling optimal tanpa harus menunggu instruksi eksplisit dari manusia.
Menurut Yogesh Joshi, Senior Vice President of Global Product Platforms di TransUnion, operasi TI melibatkan berbagai elemen penting — mulai dari jaringan, penyimpanan data, komputasi, hingga keamanan. Semua elemen ini menjadi fondasi bagi platform bisnis modern.
“Selama ini, keberhasilan operasi TI diukur dari ketersediaan, keandalan, skalabilitas, dan performa dengan biaya serendah mungkin,” jelasnya. “Tradisionalnya, kita mengandalkan kombinasi manusia, proses, dan teknologi. Tapi Agentic AI mengubah semuanya.”
Bagaimana teknologi ini bisa mengubah wajah operasi TI modern? Berikut delapan cara utama di mana Agentic AI akan menjadi penggerak perubahan besar.
1. Pemanfaatan Sumber Daya Komputasi Lebih Efisien
Dalam dunia komputasi awan, penggunaan sumber daya yang optimal menjadi faktor krusial. Agen AI mampu memantau penggunaan CPU, memori, dan bandwidth secara real-time, lalu secara otomatis menyesuaikan konfigurasi agar tetap efisien.
Joshi menjelaskan bahwa agen AI dapat memilih tipe instance, kapasitas server, dan parameter penskalaan yang paling sesuai dengan beban kerja saat itu.
Tidak hanya itu, agen AI juga mampu mendeteksi anomali dalam lalu lintas data lalu mengambil tindakan korektif sebelum masalah membesar.
Dengan kata lain, AI tidak hanya memantau, tetapi bertindak cerdas dan cepat, menjaga performa sistem tetap stabil sambil menghemat biaya operasional.
2. Dukungan Otomatis yang Lebih Cerdas
Menurut Matt Lyteson, CIO Teknologi di IBM, era baru ini akan mengubah cara profesional TI bekerja. “Alih-alih hanya membuat skrip otomatisasi untuk tugas berulang, kini fokus kita beralih ke merancang agen pendukung pintar yang benar-benar memahami konteks dan membantu pengguna secara efektif,” katanya.
Misalnya, agen AI dapat memastikan server selalu up-to-date, melakukan analisis akar masalah, serta memberikan rekomendasi perbaikan lingkungan kerja TI.
Hasilnya? Waktu penyelesaian masalah jauh lebih singkat, dan tim TI dapat berfokus pada inovasi strategis.
Namun, untuk memanfaatkan potensi maksimalnya, perusahaan perlu memiliki platform AI yang kuat — lengkap dengan orkestrasi, akses data, keamanan, dan kemampuan otomasi yang saling terintegrasi.
3. Penyelesaian Masalah yang Jauh Lebih Cepat
Dalam sistem TI tradisional, ketika ada masalah muncul, sistem otomatis hanya bisa membuat tiket laporan agar manusia menyelidikinya. Menurut Loren Absher, AI Advisory Director di ISG, agen AI dapat memantau target performa layanan (SLO), menghubungkan log, menganalisis metrik, menguji pembaruan, hingga melakukan rollback otomatis jika terjadi penurunan performa.
Dampaknya luar biasa: waktu rata-rata penyelesaian masalah (MTTR) bisa turun dari jam menjadi hanya beberapa menit, bahkan detik. Tugas manusia pun bergeser, bukan lagi menjalankan perintah manual, melainkan merancang sistem pengaman dan strategi rollback agar AI bisa beroperasi dengan aman dan terkendali.
4. Layanan Pelanggan Lebih Cepat dan Responsif
Salah satu penerapan nyata Agentic AI yang sudah mulai terlihat adalah di bidang layanan pelanggan (customer support). Menurut Rowena Yeo, CTO Johnson & Johnson, agen AI yang saling berkoordinasi dapat membantu menyelesaikan pertanyaan pelanggan yang kompleks jauh lebih cepat.
Dengan bekerja lintas sistem, Agentic AI mampu menggabungkan berbagai sumber data untuk memberikan jawaban yang akurat dan personal.
Hasilnya bukan hanya efisiensi operasional, tetapi juga peningkatan signifikan pada kepuasan pelanggan.
Selain itu, kemampuan AI untuk bereksperimen dan beradaptasi secara mandiri memungkinkan perusahaan lebih tangkas dan responsif terhadap perubahan kebutuhan pasar.
5. Pengambilan Keputusan Cepat untuk Masalah Infrastruktur
Dalam pengelolaan infrastruktur TI, setiap detik sangat berharga.
