Mengenal JoMO, Bahagia Saat Tidak Ikut Tren Media Sosial
- Rita Puspita Sari
- •
- 17 jam yang lalu

Ilustrasi Joy of Missing Out
Pernahkah Anda merasa cemas saat melihat teman-teman di media sosial berkumpul, bepergian, atau mengikuti tren terbaru, sementara Anda hanya berada di rumah? Perasaan itu dikenal dengan istilah FoMO atau fear of missing out.
Namun, ternyata ada sisi lain yang justru berlawanan, yaitu JoMO atau joy of missing out. Konsep ini mengajarkan bahwa tidak mengikuti sesuatu yang sedang populer bukanlah masalah, bahkan bisa membawa ketenangan dan kebahagiaan tersendiri.
Artikel ini akan membahas apa itu JoMO, bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, hingga manfaat yang bisa kita rasakan. Dengan memahami JoMO, Anda akan belajar bagaimana menikmati hidup dengan lebih sederhana, fokus, dan penuh rasa syukur.
Apa Itu JoMO?
JoMO atau joy of missing out adalah istilah yang menggambarkan kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan seseorang ketika memilih untuk tidak ikut serta dalam suatu kegiatan, khususnya yang berhubungan dengan media sosial, hiburan, atau tren yang sedang populer.
Berbeda dengan FoMO yang memunculkan rasa takut ketinggalan informasi atau pengalaman, JoMO justru menekankan bahwa tidak mengikuti semua hal adalah pilihan yang sehat. JoMO muncul dari kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu diukur dari seberapa cepat kita mengikuti tren, melainkan seberapa tulus kita menikmati apa yang benar-benar berarti bagi diri sendiri.
Dengan kata lain, JoMO membantu seseorang untuk:
- Mengendalikan obsesi terhadap media sosial atau informasi.
- Mengurangi kecanduan digital yang sering menguras waktu.
- Menghentikan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
- Lebih fokus pada kebahagiaan sederhana dan hubungan nyata.
FoMO vs JoMO: Dua Sisi Mata Uang yang Berbeda
Agar lebih memahami JoMO, mari kita bandingkan dengan FoMO:
- FoMO (Fear of Missing Out)
- Rasa takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman.
- Sering memicu kecemasan sosial karena ingin selalu terlihat up to date.
- Bisa membuat orang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang hanya demi ikut-ikutan.
- JoMO (Joy of Missing Out)
- Perasaan bahagia karena memilih untuk tidak ikut serta dalam suatu tren.
- Lebih fokus pada kualitas hidup daripada sekadar kuantitas aktivitas.
- Membantu seseorang merasa cukup dengan apa yang dimiliki tanpa perlu validasi orang lain.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa JoMO bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan menyadari batasan dan memilih prioritas yang lebih sehat.
Mengapa JoMO Penting di Era Digital?
Kehidupan modern, terutama di era media sosial, membuat banyak orang terjebak dalam siklus membandingkan diri dengan orang lain. Foto liburan, pencapaian karier, hingga gaya hidup mewah yang ditampilkan di media sosial sering kali menimbulkan tekanan untuk terlihat sama hebatnya.
Dampaknya, tidak sedikit orang yang mengalami stres, cemas, bahkan depresi karena merasa hidupnya kurang menarik dibandingkan orang lain. Di sinilah JoMO hadir sebagai penyeimbang.
Beberapa alasan mengapa JoMO penting:
- Menjaga kesehatan mental: mengurangi kecemasan sosial dan stres karena tidak perlu membuktikan diri di hadapan orang lain.
- Meningkatkan fokus dan produktivitas: lebih banyak waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting.
- Memperkuat hubungan nyata: lebih dekat dengan keluarga, sahabat, dan diri sendiri.
- Membantu menghemat energi: tidak menghabiskan tenaga hanya demi validasi eksternal.
