10 Tips Keamanan Siber 2026 untuk Jaga Data & Operasional Bisnis
- Rita Puspita Sari
- •
- 45 menit yang lalu
Ilustrasi Cyber Security 2026
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa banyak kemudahan bagi dunia bisnis, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan besar dalam bentuk ancaman siber yang kian kompleks. Pada 2026, serangan siber tidak lagi sekadar menyasar perusahaan besar, tetapi juga bisnis skala menengah hingga kecil yang dianggap memiliki sistem pertahanan lemah. Oleh karena itu, perusahaan perlu terus memperbarui strategi keamanan siber agar mampu melindungi data sensitif, menjaga kepercayaan pelanggan, serta memastikan operasional bisnis tetap berjalan lancar.
Keamanan siber bukan lagi isu teknis semata, melainkan bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang. Kebocoran data, serangan ransomware, atau gangguan sistem dapat menimbulkan kerugian finansial, reputasi, hingga sanksi hukum. Dengan menerapkan praktik keamanan siber yang tepat sejak dini, perusahaan dapat meminimalkan risiko dan meningkatkan ketahanan digital di tengah lanskap ancaman yang terus berubah.
Memahami Keamanan Siber di Era Modern
Keamanan siber (cybersecurity) adalah sekumpulan strategi, teknologi, dan proses yang dirancang untuk melindungi sistem digital, jaringan, aplikasi, dan data dari akses tidak sah maupun serangan berbahaya. Dalam praktiknya, keamanan siber mencakup berbagai aspek, mulai dari perlindungan perangkat keras dan perangkat lunak, manajemen identitas dan akses, hingga edukasi pengguna.
Tujuan utama dari keamanan siber adalah menjaga tiga pilar utama, yaitu kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), dan ketersediaan (availability) data. Kerahasiaan memastikan bahwa data hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang, integritas menjamin data tidak diubah tanpa izin, dan ketersediaan memastikan sistem serta data dapat diakses saat dibutuhkan. Ketiga prinsip ini menjadi fondasi bagi keberlangsungan bisnis di era digital.
Memasuki 2025–2026, pendekatan keamanan siber tidak lagi bisa bersifat reaktif. Perusahaan dituntut untuk proaktif, adaptif, dan berkelanjutan dalam membangun sistem pertahanan digital. Berikut adalah sejumlah tips keamanan siber yang perlu diterapkan untuk menghadapi tantangan tersebut.
-
Terapkan Proses Autentikasi yang Kuat
Sebagian besar serangan siber terhadap perusahaan diawali dengan upaya memperoleh akses tidak sah ke akun pengguna. Pencurian kredensial, phishing, dan pembajakan akun masih menjadi metode favorit penyerang karena relatif mudah dilakukan jika sistem autentikasi lemah.Untuk mengatasi hal ini, perusahaan wajib menerapkan proses autentikasi yang kuat dan berlapis. Langkah pertama adalah memastikan penggunaan kata sandi yang panjang, unik, dan sulit ditebak. Kata sandi yang sama sebaiknya tidak digunakan di beberapa sistem sekaligus, karena satu kebocoran saja dapat membuka banyak pintu bagi penyerang.
Penggunaan password manager sangat dianjurkan untuk membantu karyawan membuat dan menyimpan kata sandi yang aman tanpa harus menghafalnya satu per satu. Selain meningkatkan keamanan, alat ini juga mendukung efisiensi kerja karena proses login menjadi lebih cepat dan praktis.
Langkah berikutnya adalah menerapkan Multi-Factor Authentication (MFA). MFA menambahkan lapisan keamanan ekstra dengan mengombinasikan beberapa faktor verifikasi, seperti sesuatu yang diketahui pengguna (kata sandi atau PIN), sesuatu yang dimiliki pengguna (aplikasi autentikasi atau token), dan sesuatu yang melekat pada pengguna (biometrik seperti sidik jari atau pengenalan wajah). Dengan MFA, risiko penyalahgunaan akun dapat ditekan secara signifikan meskipun kata sandi berhasil dicuri.
-
Batasi Akses dengan Prinsip Least Privilege dan Kontrol Berbasis Peran
Autentikasi yang kuat harus diimbangi dengan pengelolaan hak akses yang tepat. Memberikan akses terlalu luas kepada pengguna justru meningkatkan risiko keamanan jika akun tersebut disusupi. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan prinsip least privilege, yaitu memberikan akses minimum yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas.Kontrol Akses Berbasis Peran (Role-Based Access Control/RBAC) membantu perusahaan mengelola hak akses berdasarkan peran dan tanggung jawab pengguna. Dengan pendekatan ini, karyawan hanya dapat mengakses data dan sistem yang relevan dengan pekerjaannya.