Agentic AI dapat menganalisis situasi dan menentukan tindakan paling tepat secara instan.
Mike Anderson, Chief Digital and Information Officer di Netskope, memberi contoh:
- Ketika sistem mendeteksi database yang mulai melambat, agen AI dapat mengenali akar penyebabnya dan merekomendasikan restart layanan tertentu, bukan seluruh server sehingga gangguan bisa dicegah sebelum berdampak luas.
Dengan kemampuan seperti ini, operasi TI menjadi lebih proaktif. AI mencegah masalah kecil menjadi bencana besar, sementara tim manusia bisa fokus pada inovasi strategis dan peningkatan pengalaman pengguna.
6. Transformasi dalam Pengujian Perangkat Lunak
Dalam dunia pengembangan perangkat lunak, pengujian adalah tahap yang memakan waktu dan sumber daya besar. Kini, menurut David Colwell, VP AI dan Machine Learning di Tricentis, Agentic AI merevolusi seluruh proses tersebut.
Agen AI dapat menghasilkan skenario pengujian, menjalankannya, dan mengevaluasi hasilnya secara otomatis. Dengan begitu, tim pengembang bisa memusatkan energi mereka pada integrasi kompleks dan pengujian lanjutan.
Keuntungannya sangat jelas: waktu rilis produk lebih cepat, kualitas lebih tinggi, dan risiko kegagalan sistem jauh berkurang. Namun Colwell mengingatkan, penerapan AI tetap membutuhkan tata kelola dan pengawasan manusia yang kuat untuk mencegah kesalahan fatal — seperti penghapusan kode penting atau pengujian yang tidak akurat.
7. Peningkatan Produktivitas Tim TI
Menurut Dhaval Jadav, CEO Alliant, Agentic AI mampu membebaskan waktu tim TI dari tugas-tugas berulang, memberi ruang bagi mereka untuk berinovasi dan fokus pada proyek bernilai tinggi.
Jika otomatisasi tradisional hanya membantu mempercepat pekerjaan rutin, Agentic AI bisa mengambil alih tugas kompleks dengan efisiensi tinggi. Dampaknya terasa langsung: produktivitas meningkat, beban kerja menurun, dan moral tim pun naik.
Namun, Jadav juga menegaskan bahwa implementasi AI jenis ini tidak selalu mudah.
“Penerapannya bisa mahal dan memakan waktu jika tidak disiapkan dengan matang,” ujarnya.
Ia menyarankan untuk memulai dari proyek kecil sebagai bukti konsep, melatih tim dengan teknologi ini, lalu memperluas skala penerapan secara bertahap.
Langkah kecil yang terarah akan menciptakan fondasi yang kuat untuk transformasi besar.
8. Menuju Sistem yang Dapat “Menyembuhkan Diri Sendiri”
Bayangkan dunia di mana sistem TI tidak hanya bisa mendeteksi kerusakan, tapi juga memperbaiki dirinya sendiri tanpa intervensi manusia. Inilah yang disebut self-healing enterprise, dan Agentic AI adalah otaknya.
Menurut Ryan Achterberg, CTO Resultant, AI dapat mengenali gejala masalah seperti kebocoran memori, memindahkan beban kerja ke server pengganti, menambal bug, dan mengembalikan sistem ke kondisi normal.
Tidak ada lagi kepanikan tengah malam karena server down atau gangguan jaringan mendadak. Dengan Agentic AI, proses deteksi dan pemulihan berjalan otomatis, menjaga layanan tetap stabil sepanjang waktu. Sementara itu, insinyur TI dapat fokus pada pekerjaan yang lebih bernilai tinggi, seperti perancangan arsitektur sistem dan penyempurnaan model AI.
Masa Depan Operasi TI yang Lebih Cerdas dan Mandiri
Kehadiran Agentic AI menandai pergeseran besar dalam cara kita memandang operasi teknologi informasi. Jika sebelumnya AI hanya menjadi alat bantu untuk otomatisasi, kini ia berevolusi menjadi entitas cerdas yang bisa berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak. Teknologi ini membuka jalan bagi efisiensi operasional, kecepatan penyelesaian masalah, penghematan biaya, dan pengalaman pengguna yang jauh lebih baik.
Namun, di balik semua potensinya, keberhasilan implementasi Agentic AI tetap bergantung pada manusia yang merancang, mengawasi, dan mengarahkannya. Agentic AI bukanlah pengganti manusia, melainkan mitra strategis yang memperkuat kemampuan manusia di era digital.