Cara Menerapkan JoMO dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengadopsi JoMO bukan berarti berhenti bersosialisasi atau mengasingkan diri. Sebaliknya, JoMO mengajarkan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:
-
Nikmati Waktu Tanpa Teknologi
Cobalah membatasi penggunaan media sosial atau gadget setiap harinya. Misalnya, buat aturan tidak membuka ponsel satu jam sebelum tidur atau saat makan bersama keluarga. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk scrolling bisa diganti dengan aktivitas seperti membaca, menulis, memasak, atau sekadar beristirahat. -
Belajar Berkata “Tidak”
Tidak semua ajakan atau kesempatan harus diambil. Jika Anda lelah atau tidak merasa nyaman, beranilah berkata tidak. Menolak bukan berarti egois, melainkan bentuk menjaga kesehatan mental dan fisik Anda. -
Temukan Hobi dan Minat Pribadi
Banyak orang terjebak FoMO karena tidak tahu apa yang benar-benar mereka sukai. Mulailah mencari kegiatan yang membuat Anda bahagia, seperti olahraga, menanam tanaman, menulis, atau melukis. Ketika Anda menemukan hobi yang sesuai, kebutuhan untuk mencari hiburan dari media sosial akan berkurang dengan sendirinya. -
Fokus pada Kehidupan Nyata
Alih-alih sibuk mengikuti tren online, bangunlah hubungan yang lebih erat dengan orang-orang di sekitar Anda. Habiskan waktu bersama keluarga, berbincang dengan sahabat, atau sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan tertentu. Interaksi nyata jauh lebih berharga daripada likes atau komentar di media sosial. -
Praktikkan Syukur Setiap Hari
Tulislah tiga hal yang Anda syukuri setiap malam sebelum tidur. Kebiasaan sederhana ini akan membantu Anda menghargai hal-hal kecil dalam hidup dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Manfaat JoMO yang Bisa Dirasakan
Mengadopsi JoMO dalam kehidupan sehari-hari memberikan banyak manfaat positif, di antaranya:
-
Kesehatan Mental Lebih Stabil
Dengan JoMO, Anda tidak lagi merasa cemas atau tertekan karena harus mengikuti semua tren. Pikiran menjadi lebih tenang dan terhindar dari perasaan iri atau minder. -
Waktu Lebih Produktif
Mengurangi waktu di media sosial membuat Anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk fokus pada hal-hal penting, seperti belajar, bekerja, atau mengembangkan diri. -
Kehidupan Sosial Lebih Berkualitas
Daripada sekadar berinteraksi secara online, JoMO mendorong Anda untuk memperkuat hubungan nyata dengan orang terdekat. -
Kebebasan Finansial
FoMO sering kali membuat orang boros demi mengikuti tren, seperti membeli gadget terbaru atau ikut-ikutan gaya hidup tertentu. Dengan JoMO, Anda belajar membelanjakan uang hanya untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat. -
Emosi Lebih Terkendali
JoMO membantu seseorang lebih sabar, tidak mudah terprovokasi, dan lebih menghargai proses hidup.
Tantangan dalam Menerapkan JoMO
Meski terlihat sederhana, menerapkan JoMO tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang mungkin muncul antara lain:
- Tekanan sosial dari lingkungan yang menuntut untuk selalu up-to-date.
- Rasa penasaran alami terhadap informasi atau tren baru.
- Kesulitan melepaskan diri dari kebiasaan menggunakan media sosial.
Namun, tantangan tersebut bisa diatasi secara bertahap dengan konsistensi dan kesadaran diri. Mulailah dari langkah kecil, misalnya membatasi durasi penggunaan media sosial per hari, lalu tingkatkan seiring waktu.
Apakah JoMO Harus Diterapkan Setiap Saat?
Penting dipahami bahwa JoMO bukan berarti menolak semua hal baru atau berhenti peduli terhadap lingkungan sekitar. Dalam kondisi tertentu, rasa FoMO justru bermanfaat, misalnya ketika ada informasi penting tentang kesehatan atau peluang karier.
Artinya, keseimbangan antara FoMO dan JoMO perlu dijaga. Jangan sampai terlalu larut dalam FoMO hingga stres, atau terlalu asyik dengan JoMO hingga menutup diri dari dunia luar.
Kesimpulan
JoMO atau joy of missing out adalah seni menikmati hidup dengan tidak merasa terbebani untuk selalu mengikuti tren atau informasi terbaru. Konsep ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai diri sendiri, fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, serta menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Dengan menerapkan JoMO, kita bisa merasakan manfaat seperti kesehatan mental yang lebih baik, waktu yang lebih produktif, hubungan sosial yang lebih bermakna, hingga keuangan yang lebih stabil. Meski tantangannya ada, JoMO dapat menjadi kunci menuju kehidupan yang lebih tenang, bahagia, dan penuh rasa syukur.