Lebih lanjut, banyak organisasi modern mulai menerapkan kontrol akses dinamis yang mempertimbangkan konteks tertentu, seperti lokasi, waktu, jenis perangkat, dan perilaku pengguna. Sistem ini mampu menilai tingkat risiko suatu permintaan akses secara real-time dan menyesuaikan kebijakan keamanan yang diterapkan.
Sebagai contoh, akses ke sistem internal dari kantor pada jam kerja normal dapat dianggap berisiko rendah. Namun, jika akses dilakukan dari lokasi asing, perangkat baru, dan di luar jam kerja, sistem dapat meminta verifikasi tambahan atau bahkan menolak permintaan tersebut. Pendekatan ini efektif dalam mengurangi risiko tanpa mengganggu produktivitas pengguna.
-
Hilangkan Kepercayaan Implisit dengan Zero Trust Network Access
Model keamanan tradisional yang mengandalkan perimeter jaringan sudah tidak lagi memadai di era kerja jarak jauh dan komputasi awan. Konsep bahwa semua yang berada di dalam jaringan internal dapat dipercaya terbukti berbahaya ketika satu akun atau perangkat berhasil ditembus.Pendekatan Zero Trust Network Access (ZTNA) hadir sebagai solusi dengan prinsip “never trust, always verify”. Dalam model ini, setiap permintaan akses harus diverifikasi terlebih dahulu, terlepas dari lokasi pengguna atau perangkat yang digunakan.
Zero trust menggabungkan autentikasi yang kuat, kontrol akses berbasis konteks, serta pemantauan berkelanjutan. Akses diberikan secara spesifik ke aplikasi atau data tertentu, bukan ke seluruh jaringan. Dengan demikian, jika terjadi kompromi pada satu akun, pergerakan lateral penyerang dapat dicegah.
Banyak organisasi kini beralih dari VPN tradisional ke solusi ZTNA yang lebih fleksibel dan aman. Selain meningkatkan keamanan, pendekatan ini juga memberikan visibilitas dan kontrol yang lebih baik terhadap aktivitas pengguna.
-
Tutup Celah Keamanan dengan Manajemen Patch yang Konsisten
Celah keamanan pada perangkat lunak yang tidak diperbarui masih menjadi penyebab utama banyak insiden siber. Penyerang sering memanfaatkan kerentanan yang sudah diketahui publik, tetapi belum ditambal oleh pengguna.Manajemen patch yang konsisten dan terstruktur sangat penting untuk menutup celah ini. Perusahaan sebaiknya menerapkan pembaruan otomatis untuk sistem operasi, aplikasi, dan perangkat lunak keamanan. Selain itu, pemindaian kerentanan secara berkala dapat membantu mendeteksi sistem yang sudah usang atau berisiko.
Dengan memastikan semua perangkat lunak selalu diperbarui, perusahaan dapat mengurangi kemungkinan eksploitasi, termasuk serangan zero-day yang memanfaatkan kelemahan sebelum tersedia patch resmi.
-
Terapkan Perlindungan Endpoint yang Konsisten di Semua Perangkat
Dalam lingkungan kerja hybrid, karyawan mengakses sistem perusahaan dari berbagai perangkat dan lokasi. Kondisi ini memperluas permukaan serangan dan menuntut pendekatan keamanan endpoint yang konsisten.Perusahaan perlu memastikan setiap perangkat yang terhubung ke jaringan memenuhi standar keamanan minimum. Praktik yang dianjurkan meliputi enkripsi data, penggunaan solusi Endpoint Detection and Response (EDR), serta penerapan Mobile Device Management (MDM) untuk mengelola perangkat secara terpusat.
Dengan perlindungan endpoint yang baik, perusahaan dapat mendeteksi dan merespons ancaman lebih cepat, sekaligus mendukung kebijakan kerja jarak jauh dan BYOD tanpa mengorbankan keamanan.
