Managed Security Bukan untuk Semua Organisasi, Ini Alasannya
- PT Dymar Jaya Indonesia
- •
- 3 jam yang lalu
Managed Security Services
Dalam beberapa tahun terakhir, Managed Security Services (MSS) kerap dipromosikan sebagai solusi praktis untuk hampir seluruh persoalan keamanan siber. Ketika organisasi kekurangan sumber daya manusia, jawabannya adalah managed service. Saat dibutuhkan monitoring 24×7, solusinya tetap sama. Bahkan ketika tingkat ancaman meningkat dan kebutuhan keamanan makin kompleks, managed security sering diposisikan sebagai jalan pintas menuju sistem yang lebih aman.
Pendekatan ini terdengar masuk akal, tetapi menyimpan penyederhanaan yang berbahaya. Keamanan siber bukan produk instan yang bisa dibeli lalu selesai. Ia adalah proses berkelanjutan yang sangat bergantung pada konteks organisasi, budaya kerja, proses bisnis, dan tingkat kematangan internal. Karena itu, managed security bukanlah solusi satu ukuran untuk semua.
Mengakui fakta ini bukan berarti menolak outsourcing atau bersikap skeptis terhadap layanan terkelola. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk memahami kapan managed security benar-benar memberikan nilai, dan kapan pendekatan tersebut justru berpotensi menimbulkan friksi.
Mengapa Managed Security Terlihat Sangat Menarik
Dari perspektif bisnis, daya tarik managed security sulit diabaikan. Layanan ini menjanjikan akses ke keahlian keamanan tingkat lanjut tanpa harus membangun tim internal yang besar dan mahal. Operasional keamanan dapat berjalan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa organisasi perlu memikirkan sistem shift atau kelelahan tim. Selain itu, biaya biasanya lebih prediktif dibandingkan investasi membangun Security Operations Center (SOC) secara penuh.
Bagi organisasi yang sedang bertumbuh, memiliki cabang di banyak lokasi, atau belum siap berinvestasi besar di keamanan, managed security adalah pilihan yang rasional. Namun, di sinilah asumsi keliru sering muncul: bahwa dengan menyerahkan pengelolaan keamanan ke pihak ketiga, posture keamanan otomatis akan meningkat.
Kenyataannya, hal itu tidak selalu terjadi.
Masalah Utamanya Bukan Layanan, Melainkan Kecocokan
Ketika managed security gagal memberikan hasil yang diharapkan, penyebabnya jarang terletak pada teknologi atau kompetensi penyedia layanan. Lebih sering, masalah muncul karena ekspektasi organisasi tidak selaras dengan peran managed service itu sendiri.
Beberapa organisasi berharap managed service dapat mencegah semua insiden, memahami proses bisnis internal tanpa konteks yang memadai, menggantikan pengambilan keputusan strategis, atau bertindak cepat tanpa kejelasan otoritas dan alur eskalasi. Ekspektasi semacam ini hampir pasti berujung pada kekecewaan.
Keamanan siber tetap membutuhkan keputusan internal. Kepemilikan risiko, prioritas bisnis, dan kebijakan keamanan tidak bisa sepenuhnya dialihkan ke pihak ketiga. Managed service hanya efektif ketika perannya didefinisikan secara jelas dan realistis.
Kapan Managed Security Benar-Benar Masuk Akal
Dalam praktiknya, managed security bekerja paling baik pada kondisi tertentu. Layanan ini sangat relevan ketika tim keamanan internal masih kecil atau terbatas, sementara cakupan aset—terutama endpoint—sudah luas dan tersebar. Ia juga efektif ketika kebutuhan utama organisasi berada di ranah monitoring dan respons operasional, bukan pada pengambilan keputusan strategis.
Selain itu, managed security sering menjadi solusi transisi bagi organisasi yang sedang meningkatkan maturitas keamanan internal. Dalam konteks ini, managed service berfungsi sebagai perpanjangan tangan operasional, bukan sebagai pengganti kepemilikan risiko dan kendali keamanan.
Ketika Managed Security Justru Menjadi Friksi
Sebaliknya, managed security cenderung kurang efektif ketika organisasi sudah memiliki SOC yang matang dan proses incident response yang sangat spesifik serta terintegrasi erat dengan proses bisnis. Pada situasi seperti ini, kontrol data dan pengambilan keputusan sering kali harus sepenuhnya berada di tangan internal.
Jika ekspektasi terhadap vendor terlalu absolut—misalnya berharap vendor mengambil alih seluruh kendali keamanan—managed service justru bisa terasa membatasi. Alih-alih meningkatkan kelincahan, ia dapat menambah lapisan birokrasi dan memperlambat respons.
Mengapa Endpoint Menjadi Titik Tengah yang Masuk Akal
Endpoint merupakan salah satu lapisan keamanan yang paling sibuk dan paling sering menjadi target serangan. Aktivitas operasional di area ini sangat padat, mulai dari alert harian, triage, tuning kebijakan, hingga respons insiden. Semua ini menyerap waktu dan energi tim keamanan secara signifikan.
Bagi banyak organisasi, mengelola endpoint sepenuhnya secara internal bukan persoalan strategi, melainkan keterbatasan kapasitas. Di sinilah pendekatan yang lebih terfokus menjadi relevan.
Pendekatan seperti Dymar Managed Endpoint Security (MES) menawarkan alternatif dibandingkan managed security yang cakupannya terlalu luas. Dengan fokus yang sempit, peran yang jelas, serta batas tanggung jawab yang terdefinisi, model ini membantu organisasi mengurangi beban operasional tanpa kehilangan kendali strategis.
Dalam skema ini, organisasi tetap memegang kebijakan keamanan, keputusan strategis, dan kepemilikan risiko. Sementara itu, operasional endpoint—mulai dari deteksi, analisis awal, hingga respons terkontrol—ditangani secara terkelola.
Dymar MES: Pilihan yang Disadari, Bukan Jalan Pintas
Penting untuk ditekankan bahwa pendekatan ini pun tidak cocok untuk semua organisasi. Dan justru di situlah nilainya. Dymar MES tidak diposisikan sebagai pengganti tim keamanan internal, melainkan sebagai opsi bagi organisasi yang ingin menjaga visibilitas endpoint tanpa harus membangun SOC sendiri, membutuhkan respons yang konsisten dan terukur, serta ingin memfokuskan energi internal pada pengambilan keputusan, bukan kelelahan operasional.
Ini bukan shortcut menuju keamanan sempurna. Ia adalah kompromi yang disadari antara keterbatasan kapasitas internal dan kebutuhan perlindungan yang nyata.
Penutup
Managed security bukan solusi universal, dan memang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Keamanan yang efektif selalu bergantung pada konteks organisasi, tingkat maturitas, serta kejelasan peran dan tanggung jawab.
Mengakui bahwa managed security tidak cocok untuk semua organisasi bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan dalam mengambil keputusan keamanan. Dalam banyak kasus, memilih ruang lingkup yang tepat—seperti endpoint—jauh lebih efektif daripada menyerahkan seluruh kendali tanpa batas yang jelas.