-
Dorong Kebiasaan Browsing Aman dan Lindungi Jaringan
Teknologi keamanan yang canggih tidak akan efektif jika pengguna memiliki kebiasaan online yang berisiko. Banyak serangan malware dan phishing berhasil karena kelalaian manusia.Edukasi karyawan tentang kebiasaan browsing aman menjadi langkah penting dalam strategi keamanan siber. Perusahaan perlu membatasi akses ke situs tidak tepercaya, memblokir unduhan berbahaya, serta memastikan penggunaan koneksi HTTPS.
Selain itu, perlindungan di tingkat jaringan seperti penyaringan DNS, firewall modern, dan teknologi isolasi web dapat membantu memblokir ancaman sebelum mencapai perangkat pengguna. Pendekatan berlapis ini memperkecil peluang terjadinya infeksi dan kebocoran data.
-
Perkuat Keamanan Email dan Lindungi dari Serangan Phishing
Di tengah maraknya serangan siber modern, email masih menjadi pintu masuk paling favorit bagi pelaku kejahatan digital. Laporan Check Point State of Cyber Security 2025 mengungkapkan bahwa sekitar 68% serangan siber bermula dari email berbahaya. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi keamanan web semakin canggih, serangan phishing melalui email tetap efektif karena mengeksploitasi faktor manusia.Email phishing kini tidak lagi mudah dikenali. Penyerang memanfaatkan teknik social engineering yang semakin halus, bahkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meniru gaya bahasa, logo perusahaan, hingga konteks percakapan yang terlihat sangat meyakinkan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengadopsi solusi keamanan email modern yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif.
Solusi keamanan email terkini umumnya mengombinasikan penyaringan spam canggih, sandboxing untuk menguji lampiran dan tautan mencurigakan, serta deteksi phishing berbasis AI. Teknologi ini memungkinkan sistem mengidentifikasi pola ancaman baru yang belum pernah terdeteksi sebelumnya, sehingga perlindungan tidak hanya bergantung pada basis data ancaman lama.
Selain itu, konfigurasi protokol autentikasi email seperti DMARC, DKIM, dan SPF menjadi langkah krusial untuk mencegah pemalsuan identitas pengirim. Dengan protokol ini, email palsu yang mengatasnamakan domain perusahaan dapat diblokir sebelum sampai ke kotak masuk karyawan. Namun, perlindungan teknis saja tidak cukup. Edukasi karyawan secara rutin mengenai ciri-ciri email phishing, seperti permintaan mendesak, tautan mencurigakan, atau lampiran tidak dikenal, akan sangat membantu menekan risiko pencurian kredensial.
-
Terapkan Strategi Pencadangan dan Pemulihan Data yang Andal
Tidak ada sistem yang benar-benar kebal terhadap serangan siber. Oleh karena itu, strategi pencadangan dan pemulihan data (backup and recovery) menjadi fondasi penting dalam menjaga kelangsungan bisnis. Serangan ransomware, gangguan sistem, atau kesalahan manusia dapat menyebabkan kehilangan data yang berdampak besar jika perusahaan tidak siap.Praktik terbaik dalam pencadangan data adalah menerapkan prinsip 3-2-1, yaitu memiliki minimal tiga salinan data, disimpan pada dua media berbeda, dan satu salinan berada di lokasi terpisah atau cloud. Dengan pendekatan ini, risiko kehilangan data akibat kegagalan sistem atau serangan dapat diminimalkan.
Lebih dari sekadar membuat cadangan, perusahaan juga perlu memastikan data tersebut aman. Penggunaan enkripsi pada data cadangan dan teknologi immutable backup yang tidak dapat diubah atau dihapus oleh ransomware menjadi semakin penting. Selain itu, pengujian pemulihan data secara berkala wajib dilakukan untuk memastikan cadangan benar-benar dapat digunakan saat dibutuhkan. Tanpa pengujian, cadangan data hanya memberikan rasa aman semu.
-
Amankan Supply Chain Perangkat Lunak
Serangan terhadap supply chain perangkat lunak menjadi salah satu ancaman paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Banyak organisasi tidak diserang secara langsung, tetapi melalui celah pada vendor atau komponen pihak ketiga yang mereka gunakan. Ketergantungan pada perangkat lunak open-source dan layanan eksternal membuat risiko ini semakin nyata.Untuk mengamankan rantai pasok, perusahaan perlu memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh dependensi perangkat lunak yang digunakan. Inventarisasi komponen, pembaruan rutin, serta verifikasi integritas kode melalui tanda tangan digital menjadi langkah awal yang penting. Selain itu, evaluasi risiko vendor harus menjadi bagian dari kebijakan keamanan, termasuk audit keamanan dan kepatuhan terhadap standar industri.
Penerapan pendekatan DevSecOps juga semakin relevan, di mana keamanan diintegrasikan sejak tahap pengembangan aplikasi, bukan hanya setelah produk selesai. Dengan cara ini, potensi celah keamanan dapat terdeteksi lebih awal sebelum berdampak luas.
-
Tingkatkan Kesadaran Keamanan Siber Karyawan melalui Pelatihan Rutin
Teknologi keamanan secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa dukungan perilaku pengguna yang aman. Kesalahan manusia masih menjadi salah satu penyebab utama insiden keamanan siber, mulai dari mengklik tautan berbahaya hingga penggunaan kata sandi yang lemah.Pelatihan keamanan siber secara rutin membantu karyawan memahami ancaman terbaru dan cara menghindarinya. Program edukasi ini sebaiknya tidak bersifat satu kali, melainkan berkelanjutan dan disesuaikan dengan perkembangan ancaman. Simulasi phishing, pelatihan penanganan data sensitif, serta prosedur pelaporan insiden dapat meningkatkan kesiapan seluruh organisasi.
Ketika karyawan memiliki kesadaran tinggi terhadap keamanan, mereka tidak lagi menjadi titik lemah, melainkan bagian penting dari sistem pertahanan perusahaan.
Mengapa Keamanan Siber Semakin Penting
Data menunjukkan bahwa ancaman siber terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada kuartal kedua 2025, jumlah serangan tercatat meningkat 21% dibandingkan periode yang sama pada 2024, bahkan melonjak 58% dibandingkan 2023. Angka ini mencerminkan eskalasi ancaman yang signifikan, baik dari segi jumlah maupun kompleksitas.
Faktor pendorong utama peningkatan ini antara lain pemanfaatan AI oleh penyerang, ekosistem kejahatan siber yang semakin profesional, serta permukaan serangan yang meluas akibat adopsi cloud, aplikasi SaaS, dan kerja jarak jauh. Tanpa strategi keamanan yang matang, satu insiden saja dapat berujung pada kebocoran data besar, kerugian finansial, hingga pelanggaran regulasi.
Contoh Serangan Siber Terkini sebagai Pelajaran Penting
Sejumlah insiden besar menunjukkan betapa mahalnya dampak serangan siber. Gangguan global akibat pembaruan bermasalah pada perangkat lunak CrowdStrike di tahun 2024 misalnya, berdampak pada jutaan perangkat dan berbagai sektor vital, dengan kerugian yang diperkirakan mencapai lebih dari USD 1 miliar.
Kasus ransomware Colonial Pipeline pada 2021 juga menjadi contoh klasik bagaimana kebocoran kredensial dapat melumpuhkan infrastruktur penting. Sementara itu, kebocoran data SolarWinds pada 2020 menegaskan betapa berbahayanya serangan rantai pasok yang berlangsung lama tanpa terdeteksi.
Tren Keamanan Siber di Masa Depan
Keamanan siber akan terus berevolusi seiring perkembangan teknologi. AI dan otomatisasi diprediksi menjadi senjata utama, baik bagi penyerang maupun tim keamanan. Di satu sisi, penjahat siber menggunakan AI untuk menciptakan serangan yang lebih cerdas dan sulit dideteksi. Di sisi lain, profesional keamanan memanfaatkan teknologi yang sama untuk meningkatkan deteksi dan respons ancaman secara real-time.
Selain itu, pertumbuhan IoT, cloud, dan kerja jarak jauh akan terus memperluas permukaan serangan. Hal ini menuntut pendekatan keamanan yang adaptif, berbasis risiko, dan berorientasi pada identitas. Kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data juga akan semakin ketat, mendorong organisasi untuk membangun sistem keamanan yang transparan dan andal.
Penutup
Memasuki 2026, keamanan siber menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan bisnis digital. Ancaman yang semakin canggih menuntut perusahaan untuk tidak hanya mengandalkan satu solusi, tetapi menerapkan pendekatan menyeluruh yang mencakup teknologi, proses, dan manusia. Dengan autentikasi yang kuat, kontrol akses yang tepat, penerapan zero trust, manajemen patch yang disiplin, perlindungan endpoint yang konsisten, serta edukasi pengguna, perusahaan dapat membangun pertahanan digital yang tangguh dan berkelanjutan.
